Showing posts with label Keseharian. Show all posts
Showing posts with label Keseharian. Show all posts

Thursday, February 21, 2013

Sedekah, Sederhana & Santun

Nasehat baik bisa datang dari siapa saja dan kapan saja. Termasuk pada salah satu sesi acara pelatihan netpreneur. Nasehat itu : sedekah, sederhana dan santun.

Sedekah. Sedekah setiap hari. Saya percaya, dan mungkin anda juga, bahwa berbagi membuka banyak kebaikan. Kita bisa sedekah dalam bentuk materi ataupun dengan aktivitas lain yang bernilai sedekah.
Sederhana. Tidak berlebihan dalam bersikap dan bertingkahlaku. Tetap berlaku sederhana meskipun sudah sukses, berkecukupan dan terpandang.
Santun. Tetap santun dalam setiap kesempatan, kepada siapapun termasuk ketika berkomunikasi di media online.

Rendah hati salah satunya ditandai dengan mengakui kebenaran dan kemauan menerima nasehat yang baik.

Thursday, March 01, 2012

Bertandang ke Area Militer

Karena kewajiban dari perusahaan, sekira awal tahun ini saya berkesempatan singgah di Pusdikpom, Cimahi. Pusdikpom tak lain adalah Pusat Pendidikan Polisi Militer. Kami, saya dan teman-teman, selama 2 minggu mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang bertajuk Pelatihan Mental dan Kepribadian. Dari judul pelatihan pasti sudah terbayang apa isinya :)

Terlepas dari materi dan metode pelatihan yang tidak serta merta dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari, ada satu hal yang saya menjadi tambahan ilmu buat saya yaitu tentang kehidupan awak militer. Info yang selama ini hanya saya dapat dari berita-berita di media, waktu itu saya dapatkan langsung dengan mengalaminya (meski hanya dalam skala sangat kecil:) dan dari cerita bapak-bapak dan ibu-ibu TNI.

Tentang kehidupan militer di markas dan di lapangan, wah jangan ditanya :). Anda yang biasa hidup bersantai-santai akan dipaksa untuk teratur. Bangun tidur, makan pagi, apel & upacara, sikap duduk & berdiri, cara bertanya dan menjawab, sampai cara memegang alat mandipun semuanya diatur. Selama pelatihan tersebut salah satu hal yang sering terlintas di pikiran saya adalah : betapa bahagianya menjadi orang 'merdeka'.

Tentang kesejahteraan ? Saya rasa kondisinya mirip-mirip dengan PNS karena sama-sama abdi negara. Yang terlihat cukup berada adalah yang sudah memiliki jabatan tinggi mirip PNS dengan jabatan eselon 1 atau 2. Sesekali waktu bapak-bapak yang melatih kami itu sedikit curhat tentang perihal tersebut :)

Tentang kehidupan pribadi ? Mas-mas tentara terutama yang masih muda kebanyakan terlihat gagah perkasa :). Di luar tugasnya, tentara-tentara itu juga seperti warga sipil. Karena tugas, tentara-tentara ini tak jarang dipindahtempatkan. Bagi yang sudah berkeluarga tentu saja keluarga diajak serta. Yang sering jadi perhatian adalah anak-anak tentara yang harus berganti sekolah, mencari teman baru di tempat baru dan tentu saja harus adaptasi dengan lingkungan. Tak jarang perpindahan satu dengan perpindahan yang lain terjadi dalam interval waktu yang tidak terlalu lama.

Soal pengorbanan ? Wah ini yang seru :). Untuk dididik dan dilatih jadi tentara saja, bagi saya sudah merupakan satu pengorbanan besar. Mereka digembleng secara fisik, mental dan juga pengetahuan. Melepaskan atribut 'kemerdekaan' sebagai warga sipil untuk menjadi warga militer. Terlebih jika sudah ditugaskan di garis depan seperti di daerah konflik atau di daerah perbatasan.

Jadi, mulailah lebih menghargai bapak-bapak dan ibu-ibu tentara. Terlepas dari adanya oknum yang menyimpang, keterlibatan dalam dunia politik dsb, tugas asli tentara adalah hal mulia yaitu menjaga keamanan dan kedaulatan bangsa ini.

Hormaaaaaattt grak !

Saturday, September 24, 2011

Kembali ke Kampung Halaman

Hari ini masih termasuk ke dalam bulan Syawal. Tentu masih segar dalam ingatan, beberapa minggu yang lalu kita larut dalam hiruk pikuk pulang kampung atau mudik. Saya sendiri ? Sekarang saya tinggal di kampung halaman, Madiun :)

Sekitar 11 tahun lalu, saya merantau keluar kampung halaman untuk belajar dan kemudian bekerja. Dalam perjalanan itu selalu terbersit di benak saya untuk kembali ke kampung halaman untuk berkarya disana. Dengan skenario dari Allah yang indah, awal tahun ini saya bisa kembali dan berkarya di kampung halaman.

Madiun adalah kota yang tidak terlalu besar. Tidak banyak industri menonjol yang berada di Madiun. Sehingga karenanya kota ini tidak masuk ke dalam daftar favorit kota tujuan kerja seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Di sisi lain, timbul kesadaran agar orang-orang yang telah mengenyam pendidikan tinggi, umumnya di kota besar, kembali ke kampung halaman. Baik kampung halaman sendiri ataupun kampung halaman orang lain. Kembali ke kota asal untuk berkarya dan memajukan daerah. Baik dengan menjadi profesional maupun membangun bisnis. Mengejar ketertinggalan kota-kota kecil terlebih daerah pelosok. Membagi beban kota-kota besar yang makin terseok-seok menampung penghuninya. Sehingga diharapkan kesejahteraan makin mudah dijangkau, di kota kecil sekalipun. Dan semoga saya bisa menjadi bagian dari kesadaran tersebut.

Tuesday, March 11, 2008

Menikmati Hidup

"Nak, kenapa kamu seperti tergesa-gesa?" tanya Ibu.
"Tidak tergesa-gesa kok Bu. Aku sudah memperhitungkannya. Hanya saja masih banyak hal yang ingin aku capai" jawab sang Anak.
Saat pembicaraan itu selesai sang Anak pun kembali dalam sunyi dan ia berbicara dengan hatinya : "Dengan semua kesegeraan ini, bisakah aku menikmati hidupku?"

Be present

Anda yang sedang membaca tulisan ini hidup sejaman dengan saya. Anda hidup di jaman yang mengharuskan anda untuk bergerak serba cepat. Anda harus berlari mengejar bus, masuk dengan tergesa meski bus sudah penuh sesak agar tak terlambat sampai di kantor. Anda berusaha memangkas waktu agar penyelesaian tugas-tugas anda lebih cepat.

Anda pernah menonton film Click yang menampilkan Adam Sandler sebagai pemeran utamanya? Bagaimana jika anda mempunyai sebuah remote control yang bisa 'mengendalikan' hidup anda? Fast-forward adalah fitur paling menonjol yang ditampilkan dalam film tersebut. Fitur fast-forward memungkinkan pemakainya mempercepat 'bingkai' waktu dan mengabaikan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Jika anda mempunyai remote tersebut, anda bisa memencet tombol fast-forward dan membiarkan bos anda membanjirkan amarahnya, sedangkan anda sendiri tidak merasakan apa-apa.

Menjalani hidup dengan 'tergesa' mungkin tak masalah jika anda bisa menikmati setiap detik yang anda lalui. Tapi akan sangat sayang jika anda melewatkan begitu saja setiap momen yang berlalu di hadapan anda. Anda pasti tak mau kehilangan kenangan indah dengan orang-orang yang anda kasihi. Anda pasti tak mau juga kehilangan obrolan hangat dengan sahabat-sahabat anda.

Banyak orang yang sepakat bahwa 'jangan hidup di masa lalu'. Pengalaman masa lalu sudah sepantasnya dijadikan pelajaran berharga. Cukup diambil hikmahnya, tak usah diingat-ingat lagi hal-hal buruk apalagi yang bisa menyebabkan trauma. Tapi berapa banyak di antara kita yang justru terjebak hidup di masa depan? Tuntutan untuk membuat rencana masa depan seringkali membuat kita memandang jauh ke depan, terlalu jauh kadang. Sangat benar jika kita membuat rencana untuk kehidupan kita mendatang. Bukankah kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh kemampuannya merencana dan melakukan rencananya itu. Tapi jangan lupa bahwa kita (juga) hidup di masa sekarang.

Saya teringat akan sebuah artikel di salah satu media massa Indonesia. Artikel tersebut mengingatkan kita untuk menikmati apa yang sedang kita jalani sekarang. Be present, kata kuncinya. Be present bisa berarti jalani saja hidup saat sekarang. Bukan di masa lalu atau di masa yang akan datang. Be present bisa juga berarti jadilah hadiah dengan kehadiran anda. Jadilah hadiah dengan mendengarkan dengan santun saat orang yang anda kasihi berbicara dengan anda. Jadilah hadiah dengan membuat suasana menjadi ceria saat anda berkumpul dengan sahabat-sahabat anda. Jadilah hadiah dengan mengecup tangan orang tua anda dan berkata bahwa anda menyayanginya. Dan semua hal tersebut seringkali tidak dapat kita lakukan dalam ketergesaan.

Kura-kura

Katanya kura-kura berumur panjang karena berjalan lambat-lambat. Ia mungkin menikmati setiap langkahnya dengan membawa kerudung cangkang yang menyelimuti tubuhnya.

Ada orang yang sangat memuja kelambanan. Mereka seperti tak rela melihat waktu berjalan cepat. Mereka menghisap setiap sari kehidupan serta memeras setiap kesenangan dan kegetiran yang ada di dalamnya. Mereka menikmati betul setiap detik kehidupan yang mereka rasakan.

Ada orang yang memilih hidup mengalir seperti air dan ikut terbang kemanapun angin berhembus. Mereka mungkin menjadi antitesis dari kehidupan yang serba instan dan kering. Orang-orang mungkin menganggap mereka lamban dan tak punya tujuan hidup.

Setiap orang bebas memilih. Termasuk memilih untuk menjalani hidup dengan lamban. Yang jelas kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Hidup kita terlalu pendek untuk mengejar semua impian-impian, itupun kalau ada impian yang harus dikejar. Waktu kita terlampau sempit untuk melayani orang-orang dengan baik hingga kita pantas menjadi orang baik. Dan mungkin saja nafas kita tak cukup panjang untuk menuntaskan misi pribadi kita.

Timbangan

Kebijaksanaan dalam hidup ibarat timbangan dalam perniagaan. Ia yang digunakan untuk menakar kadar kecukupan. Kapan kita harus berani, kapan kita harus menunggu. Kapan kita berlari kencang, kapan kita harus duduk manis mendengarkan suara tetesan air. Dan kapan kapan yang lain.

Kualitas seseorang salah satunya ditentukan oleh kemampuan untuk menyeimbangkan segala sesuatu dalam hidupnya. Mengikuti kencangnya laju hidup sambil terus meresapi setiap yang dialami bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan kualitas jiwa yang mumpuni untuk terus memaknai setiap tindakan tanpa tergerus oleh putaran waktu yang semakin lama semakin kencang. Manusia memang seharusnya terus belajar. Dari dari proses pembelajaran yang ia lakukan, kebijaksanaan yang ada pada dirinya akan semakin matang.

Ada nasehat menarik dari Martin E.P Seligman dalam bukunya Authentic Happines. Untuk meningkatkan level kebahagiaan, paling tidak kita bisa melakukan hal-hal berikut : bersyukur, memaafkan dan meloloskan diri dari tirani determinisme demi meningkatkan emosi positif tentang masa lalu; belajar tentang harapan dan optimisme lewat penentangan demi menambah emosi positif tentang masa depan; dan penghentian habituasi, penerapan peresapan serta kecermatan untuk menambah kenikmatan masa sekarang.

Jadi, selamat menikmati hidup!

Tuesday, November 13, 2007

Wednesday, October 10, 2007

Sang Tukang Pukul Tiang Listrik (STPTL)

Bekerja dengan penuh komitmen dan motivasi akan berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Meskipun motivasi seseorang tidak bisa dilihat secara kasat mata, tetapi keberadaannya bisa ditelisik dari sikap dan perilaku orang saat bekerja. Dan keberadaan motivasi yang tinggi inilah, yang membuat seseorang -yang tak bisa saya sebut namanya karena memang saya tidak tahu yang mana orangnya- dengan sepenuh hati dan segenap jiwa, memukulkan batang yang berbahan logam ke tiang listrik di sepanjang jalan depan rumah tinggal saya.

Ceritanya, saya sekarang tinggal di sebuah rumah kost. Saya mendapat kamar paling depan. Ukurannya lumayan luas dibandingkan dengan kamar-kamar yang lain di rumah kost tersebut. Karena letaknya paling depan, ventilasi kamar saya langsung berhubungan dengan udara luar. Meskipun sedikit percuma, karena udara Cilegon agak panas dan lembab.

Idealnya, sebuah kamar, tempat untuk istirahat, yang paling baik adalah yang paling tenang. Dan kamar yang terletak paling depan dan berdekatan dengan jalan adalah kamar yang paling banyak disinggahi polusi suara dari jalanan. Dan hal ini terkait dengan cerita di awal tulisan saya.

Sekarang-sekarang ini sedang berada dalam bulan Ramadhan. Sedikit banyak jam biologis tubuh berubah. Meski tidur sangat larut malam, saya akan 'sedikit' terbangun menjelang saat-saat sahur. Bangun tidur yang baik katanya yang 'tiba-tiba'. Karena, oksigen akan cepat menjalar ke otak dan membuat kita cepat tersadar. Tapi jikalau bangun tidur dan tersadar oleh sebuah suara dua buah logam yang beradu dengan sangat keras, percayalah, rasanya tidak enak.

Modus operandi yang dilakukan sang tukang pukul tiang listrik (STPTL) ini selalu sama. Dan cerita berikutnya adalah hasil rekaan saya melalui bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh STPTL. Mengapa demikian? Karena saya tidak melihat secara langsung 'kejahatan' yang dilakukan oleh STPTL ini.

Sepanjang jalan depan rumah kost saya, STPTL akan menyeret batang logam di atas jalan aspal. Suaranya cukup untuk pemanasan telinga. Beberapa kaki menjelang tiang listrik di depan kost saya, STPTL akan memantapkan langkahnya, memicingkan matanya dan mencari bagian mana dari tiang listrik yang akan menjadi sasaran pukulnya. Beberapa jengkal dari tiang listrik, STPTL akan menegakkan tubuhnya dan menarik nafas panjang. Batang logam digenggamnya dengan erat. Saatnya tiba. Diayunkannya batang logam itu ke udara dengan mantap. Dipukulkannya batang logam itu ke tiang listrik di depannya dengan sekeras-kerasnya. Senyum puas terlukis di sudut bibirnya. Suara logam beradu yang membahana ke seluruh penjuru kampung membuatnya bangga. Seakan-akan ia adalah penguasa kampung itu. Untung ia tidak mengencingi tiang listrik, sebagai tanda bahwa tiang listrik itu telah masuk ke wilayahnya.

Suara keras hasil aksi pukul STPTL terhadap tiang listrik bukan rekaan. Pagi ini, suara tersebut membuat saya terbangun dengan kondisi setengah sadar. Dalam kondisi setengah sadar pula saya mengambil beberapa lembar uang sambil menggerutu dalam hati. Keluar dari rumah, saya menyusuri jalan di belakang STPTL yang sedang menyeret sebuah batang logam -sepertinya linggis-. Saya tidak sempat memperhatikan tampilan bangun tidur saya. Yang jelas saya masih memakai pakaian lengkap dan potongan rambut saya masih pendek. Beberapa meter di belakang STPTL, saya menangkap siluet tubuhnya dengan pandangan yang masih kriyip-kriyip. Tak jelas seperti apa wajahnya memang. Tapi cukup mengobati rasa keingintahuan saya tentang STPTL. Sepertinya hanya seorang warga yang berbaik hati menjaga keamanan lingkungan dengan melakukan ronda. Di ujung jalan ia masih menyeret linggisnya dan berbelok ke kanan. Saya sendiri, yang sudah mulai waras, sesampainya di ujung jalan, berbelok ke kiri, ke arah rumah makan padang. Keputusan saya untuk mengambil sejumlah uang saat bangun tidur terbukti tepat karena berguna untuk membeli makan sahur.

Meski hati masih menggerutu bin dongkol akibat prosesi bangun tidur yang tidak wajar, syukurlah suasana sahur berjalan dengan enak. Bagi anda yang menonton TV saat bersantap sahur, pasti tahu sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Untuk ukuran sinetron, PPT menawarkan jalan cerita yang unik dan 'berisi', ciri khas tayangan-tayangan hasil besutan Deddy Mizwar. Dan tentu saja pemain-pemain PPT memberikan daya tarik tersendiri. Seperti teman kost saya -yang kebetulan mempunyai kamar di bagian depan dan bernasib sama akibat ulah STPTL- yang tak henti-hentinya mengagumi Zaskia Mecca. Meski mengeluh juga akibat ulah STPTL, teman saya itu akan mengacungkan kedua tangannya seraya berdoa ketika Zaskia Mecca muncul di layar kaca. Dan seseorang di antara penghuni rumah kost itu pun menyeletuk : "Sampai lebaran monyet, lo gak bakalan dapet Zaskia (Mecca)".

Wednesday, August 15, 2007

A Cup of Coffee Never Save Me

Notice : Tulisan di bawah ini adalah murni curhatan saya. Maka dari itu mohon dimaklumi atas kesemrawutan tata bahasa, kesalahan penggunaan kata-kata, ketidakjelasan tema, ketidakruntunan penyampaian dan ketidaknyamanan saat dibaca :).

Sebenarnya saya bukan penggila kopi, meski suatu ketika saya pernah sangat suka dengan minuman yang satu ini. Pahit, sangat harum dan sedikit asam. Meminum kopi dapat memacu kerja jantung, meningkatkan debit aliran darah dan ujung-ujungnya mengusir rasa kantuk. Dan untuk saya yang pernah merasakan bangku kuliah, manfaat ketiga itulah yang saya kejar. Meskipun efek yang saya rasakan tidak begitu signifikan, untuk tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Dengan dosis yang wajar, kafein yang terdapat dalam kopi ternyata memberikan efek yang positif bagi kesehatan tubuh. Tapi karena terdapat efek kecanduan yang ditimbulkan oleh kafein dan karena saya mempunyai tingkat denyut jantung di atas rata-rata, maka saya sebisa mungkin menjauhi minuman enak ini. Ditambah dengan efek samping kopi yang memacu produksi asam lambung maka sempurna sudah alasan untuk menghindari konsumsi kopi.

Tapi apa daya. Rekor tak menyentuh kopi selama kurang lebih 1 bulan, pecah juga. Semua bermula dari paham 'work hard, play hard'. Jangan diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia, akan sangat buruk translasi yang dihasilkan. Intinya bermain-main dengan sangat rajin untuk mengimbangi kerja yang sangat keras. Meski kerja tidak terlalu keras yang penting bermain dengan sangat rajin.

Meminjam istilah 'art for art sake' maka 'work for work sake' pun bukan pemikiran yang saya sepakati. Jika anda bekerja untuk orang lain atau di perusahaan maka anda akan tidak akan heran dengan ilustrasi ini. Anda bangun pagi-pagi kemudian menyiapkan perlengkapan untuk bekerja. Mandi, sarapan dan berangkat ke tempat kerja. Seringkali cahaya matahari belum sempat menyentuh muka bumi, anda sudah berlomba dengan ayam untuk mencari kehidupan. Selama di kantor, praktis anda terikat oleh jam kantor. Anda seringkali pulang lebih malam dari jam pulang ayam ke kandangnya. Sampai rumah, buat anda yang telah berkeluarga, maka keluarga adalah tempat yang tepat untuk berbagi kelelahan. Buat yang belum berkeluarga maka tempat tidur bukan tempat yang buruk juga untuk berbagi kelelahan. Jika anda membawa pulang PR dari tempat kerja, maka anda harus menunda berbagi kelelahan. Dan anda pun tidur agar keesokan harinya bisa bangun pagi dan bekerja kembali.

Tak dapat dipungkiri, bahwa hasil dari kerjalah yang menopang kehidupan anda. Tapi anda juga mempunyai kehidupan lain di samping pekerjaan anda. Anda tentu tak akan mau apabila terpaksa menolak ajakan berlibur dari teman anda yang sudah lama tak bertemu karena anda harus menyelesaikan pekerjaan anda. Dan itu adalah hari minggu. Kecuali memang ada pertimbangan lain yang membuat anda harus bekerja saat hari libur. Idealnya adalah bekerja dengan profesional tanpa meninggalkan kehidupan pribadi anda.

"Work hard, play hard" menawarkan suatu konsep keseimbangan antara bekerja dengan bermain atau bersenang-senang. Kedua-duanya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius. Bukan hanya bekerja saja yang membutuhkan keseriusan tetapi bersenang-senang juga. Tentu saja pengertian bersenang-senang disini akan berbeda untuk masing-masing pribadi. Ada yang mengartikulasikan bersenang-senang dengan tidur, pergi ke tempat wisata, melamun, bernyanyi, membaca buku sampai mengikuti pengajian. Jika bekerja merupakan cara anda untuk mengaktualisasikan diri dan memperoleh pemasukan, maka bermain adalah jalan untuk mengaktualisasikan diri juga tetapi memperbesar pengeluaran. Anda bisa memilih jenis kegiatan bermain atau bersenang-senang sesuai dengan seberapa besar pemasukan, gaya hidup dan yang tak kalah penting : masa depan yang anda cita-citakan.

Bagi saya, berjalan-jalan merupakan satu pilihan untuk bermain. Entah itu berjalan-jalan menggunakan dua kaki sendiri ataupun menumpang kaki-kaki kendaraan. Dan bagi saya perjalanan itu sendiri yang menjadi keseruan tersendiri melebihi keasyikan saat sampai di tempat tujuan. Tentu saja ada konsekuensi dari melakukan perjalanan yaitu keletihan badan.

Alkisah, setelah melakukan perjalanan, saya sampai di kota tempat saya bekerja dini hari menjelang pagi. Kali pertama, saya tiba dini hari karena berangkat dari kota tempat saya berjalan-jalan memang telah cukup larut malam. Kali kedua, saya tiba menjelang pagi karena saya baru terbangun di terminal pelabuhan Merak. Alhasil saya harus menumpang 1 angkutan umum lagi untuk menuju rumah. Dan kedua-duanya ada di hari Senin. Hari dimana banyak orang yang bekerja seperti saya ini sangat menyukainya. Di tempat saya bekerja, hari Senin adalah hari dimana rencana seminggu ke depan dibuat dan dibahas dalam rapat. Tentu bisa dibayangkan : pasokan tidur yang kurang, keletihan badan dipadu dengan pekerjaan yang cukup padat dan harus mengikuti rapat. Hasilnya adalah manusia dengan tiga perempat kantuk mengisi kepalanya.

Senin pertama, saya berhasil melewatinya dengan setengah selamat. Persiapan planning seminggu ke depan selesai dan saya berhasil untuk tetap terjaga sampai rapat selesai. Tapi tetap saja rasa kantuk membombardir tanpa ampun. Senin kedua, saya meminta mas office boy membuatkan secangkir kopi. Kopi hasil racikannya: kopi hitam pekat, sangat manis tapi bukan espresso. Efeknya langsung terasa meski tidak lama. Pekerjaan lebih cepat selesai tapi hasilnya pertahanan saya terhadap kantuk nyaris punah setelah makan siang. Saat rapatpun saya curi-curi istirahat. A cup of coffee couldn't save me that day. Dan naasnya, hari ini adalah hari ketiga saya memulai hari dengan secangkir kopi. Gara-gara tak tahan godaan mas office boy: "Mau dibuatin kopi Pak?".Halah.

Thanks to:

-Semua manusia yang telah bersedia menemaniku (dan mentraktir) jalan-jalan dalam 2 minggu terakhir : sahabat-sahabatku, sopir bus beserta kru termasuk bus kota, sopir angkot terutama angkot dari pelabuhan Merak, sopir dan kru busway, penjual koran, mas-mas penjaga tempat penitipan sepatu, pengelola tempat wisata, penjual es Goyobod dan dodol, penjual gado-gado dekat masjid Bulak Rantai, orang-orang yang baik rela atau tidak telah menjadi obyek foto saya dan menjadikan saya sebagai obyek foto. Orang-orang lain yang tidak berhasil saya ingat, yang telah membantu acara jalan-jalan saya.

-Mas Ajat, sang office boy, penyuplai teh sangat manis, kopi sangat pekat, coca-cola sangat dingin, pengharum ruangan sangat wangi.

Friday, August 10, 2007

Potret Mbah

Ia membuat saya sangat jengkel ketika pertama kali masuk kantor. Intonasi suaranya keras, medekati kasar malah. Postur badannya tidak terlalu tinggi tetapi kekar. Sorot matanya tajam, bahkan mirip orang yang senantiasa melotot sepanjang waktu. Sorot matanya yang tajam itu dibingkai dengan kacamata berlensa oval. Kumisnya tebal. Sangat cocok jika ia memakai baju loreng merah putih, celana tigaperempat dan celurit di balik pinggang. Meski saya tahu setelahnya ia bukan orang Madura, tetapi orang Jawa.

Kami memanggilnya Mbah. Pertama kali saya ada di kantor, saya memanggilnya Pak Sri. Saya tak tahu pasti darimana sebutan Mbah berasal. Mungkin saja karena ia adalah salah satu karyawan sejak perusahaan tempat saya bekerja pertama kali berdiri. Di saat dulu dimana sekitar pabrik masih berupa rawa-rawa, bisa dikatakan Mbah ikut 'mbabat suket' alias memotongi rumput (tentu saja dalam arti kiasan).

Sampai sekarang bicaranya tak begitu enak didengar. Bukan masalah isi bicaranya, tapi masalah penyampaiannya. Tetapi sekali bercerita, kadang bicaranya enak didengar juga.

Suatu sore, sembari menunggu pulang, Mbah bercerita tentang banyak hal. Mulai pengalamannya melihat 'penampakan' saat awal-awal bekerja di perusahaan hingga cerita 'ospek' yang dialaminya dulu. Bagaimana dengan keberaniannya ia berkeliling pabrik saat yang lainnya gentar meski hanya sampai bagian tengah pabrik karena hari telah malam. Bagaimana ia dulu adalah seorang operator mesin pembuat pipa baja hingga menjadi tetua di mesin tersebut. Tentang pengajuan pensiun dini yang Mbah ajukan beberapa tahun silam tetapi ditolak oleh bos-bosnya karena masih sangat dibutuhkan. Tentang prinsip kerjanya yang sangat sederhana : Mau ditempatkan dimana saja saya mau.

Mbah seseorang yang dipercayai oleh banyak orang. Sesuatu yang paling mudah terlihat adalah tentang uang. Mbah mungkin orang di kantor yang paling sering ke bank. Meski sering mengecek rekening pribadi, ia lebih sering melakukan transaksi titipan orang. Entah itu penarikan uang, setor atau hanya cek rekening. Mungkin mbah seperti kasir bank keliling. Meski tentu saja tak ada kasir yang bermuka gahar nan menakutkan:).

Melihatnya bekerja saya teringat Joni dalam film Janji Joni yang diperankan Nicholas Saputra. Tentu saja bukan faktor kemiripan wajah tetapi tampilan kerjanya. Pekerjaan Mbah adalah memastikan tersedianya bahan baku pipa baja sesuai proyek yang ada. Mbah memakai tas selempang besar berisi buku berukuran folio (bukan berisi rol film). Mengenakan pakaian setelan jeans dan sepatu boot. Ia berkendara memakai motor untuk bertemu dengan orang yang bertanggungjawab atas produksi rol baja di perusahaan induk (bukan memastikan rol film sampai tepat waktu). Meskipun menerima laporan berkala tentang produksi bahan baku yang dipesan, mbah tetap mengecek langsung terutama untuk proyek-proyek yang kritis. Ia akan mengejar rol baja sampai ke ujung dunia untuk memastikan tersedianya pasokan bahan baku.

Usianya 51 tahun sekarang. Ia telah bekerja di perusahaan lebih dari 30 tahun. Dan 4 tahun lagi Mbah dijadwalkan pensiun. Baru beberapa waktu yang lalu, beliau dipindahkan ke bagian lain. Dan sekarang masih dalam masa transisi tugas lama ke tugas yang baru. Melihatnya bekerja, seperti melihat sebuah potret perjuangan manusia yang digariskan tak ada yang persis satu sama lain. Dan bukankah kita juga sedang membuat potret untuk dilihat kelak di kemudian hari?

Friday, July 20, 2007

Panggil Aku Aulia (Saja) !

Nama panggilan diciptakan untuk memudahkan orang untuk menyebut nama. Entah itu diberikan oleh orang tua, diri sendiri ataupun orang lain. Anda mungkin pernah mengenal seseorang yang mempunyai hobi membuat nama panggilan yang sepintas seperti seenaknya sendiri. Jadi jangan heran kalau anda mendengar seorang manusia yang dipanggil dengan sebutan 'kroto' (bhs Jawa = semut rangrang kecil), seorang cowok bernama panggilan 'Yuti', nama 'Luqman' menjadi 'Lukboy' dengan analogi Superman yang dulu waktu kecil dipanggil 'Superboy' atau nama panggilan aneh bin ajaib : Tarsonson. Saya tidak akan membahas orang itu.

Nama panggilan saya sejak kecil adalah 'aan'. Entah darimana kata aan itu berasal. Tapi yang jelas itu pemberian orang tua saya. Orang tua saya biasa memanggil dengan nama panggilan 'aan' atau 'dik' atau 'mas' atau 'le'.

Waktu TK, praktis yang ada hanya 'aan'. Nama lengkap saya hanya terpajang indah pada akte kelahiran. Waktu SD saya bisa sedikit berbangga karena nama lengkap saya terpampang di badge nama seragam. Meski nama aan masih tetap saja berlalu-lalang setiap harinya. Waktu SMP, mulai ada satu dua orang yang memaksa memanggil selain nama panggilan resmi. Maka panggilan berbunyi 'al', 'ul' bahkan 'lia' sering terdengar. Saat SMA, 'aan' masih menjadi nama panggilan resmi saya dan hanya guru saya yang memanggil 'aulia'. Waktu kuliah, nama 'aulia' muncul saat dosen membaca absensi kuliah dan tentu saja saat wisuda.

Waktu pertama kali kerja, saya mempunyai niat agar dipanggil dengan nama 'aulia'. Alasannya sangat sederhana : agar tidak ada yang berpikir bahwa Aan dan Aulia itu 2 orang yang berbeda. Maka saya memperkenalkan diri sebagai Aulia. Meski sudah terlanjur menyebut diri sebagai 'aan' kepada teman-teman yang diterima kerja bersamaan, berikutnya saya selalu menyebut nama Aulia saat mengulurkan tangan dan berkenalan dengan orang lain. Lalu hari-hari dengan nama panggilan Aulia dimulai.

Selang beberapa lama, ada beberapa orang kantor yang mulai bertanya : nama panggilanmu siapa sih? Dengan berat hati maka nama 'aan' pun keluar kembali. Maka teman kerja saya memanggil : 'aan' atau 'ul'. Bos saya kadang menyebut 'aan', kadang 'aulia'. Saat rapat nama 'aulia' yang eksis. Bosnya bosnya bosnya bos saya memanggil saya dengan tambahan kata 'pak' menjadi Pak Aulia. Dan terakhir ibu kos saya memanggil dengan sebutan 'nak'. Tentu saja untuk semua anak kost yang tinggal di rumahnya :).

Friday, May 18, 2007

Berburu Pantai

Entah selera kami yang terlalu tinggi atau tidak ada orang lokal yang mampu menunjukkan pantai yang indah. Alih-alih mencari di Anyer, pagi itu kami mencoba mencari pantai yang indah di daerah Merak. 5 orang kurang kerjaan tapi kelebihan energi (termasuk saya) berangkat dari 'rumah tinggal sementara' menuju Merak.

Setelah perjalanan panjang menggunakan angkutan umum ditambah jalan kaki singkat cerita kami tiba di pantai yang direkomendasikan 'oknum tak berselera'. Tiba di pantai yang dimaksud, pertama kali yang terlintas di pikiran saya : "Ini yang namanya pantai??" seraya garuk-garuk kepala tak gatal. Dengan pasir pantai yang minim, ditambah background kapal tongkang di kejauhan ditambah ramainya pengunjung membuat selera berwisata langsung turun drastis.
Saya bertekad tidak akan mengabadikan gambar saya di pantai ini. Cukup gambar teman-teman saya saja. Saya cukup puas dengan menggoreskan nama saya di atas pasir. Berharap akan ikut hilang disapu ombak laut yang datang hiks.

Setelah cukup 'puas' menikmati 'keindahan' pantai, kamipun bergegas kembali ke kota. Mampir di sebuah rumah makan Sunda untuk mengisi perut lapar kami. Seorang dari kami yang berjenis kelamin perempuan berkata "Lihat sunset di mercusuar yuukk". Halah. Lha wong jalan-jalan yang barusan saja capeknya belum hilang, ini minta jalan-jalan lagi. Ini mungkin salah satu bukti perempuan lebih kuat jalan kaki daripada laki-laki untuk kasus-kasus tertentu seperti belanja atau berwisata. Akhirnya daripada teman perempuan kami ini menangis, terpaksa kami menurutinya.

Sebuah perjalanan panjang ke arah Anyer dimulai. Dan seperti yang saya perkirakan sebelumnya, kami mendapatkan sebuah 'perfect sunset'. Bukan sebuah jingganya sang surya tenggelam dengan suasana romantis tapi benar-benar matahari telah tenggelam dengan sempurna. Maksud hati hendak mengabadikan mercusuar berlatar belakang 'perfect sunset', apa dikata kameraku tak sanggup. Jadilah sebuah penampakan mercusuar.

Dengan lunglaipun kami kembali ke rumah. Menyusuri jalanan yang telah gelap. Lagi-lagi karena kemampuan kameraku yang tak mumpuni mengambil gambar dalam kondisi gelap, hanya gambar lampu jalan memayungi pohon yang menutup cerita perjalanan kami.
Doakan saya ya, agar bisa menemukan pantai yang benar-benar bagus.....^ ^

Sunday, April 29, 2007

4 kota, 7 musim

Saya bukan tipikal orang yang suka jalan-jalan apalagi melancong. Berpergian cukup seperlunya saja. Intinya tipikal orang rumahan. Bisa jadi ini yang membuat kemampuan spasial saya tidak terlalu bagus. Terbukti dengan seringnya saya tersasar entah dimana:). Tapi apa mau dikata, hingga kini saya telah merasakan tinggal di 4 kota.

Saya lahir dan besar di Madiun. Sebuah kota dataran rendah yang ada di Jawa Timur. Hawanya hangat, kehidupannya tidak terlalu ramai. Cocok untuk dijadikan persinggahan di hari tua :). Boleh dikatakan, kota ini menjadi setting masa kecil saya.

Kehidupan saya harus berpindah saat SMA. Tepatnya ke Bekasi. Saya tak tahu banyak tentang kota ini. Tak pernah berjalan-jalan jauh untuk mengenali kota ini. Hanya berputar-putar di sekitar kompleks sekolah yang kebetulan berada di sebuah kawasan industri. Saya tahu Bekasi kota yang ramai, tetapi keramaian itu tidak terlalu saya rasakan. Karena tempat saya bersekolah dan tinggal cukup tenang. Di kota ini, kesepian adalah kata yang jamak muncul meski keseruan hidup terpancar setiap harinya.

Bandung, Parijs van Java, adalah kota ketiga yang saya singgahi. Sebuah kota indah, tempat saya menjadi seorang mahasiswa. Soal kenangan, pasti banyak sekali yang bisa diceritakan. Boleh jadi sebagian besar isi otak saya sekarang adalah tentang kehidupan di Bandung ini. Dan Bandung akan tetap menjadi satu latar belakang kehidupan saya.

Dan sekarang, Cilegon. Sebuah kota di ujung Barat-Utara propinsi Banten. Tentu saja saya belum bisa bercerita banyak tentang kota ini karena baru beberapa kali 'main' ke 'kota' dan hanya sekali jalan-jalan ke Anyer. Yang jelas, udaranya sangat panas dan lembab. Jika sekarang-sekarang ini Bandung sering hujan lebat, di Cilegon cukup hujan rintik-rintik saja. Belum lama ini saya bertanya ke seorang bapak-bapak tentang panasnya kota Cilegon. Dengan santainya ia menjawab : "Oo, ini panasnya baru setengahnya Dik?"

Monday, April 02, 2007

Sisihan

Saya belum menemukan padanan kata 'sisihan' dalam bahasa Indonesia. Sisihan adalah kata dalam bahasa Jawa (setidaknya dipakai di daerah saya, Madiun) dari kata sisih yang berarti sisi. Saksisih artinya satu sisi. Untuk mengungkapkan apa itu arti sisihan, saya akan memakai sedikit ilustrasi. Jika anda masuk ke sebuah ruangan, lalu mencopot sepasang sandal anda. Lalu anda keluar dari ruangan itu dan berniat memakai kembali sepasang sandal anda. Anda adalah orang terakhir yang keluar dari ruangan itu dan anda menemukan bahwa sandal anda tidak sepasang lagi. Bisa jadi sandal kanan anda bersebelahan dengan sandal kiri empunya entah siapa, atau malah dua-duanya sandal sebelah kiri. Itu namanya sisihan. Kalau dua buah sandal tersebut bukan punya anda, itu berarti sepasang sandal anda hilang.

Sisihan bisa berarti lawan dari keserasian. Bisa jadi sangat tidak nyaman mengenakan sepasang sandal yang sisihan. Bisa jadi harus menahan malu jika memakai sandal yang dua-duanya adalah sandal sebelah kiri. "Mas, sandalnya model baru ya?" Bisa jadi lebih baik bertelanjang kaki alias nyeker daripada memakai sandal tapi sisihan. "Nyeker nggak kedinginan mas?" Kecuali jika terpaksa tak ada pilihan lagi melainkan memakai sandal yang sisihan. "Biarin sisihan, yang penting pake sandal".

Menghindari sisihan bukan berarti memakai sepasang benda yang sama persis. Sandal sebelah kiri tentu berbeda dengan sebelah kanan karena telapak kaki kiri berbeda dengan telapak kaki kanan. Kalau anting-anting kuping kanan dan kuping kiri dibuat sama, itu lain soal. Dibuat sama karena lebih bagus. Masalahnya bukan harus identik atau tidak tetapi meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Kalau kata pelajaran PPKN dulu : selaras, serasi, seimbang.

Menghindari sisihan berarti memasangkan satu pasang dengan pasangannya yang lain secara tepat. Bisa dengan satu, bisa dengan beberapa. Jika pada akhirnya anda harus memasangkan diri untuk memenuhi setengah agama, paling tidak jangan membuat diri anda menjadi pasangan yang sisihan :). "Bukan begitu mas?"

Friday, February 16, 2007

Coincidence

coincidence• noun 1 a remarkable concurrence of events or circumstances without apparent causal connection. 2 correspondence in nature or in time of occurrence.

Saat mata saya terlalu letih untuk terbuka karena belum terpejam sejak semalam, saya dipertemukan dengan hari jumat. Kali ini mata saya yang telah berat tak dibiarkan terpejam karena khotbah sang penceramah yang berkobar-kobar. Saya terselamatkan dari tidur saat khotbah jumat.

Saat saya sedang membutuhkan banyak gerak, stamina saya diuji. Bolak-balik dari satu gedung ke gedung lain, naik turun dari satu lantai ke lantai lain. Dua kali hampir basah kuyup kehujanan. Semoga semakin sehat, bukan semakin sakit.

Saat saya terburu-buru pergi ke gedung rektorat, ada angkot yang sedang berhenti. (Ini sudah biasa di gerbang belakang ITB). Sekilas pandang ada yang menarik dari angkot itu. Joknya berwarna merah muda tapi agak gelap bercampur ungu. Di jok itu (jok angkot maksudnya) sudah duduk seorang perempuan berkerudung senada dengan warna jok. Perempuan itu memaki semacam sweater berwarna belang merah muda dan abu-abu muda. Sangat match dengan joknya bukan?! Dan saat saya telah mendapatkan posisi duduk yang enak, angkot itupun melenggang kangkung meninggalkan gerbang belakang.

Angkot berjalan beberapa saat. Berhenti di gerbang belakang SBM ITB. Dua orang perempuan masuk ke angkot. Pasti anak ITB, terlihat dari baju olahraganya. Dan mereka angkatan 2006. Dua perempuan yang duduk di depan saya ini menyapa perempuan berkerudung merah bersweater belang merah muda-abu-abu yang ada di sebelah saya. Mereka ternyata sekelas. Dan tentu saja mereka bertiga mahasiswa angkatan 2006 ITB.

Sepanjang perjalanan menelusuri Taman Sari, suara cakap ketiga perempuan ini tidak bisa tidak masuk ke telinga, tak dapat dihiraukan. Terlalu keras. Standar obrolan anak muda (ITB) : kuliah, gosip, kehidupan baru di Bandung. Salah seorang perempuan yang duduk di depan saya tidak tahu arti kata 'gandeng' (bahasa Sunda) tapi mengerti kata 'sadayana' yang diucapkan seorang pengamen jalanan. Jangankan yang baru 7 bulan di Bandung, saya saja yang sudah lebih dari 4.5 tahun di Bandung, kosakata Sunda saya tidak bertambah secara signifikan.

Mendekati rektorat, suara mereka tetap saja keras. Sepertinya mereka sedang bertukar tanggal lahir. Sayup-sayup saya mendengar perempuan yang berkerudung merah menyebutkan : Mei 1989. Itu artinya, 4 tahun yang lalu saya seumuran dia sekarang atau 4 tahun lagi ia akan setua saya :).

Hidup bisa jadi serangkaian pilihan. Bisa juga kita bertaut dengan kejadian-kejadian yang tak mampu kita kendalikan. Kadang kejadian-kejadian bertaut itu bisa jadi menyenangkan:).

Tuesday, February 13, 2007

Dosen Pembimbing

Ini tentang dosen pembimbing saya. Kata orang, beliau jutek, galak dan seterusnya. Dan dosen pembimbing saya ini kata orang cocok dengan saya, karena saya, kata orang : jutek dan galak pula :). Meski beliau dosen di lab saya, Tugas Akhir inilah yang membuat saya semakin sering bertemu dengan beliau. Alhasil semua pekerjaan beliau yang membutuhkan bantuan baik berkaitan dengan TA maupun tidak, selalu melibatkan saya sebagai asistennya. Kenyataannya pekerjaan yang nomor dua yang lebih banyak saya kerjakan.

Waktu pertama kali mendapat dosen pembimbing beliau, kontrak perjanjian pertama adalah saya tidak bisa lulus lebih cepat dari Maret 2007. Dengan alasan akan melanjutkan S3 ke luar negeri, beliau akan cuti di tengah membimbing saya. Alih-alih melanjutkan S3, beliau dinyatakan hamil dan akhirnya tetap saja harus cuti saat mendekati kelahiran putrinya. Jadwal membimbing saya yang harusnya Februari - Maret diteruskan Agustus dan seterusnya menjadi Februari-Juni diteruskan Januari (2007) dan seterusnya. Alhasil, saat beliau cuti saya harus mengerjakan TA sendiri dengan hanya sesekali saling berbalas email. Mungkin karena sudah percaya dengan saya, mungkin juga karena tidak begitu mengerti dengan apa yang saya kerjakan. Praktis pekerjaan saya selama hampir setahun dibeberkan lengkap saat beliau masuk lagi pada awal bulan Januari 2007, yang notabene tanggal 29 Januari adalah batas terakhir pendaftaran sidang sarjana. Jelas saja waktu yang kurang dari sebulan itu dimanfaatkan dosen pembimbing saya untuk 'memugar' tugas akhir saya. Meski tidak banyak tetap saja membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk memperbaikinya. Satu hal yang membuat saya salut dengan beliau : detail. Mulai dari ejaan, tabel, gambar sampai memperbaiki abstrak bahasa Inggris saya :). Sampai menjelang pengumpulan draft TA pun beliau masih menyempatkan memeriksa lagi. Hasilnya: satu kalimat lagi harus terbuang dari draft TA saya.

Saat sidang, satu hal yang saya takuti adalah meracau. Alhamdulillah, sidang TA dimudahkan, hingga saya tidak bisa meracau lebih dari 1 jam. Persediaan jawaban untuk merespon pertanyaan yang mungkin muncul, praktis tak terpakai. Soal revisi setelah sidang, karena sebelum mengumpulkan draft telah direparasi habis-habisan, saya cukup menambahkan satu paragraf di TA saya. Lumayan juga, tidak harus menge-print semuanya dari awal.

Setelah sidang, kontrak saya dengan beliau belum habis. Sembari menunggu maret, masih ada yang harus dikerjakan. Makasih bu!

-Ternyata capek juga ya ngerjain TA, meski akhirnya happy ending:)

Friday, October 06, 2006

Ramadhan hari III

Tumpukan buku ada di sudut ruangan. Mungkin buku tua. Panas, pengap. Ventilasi tidak membiarkan udara berlalu bebas. Semua tersangkut oleh debu yang memenuhi kawat kasa. Aku tidak mendengar suaranya ketika ia tiba-tiba meloncat ke arahku. Sesaat aku melihat kepalan tangannya. Tapi terlalu cepat untuk aku menghindar. Pukulannya mengenai pelipisku.
"Apa maksudmu?"
Ia meloncat lagi ke arahku. Kali ini kilatan cahaya dari sebuah gunting mengenai mataku. Matanya menyala tajam. Gunting mengarah ke leherku. Ia pasti tak hendak membunuhku. Dinginnya baja terasa di leherku. Ia hanya menempelkan gunting itu di leherku.
"Tak bisakah kita bicara dengan baik?"
Ia meloncat kembali ke belakang, meletakkan gunting itu dan kembali ke arahku. Ia mencekikku kali ini. Tapi aku pikir ia tak hendak membunuhku lagi.
"Apa maumu?"
"Aku sedang puasa!"
Ia memukulku sebelum ia berbelok dan lari keluar. Aku terlalu lemah untuk melawan. Ruangan masih panas. Orang-orang hanya menonton aku dihajar oleh orang tolol itu. Ingin rasanya aku mengacungkan jari tengah. Sialan. Tapi aku sedang puasa.
"Jadi bagaimana Pak? Kita harus bagaimana sekarang? Ada cermin Pak? Rasanya pelipisku berdarah. Ada tissu?"
Aku pusing. Tak tahu harus berbuat apa. Orang-orang yang menontonku dihajar tadi terus bicara. Aku tak tahu mereka bicara apa.
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih."
Aku terhuyung di jalan sebelum masuk ke angkot. Ternyata dunia juga diwarnai dengan seorang laki-laki kecil, jelek, jabrik, yang hanya bisa berbicara dengan pukulan, bersenandung dengan kebohongan, yang melihat kekerasan sebagai solusi terbaik dari masalah. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang menghajarku tadi. Tapi ternyata dunia tak seburuk itu. Apa perlu aku ceritakan kalau di angkot itu ada seorang perempuan berlesung pipi berpakaian merah muda, tersenyum padaku, ketika aku memijit-mijit pelipisku yang terlihat memerah di kaca spion supir angkot. Masih indah bukan.

****

"Hayo ayah...Perempuan itu siapa?"
"Lagipula kenapa ayah ada di tempat itu? Kok tidak melawan?"
"Tanya ibumu saja. Pasti ia tahu siapa perempuan itu."
"Ah ayah."
"Ayo sekarang kalian pergi tidur. Besok pagi harus bangun sahur."
"Besok cerita lagi ya Yah."
"Pasti."

Monday, September 25, 2006

Selamat Berpuasa

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Saya mohon maaf atas semua kekhilafan. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat berpuasa.

Friday, September 15, 2006

Photo of the day



Hajar terus Pak!!! Sikat aja!!! Jangan dikasih ampun!!! Huehehe.

Selamat buat saudaraku Mas Trian yang sudah lulus mendahului saya ;).

Wednesday, September 13, 2006

Besi











Beberapa, mempunyai bakat yang begitu besar hingga tidak perlu bersusah payah untuk menemukannya. Beberapa, harus disiplin dan kerja keras untuk memunculkannya. Yang manakah anda?

Cerita perjalanan

Saya tidak tahu apakah hal ini baik atau buruk.

Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya bepergian ke daerah Jakarta Utara sendirian. Menyusuri bagian utara Jakarta Utara yang menyemburkan bau anyir atau amis (saya juga tidak tahu itu jenis bau apa). Angkot-angkot yang saya tumpangi tak jauh beda dengan angkot-angkot yang biasa saya kendarai di Bandung. Tapi ada beberapa hal aneh ketika saya 'berjalan' di daerah utara Jakarta Utara ini.

Pertama. Orang Jakarta biasanya sangat individualis. Itu stereotip. Entah karena ketatnya persaingan atau memang keturunan. Hal itu bisa dilihat dari sopir-sopir bajaj yang saling tidak mau mengalah sambil menaruh kaki kirinya di 'dashboard' bajaj dengan santainya. Atau teriakan-teriakan kernet yang memekakkan telinga memaksa orang memasuki busnya. Atau bunyi-bunyi klakson dari kendaraan yang terus saja meraung padahal semua orang yang tumpah ruah disitu tahu kalau sedang macet. Tapi di hari saya melakukan perjalanan itu ada hal yang membuat saya sedikit termenung. Ketika saya menanyakan apa yang harus saya kendarai dari daerah Kelapa Gading ke daerah Pluit, orang-orang yang saya tanyai menjawab saya dengan sangat sangat ramah. Begitu juga ketika di bus kota. Kernet akan melambatkan waktu berhenti-jalan bus ketika ada orang yang sudah sepuh hendak naik atau turun. Orang-orang akan rela menyerahkan tempat duduknya ke orang yang sudah sepuh agar orang yang sudah sepuh tersebut lebih nyaman mengendarai kendaraan yang sebenarnya tak lagi layak pakai ini. Jadi tidak hanya seperti yang kita lihat di salah satu iklan rokok yang berjargon 'Buktikan merahmu' saja. Sampai tahap ini, sisi individualis dari orang-orang Jakarta tidak terlihat. Mungkin saya memang sedang tidak bisa melihatnya.

Kedua. Masih berkaitan dengan paragraf di atas. Kenapa banyak orang-orang sepuh yang bepergian sendiri di kota seramai ini. Apakah memang mereka tidak mempunyai keluarga yang paling tidak bisa mengantarkan mereka bepergian memakai kendaraan umum yang jarang nyaman ini. Saya melihatnya sebagai salah satu hal yang tidak biasa. Kenapa tidak biasa, karena dari 2 kota yang saya tinggali (Madiun dan Bandung) kejadian orang sepuh 'berjalan-jalan' sendiri sangat jarang terjadi. Untuk negara dengan tingkat aksesibilitas bagi orang cacat dan lanjut usia sangat rendah seperti Indonesia ini, kejadian tersebut sangat memprihatinkan (minimal buat saya). Jika di negara Eropa sarana publik sangat memperhatikan faktor aksesibilitas untuk orang cacat dan lanjut usia, maka sangat wajar jika orang-orang cacat dan lanjut usia bepergian sendirian. Di samping karena orang-orangnya juga individualistis. Tapi di negara kita, yang sarana publiknya sangat 'sederhana' ini, yang asal ada tanpa memperhatikan penggunanya, yang masyarakatnya katanya kolektif, bagaimana bisa orang-orang lanjut usia dibiarkan bepergian sendirian. Aneh.

Karena sendirian, saya banyak merenung selama bepergian di tatar Sunda Kelapa itu. Hanya sesekali bercakap untuk memastikan saya tidak akan tersesat di kota sebesar ini. Dan dalam perenungan itu saya menemukan hal-hal baik yang ada di sekitar hal yang 'kurang baik'. Dan hal-hal 'kurang baik' yang bergumul dengan hal-hal baik. Sebenarnya saya ingin menuliskan hal lebih banyak lagi. Tapi cukuplah sampai disini cerita perjalanan saya di tatar Sunda Kelapa itu.

Friday, September 08, 2006

Apresiasi Sastra

Tak mau dicap sebagi sok nyastra memang, hanya ingin memberikan apresiasi pada karya sastra. Pertama kali melihat tulisan kuliah Apresiasi Sastra berikut nilai-nilai akhir peserta kuliah di salah satu sudut gedung di ITB, langsung berpikir " Wah ada juga ya kuliah kayak gini. Boleh juga nih dicoba."

Terus terang bukan karena nilai, walaupun katanya kuliah-kuliah dari Sostek (Sosioteknologi) ITB disebut kejar paket A karena mudah sekali mendapatkan nilai A. Murni karena rasa ingin tahu. Dan juga karena ingin meluaskan pandangan yang selama ini 'cuma' berkutat dengan perkuliahan Teknik Industri. Hanya itu.

Untuk ukuran mata kuliah 1 semester, kuliah ini sangat padat dalam artian banyak sekali bahan yang akan disampaikan. Meskipun tak akan sedalam bahan yang disampaikan kepada mahasiswa jurusan sastra, tapi cukuplah memberikan pengetahuan 'apa itu sastra' dan 'bagaimana menghargainya'.

Dan untuk mahasiswa yang senang berfilsafat, maka kuliah ini sedikit banyak akan cocok dengan jiwanya. Maka 2 kali pertemuan kuliah ini, kepala saya sangat pusing saat dosen membahas tentang Postmodernism dsb. Atau sekedar mengutip kata Aristoteles : Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan. Pfuih.

Dan sebagai informasi saja, mata kuliah ini diadakan setiap hari Rabu jam 1 siang atau setelah kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi. Mata kuliah yang saya rekomendasikan buat teman-teman yang suka menulis. Lumayan rame meski banyak tugas.