coincidence• noun 1 a remarkable concurrence of events or circumstances without apparent causal connection. 2 correspondence in nature or in time of occurrence.
Saat mata saya terlalu letih untuk terbuka karena belum terpejam sejak semalam, saya dipertemukan dengan hari jumat. Kali ini mata saya yang telah berat tak dibiarkan terpejam karena khotbah sang penceramah yang berkobar-kobar. Saya terselamatkan dari tidur saat khotbah jumat.
Saat saya sedang membutuhkan banyak gerak, stamina saya diuji. Bolak-balik dari satu gedung ke gedung lain, naik turun dari satu lantai ke lantai lain. Dua kali hampir basah kuyup kehujanan. Semoga semakin sehat, bukan semakin sakit.
Saat saya terburu-buru pergi ke gedung rektorat, ada angkot yang sedang berhenti. (Ini sudah biasa di gerbang belakang ITB). Sekilas pandang ada yang menarik dari angkot itu. Joknya berwarna merah muda tapi agak gelap bercampur ungu. Di jok itu (jok angkot maksudnya) sudah duduk seorang perempuan berkerudung senada dengan warna jok. Perempuan itu memaki semacam sweater berwarna belang merah muda dan abu-abu muda. Sangat match dengan joknya bukan?! Dan saat saya telah mendapatkan posisi duduk yang enak, angkot itupun melenggang kangkung meninggalkan gerbang belakang.
Angkot berjalan beberapa saat. Berhenti di gerbang belakang SBM ITB. Dua orang perempuan masuk ke angkot. Pasti anak ITB, terlihat dari baju olahraganya. Dan mereka angkatan 2006. Dua perempuan yang duduk di depan saya ini menyapa perempuan berkerudung merah bersweater belang merah muda-abu-abu yang ada di sebelah saya. Mereka ternyata sekelas. Dan tentu saja mereka bertiga mahasiswa angkatan 2006 ITB.
Sepanjang perjalanan menelusuri Taman Sari, suara cakap ketiga perempuan ini tidak bisa tidak masuk ke telinga, tak dapat dihiraukan. Terlalu keras. Standar obrolan anak muda (ITB) : kuliah, gosip, kehidupan baru di Bandung. Salah seorang perempuan yang duduk di depan saya tidak tahu arti kata 'gandeng' (bahasa Sunda) tapi mengerti kata 'sadayana' yang diucapkan seorang pengamen jalanan. Jangankan yang baru 7 bulan di Bandung, saya saja yang sudah lebih dari 4.5 tahun di Bandung, kosakata Sunda saya tidak bertambah secara signifikan.
Mendekati rektorat, suara mereka tetap saja keras. Sepertinya mereka sedang bertukar tanggal lahir. Sayup-sayup saya mendengar perempuan yang berkerudung merah menyebutkan : Mei 1989. Itu artinya, 4 tahun yang lalu saya seumuran dia sekarang atau 4 tahun lagi ia akan setua saya :).
Hidup bisa jadi serangkaian pilihan. Bisa juga kita bertaut dengan kejadian-kejadian yang tak mampu kita kendalikan. Kadang kejadian-kejadian bertaut itu bisa jadi menyenangkan:).
Friday, February 16, 2007
Tuesday, February 13, 2007
Dosen Pembimbing
Ini tentang dosen pembimbing saya. Kata orang, beliau jutek, galak dan seterusnya. Dan dosen pembimbing saya ini kata orang cocok dengan saya, karena saya, kata orang : jutek dan galak pula :). Meski beliau dosen di lab saya, Tugas Akhir inilah yang membuat saya semakin sering bertemu dengan beliau. Alhasil semua pekerjaan beliau yang membutuhkan bantuan baik berkaitan dengan TA maupun tidak, selalu melibatkan saya sebagai asistennya. Kenyataannya pekerjaan yang nomor dua yang lebih banyak saya kerjakan.
Waktu pertama kali mendapat dosen pembimbing beliau, kontrak perjanjian pertama adalah saya tidak bisa lulus lebih cepat dari Maret 2007. Dengan alasan akan melanjutkan S3 ke luar negeri, beliau akan cuti di tengah membimbing saya. Alih-alih melanjutkan S3, beliau dinyatakan hamil dan akhirnya tetap saja harus cuti saat mendekati kelahiran putrinya. Jadwal membimbing saya yang harusnya Februari - Maret diteruskan Agustus dan seterusnya menjadi Februari-Juni diteruskan Januari (2007) dan seterusnya. Alhasil, saat beliau cuti saya harus mengerjakan TA sendiri dengan hanya sesekali saling berbalas email. Mungkin karena sudah percaya dengan saya, mungkin juga karena tidak begitu mengerti dengan apa yang saya kerjakan. Praktis pekerjaan saya selama hampir setahun dibeberkan lengkap saat beliau masuk lagi pada awal bulan Januari 2007, yang notabene tanggal 29 Januari adalah batas terakhir pendaftaran sidang sarjana. Jelas saja waktu yang kurang dari sebulan itu dimanfaatkan dosen pembimbing saya untuk 'memugar' tugas akhir saya. Meski tidak banyak tetap saja membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk memperbaikinya. Satu hal yang membuat saya salut dengan beliau : detail. Mulai dari ejaan, tabel, gambar sampai memperbaiki abstrak bahasa Inggris saya :). Sampai menjelang pengumpulan draft TA pun beliau masih menyempatkan memeriksa lagi. Hasilnya: satu kalimat lagi harus terbuang dari draft TA saya.
Saat sidang, satu hal yang saya takuti adalah meracau. Alhamdulillah, sidang TA dimudahkan, hingga saya tidak bisa meracau lebih dari 1 jam. Persediaan jawaban untuk merespon pertanyaan yang mungkin muncul, praktis tak terpakai. Soal revisi setelah sidang, karena sebelum mengumpulkan draft telah direparasi habis-habisan, saya cukup menambahkan satu paragraf di TA saya. Lumayan juga, tidak harus menge-print semuanya dari awal.
Setelah sidang, kontrak saya dengan beliau belum habis. Sembari menunggu maret, masih ada yang harus dikerjakan. Makasih bu!
-Ternyata capek juga ya ngerjain TA, meski akhirnya happy ending:)
Waktu pertama kali mendapat dosen pembimbing beliau, kontrak perjanjian pertama adalah saya tidak bisa lulus lebih cepat dari Maret 2007. Dengan alasan akan melanjutkan S3 ke luar negeri, beliau akan cuti di tengah membimbing saya. Alih-alih melanjutkan S3, beliau dinyatakan hamil dan akhirnya tetap saja harus cuti saat mendekati kelahiran putrinya. Jadwal membimbing saya yang harusnya Februari - Maret diteruskan Agustus dan seterusnya menjadi Februari-Juni diteruskan Januari (2007) dan seterusnya. Alhasil, saat beliau cuti saya harus mengerjakan TA sendiri dengan hanya sesekali saling berbalas email. Mungkin karena sudah percaya dengan saya, mungkin juga karena tidak begitu mengerti dengan apa yang saya kerjakan. Praktis pekerjaan saya selama hampir setahun dibeberkan lengkap saat beliau masuk lagi pada awal bulan Januari 2007, yang notabene tanggal 29 Januari adalah batas terakhir pendaftaran sidang sarjana. Jelas saja waktu yang kurang dari sebulan itu dimanfaatkan dosen pembimbing saya untuk 'memugar' tugas akhir saya. Meski tidak banyak tetap saja membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk memperbaikinya. Satu hal yang membuat saya salut dengan beliau : detail. Mulai dari ejaan, tabel, gambar sampai memperbaiki abstrak bahasa Inggris saya :). Sampai menjelang pengumpulan draft TA pun beliau masih menyempatkan memeriksa lagi. Hasilnya: satu kalimat lagi harus terbuang dari draft TA saya.
Saat sidang, satu hal yang saya takuti adalah meracau. Alhamdulillah, sidang TA dimudahkan, hingga saya tidak bisa meracau lebih dari 1 jam. Persediaan jawaban untuk merespon pertanyaan yang mungkin muncul, praktis tak terpakai. Soal revisi setelah sidang, karena sebelum mengumpulkan draft telah direparasi habis-habisan, saya cukup menambahkan satu paragraf di TA saya. Lumayan juga, tidak harus menge-print semuanya dari awal.
Setelah sidang, kontrak saya dengan beliau belum habis. Sembari menunggu maret, masih ada yang harus dikerjakan. Makasih bu!
-Ternyata capek juga ya ngerjain TA, meski akhirnya happy ending:)
Tuesday, January 02, 2007
Sebuah Cerita : Sekali Waktu di Halte Bus
Rintik tak kunjung berhenti. Tak ada tanda-tanda akan reda. Hujan terus mengguyur. Meninggalkan bau tanah yang sedap. Hujan pun masih tak sempat menyampaikan isyarat kepada awan yang berangsur-angsur dijadikannya tiada [1]. Air menghilangkan jejak-jejak debu di atas tanah, trotoar dan lantai halte bus. Lantai dimana aku berdiri sekarang.
Dingin tak kunjung berhenti. Tak ada tanda-tanda akan sirna. Angin terus berhembus. Meninggalkan semilir yang menusuk tulang. Jaketpun tak sempat menyampaikan kata-kata berhenti kepada angin yang terus membekukannya. Udara mencipratkan air hujan ke tempat duduk, koran bekas dan abang penjual gorengan. Manusia dimana aku terdiam di sebelahnya sekarang.
Matari tak jua tenggelam. Tak ada pertanda hari akan gelap. Cahayanya terus enggan bersinar. Meninggalkan terang yang tak lagi benderang. Katak tak sempat menyampaikan teriakannya kepada lalu lalang kendaraan yang mengaburkan suaranya. Api membakar tembakau dalam lintingan kertas, asap mengalir lewat campuran cengkeh dan masuk ke dada pemuda itu. Pemuda yang membuat aku terbatuk dalam tiap hembusan udaranya.
Ia tak jua datang. Tak ada langkah-langkah kecilnya. Waktu terus berputar girang. Meninggalkanku menunggu yang tak lagi sabar. Koin-koin detik tak sempat bergemerincing di saku-saku otakku yang mulai berkisut. Denting membisu dalam jam tanganku, mengelindan, mengirimkan cahaya bekunya ke mataku, ke syarafku, ke otakku. Ia yang membuat aku menunggu dalam tiap harap yang semakin cemas.
Lupa tak jua sirna. Tak ada kesempatan untuk mengubur. Memori terus menyeruak cepat. Mengingatkanku pada semua tentang ia. Bibir tak sempat mengucapkan namanya kala kaki melangkah meninggalkan perpisahan yang indah. Potongan-potongan masa menyatu, beranyam dan melebur dalam kanvas ingatanku. Kanvas yang meninggalkan begitu banyak warna yang kusam.
Ia tak jua datang. Tak ada pancar warnanya. Keinginan terus mendesak kuat. Membekukanku dalam tiap kata yang tak pernah terucap. Tangan tak sempat berujar ketika semua telah terlambat untuk diubah dengan segenap hati. Hanya Tuhan yang mengingatkan, membimbing dan menuntunku dalam tiap jejak langkahku. Jejak langkah di atas pasir lembut kehidupan.
Bukan ia tapi ia. Dan ia tak jua datang.
Koin-koin waktu telah penuh hingga tak bergemerincing lagi. Ia masih tak jua datang.
Waktu tak jua melambat. Tak ada sela yang dibiarkannya bercecer. Menyapu tiap jiwa tanpa pernah mengucap permisi. Pikiran tak sempat mencerna ketika semua alasan tertumpah ruah untuk menghibur diri yang resah. Hanya hati yang berbisik, ia akan datang, ia akan melangkah, karena ia yang menyuruhmu menunggu disini. Di tempat kau sedang menanti.
Langkahnya tak jua jenjang. Tak ada tanah panjang berlalu di bawah kakinya. Memastikan likunya yang hanya pendek. Kain tak sempat menghalangi tetesan air menimpa badannya langsung. Seorang anak kecil berjalan di sampingnya, menggandeng tangannya dan berjalan cepat-cepat. Tanyaku : siapa gerangan anak kecil itu?
Hujan tak lagi merambati tubuhnya (dan tubuh anak kecil itu). Tak ada sesuatu pun padaku untuk menyambutnya. Aku tak sempat berbuat apapun sebelum atau saat sedang berada di bawah atap ini. Akhirnya tanya tak sempat terhalang dari lidah untuk diteruskan ke bibir. Tentang anak kecil yang berjalan di sampingnya dan menggandeng tangannya tadi. Tanyaku (dengan senyum) : siapa ia?
Sunyi tak lagi terpatri. Tak ada hening lagi antara aku dan halte bus ini. Membuatku mempunyai sesuatu lain untuk menyambutnya. Ia tak sempat duduk untuk menjawab tanyaku. Jawaban keluar dari hatinya, berbinar-binar : Aku menemukannya di jalan saat orang-orang bergegas. Tak ada yang memperhatikannya. Ia terlihat bingung. Dan ternyata benar, ia tersesat, terpisah dari ibunya. Ia terlalu takut untuk bertanya, hingga hanya berdiam diri dan tak ada seorangpun yang melihatnya. Lalu aku mengajaknya. Ingin aku mengantarnya.
Ah ia masih saja baik. Bukankah untuk perempuan, kebaikan adalah kecantikan tambahan.
Ia meneruskan : Lalu karena ia juga tidak ingat jalan pulang, maka aku mengajak serta menemuimu. Ia hanya ingat daerah tempatnya tinggal, tapi tak ingat sedikitpun jalan pulang. Aku sempat bertanya ke beberapa orang. Mereka tahu, tapi terlalu rumit buatku. Dan karena sepertinya ia telah percaya padaku, maka aku ajak serta menemuimu. Kupikir engkau telah tahu kota ini, jadi pasti tak kesulitan untuk menemaniku mengantarnya pulang. Lagipula aku telah berjanji untuk menemuimu kan.
Ia menjelaskan dengan sangat jelas, seterang mentari yang kini telah beranjak. Ia cerdas. Untuk wanita, kecerdasan adalah kecantikan tambahan [2]. Dan ia masih saja cerdas.
Bimbang tak lagi menggerumuti diri. Tak ada lagi penantian yang tak jelas. Membuatku bertanya tentang semua ini. Aku tak sempat berhenti mengaguminya. Hanya waktu yang akan menguliti semua bisu waktu yang mengalir. Kami berjalan, meninggalkan halte dan abang penjual gorengan dan segala dingin yang tertinggal di sana. Tak hendak kami kemana-mana, hanya ingin mengantarkan anak kecil itu ke pangkuan orang tuanya, setelah kami bersinggah ke rumah Tuhan : Sholat Maghrib.
Lampu-lampu jalan pasti menyiram kepala kami. Memayungi setiap langkah kami yang entah sampai kapan masih tetap berdiri di atas bumi. Semoga Tuhan menghendaki.
[1] Kata -kata dari puisi karangan Sapardi Djoko Damono: Aku ingin
[2] Kata-kata diambil dari novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer
Dingin tak kunjung berhenti. Tak ada tanda-tanda akan sirna. Angin terus berhembus. Meninggalkan semilir yang menusuk tulang. Jaketpun tak sempat menyampaikan kata-kata berhenti kepada angin yang terus membekukannya. Udara mencipratkan air hujan ke tempat duduk, koran bekas dan abang penjual gorengan. Manusia dimana aku terdiam di sebelahnya sekarang.
Matari tak jua tenggelam. Tak ada pertanda hari akan gelap. Cahayanya terus enggan bersinar. Meninggalkan terang yang tak lagi benderang. Katak tak sempat menyampaikan teriakannya kepada lalu lalang kendaraan yang mengaburkan suaranya. Api membakar tembakau dalam lintingan kertas, asap mengalir lewat campuran cengkeh dan masuk ke dada pemuda itu. Pemuda yang membuat aku terbatuk dalam tiap hembusan udaranya.
Ia tak jua datang. Tak ada langkah-langkah kecilnya. Waktu terus berputar girang. Meninggalkanku menunggu yang tak lagi sabar. Koin-koin detik tak sempat bergemerincing di saku-saku otakku yang mulai berkisut. Denting membisu dalam jam tanganku, mengelindan, mengirimkan cahaya bekunya ke mataku, ke syarafku, ke otakku. Ia yang membuat aku menunggu dalam tiap harap yang semakin cemas.
Lupa tak jua sirna. Tak ada kesempatan untuk mengubur. Memori terus menyeruak cepat. Mengingatkanku pada semua tentang ia. Bibir tak sempat mengucapkan namanya kala kaki melangkah meninggalkan perpisahan yang indah. Potongan-potongan masa menyatu, beranyam dan melebur dalam kanvas ingatanku. Kanvas yang meninggalkan begitu banyak warna yang kusam.
Ia tak jua datang. Tak ada pancar warnanya. Keinginan terus mendesak kuat. Membekukanku dalam tiap kata yang tak pernah terucap. Tangan tak sempat berujar ketika semua telah terlambat untuk diubah dengan segenap hati. Hanya Tuhan yang mengingatkan, membimbing dan menuntunku dalam tiap jejak langkahku. Jejak langkah di atas pasir lembut kehidupan.
Bukan ia tapi ia. Dan ia tak jua datang.
Koin-koin waktu telah penuh hingga tak bergemerincing lagi. Ia masih tak jua datang.
Waktu tak jua melambat. Tak ada sela yang dibiarkannya bercecer. Menyapu tiap jiwa tanpa pernah mengucap permisi. Pikiran tak sempat mencerna ketika semua alasan tertumpah ruah untuk menghibur diri yang resah. Hanya hati yang berbisik, ia akan datang, ia akan melangkah, karena ia yang menyuruhmu menunggu disini. Di tempat kau sedang menanti.
Langkahnya tak jua jenjang. Tak ada tanah panjang berlalu di bawah kakinya. Memastikan likunya yang hanya pendek. Kain tak sempat menghalangi tetesan air menimpa badannya langsung. Seorang anak kecil berjalan di sampingnya, menggandeng tangannya dan berjalan cepat-cepat. Tanyaku : siapa gerangan anak kecil itu?
Hujan tak lagi merambati tubuhnya (dan tubuh anak kecil itu). Tak ada sesuatu pun padaku untuk menyambutnya. Aku tak sempat berbuat apapun sebelum atau saat sedang berada di bawah atap ini. Akhirnya tanya tak sempat terhalang dari lidah untuk diteruskan ke bibir. Tentang anak kecil yang berjalan di sampingnya dan menggandeng tangannya tadi. Tanyaku (dengan senyum) : siapa ia?
Sunyi tak lagi terpatri. Tak ada hening lagi antara aku dan halte bus ini. Membuatku mempunyai sesuatu lain untuk menyambutnya. Ia tak sempat duduk untuk menjawab tanyaku. Jawaban keluar dari hatinya, berbinar-binar : Aku menemukannya di jalan saat orang-orang bergegas. Tak ada yang memperhatikannya. Ia terlihat bingung. Dan ternyata benar, ia tersesat, terpisah dari ibunya. Ia terlalu takut untuk bertanya, hingga hanya berdiam diri dan tak ada seorangpun yang melihatnya. Lalu aku mengajaknya. Ingin aku mengantarnya.
Ah ia masih saja baik. Bukankah untuk perempuan, kebaikan adalah kecantikan tambahan.
Ia meneruskan : Lalu karena ia juga tidak ingat jalan pulang, maka aku mengajak serta menemuimu. Ia hanya ingat daerah tempatnya tinggal, tapi tak ingat sedikitpun jalan pulang. Aku sempat bertanya ke beberapa orang. Mereka tahu, tapi terlalu rumit buatku. Dan karena sepertinya ia telah percaya padaku, maka aku ajak serta menemuimu. Kupikir engkau telah tahu kota ini, jadi pasti tak kesulitan untuk menemaniku mengantarnya pulang. Lagipula aku telah berjanji untuk menemuimu kan.
Ia menjelaskan dengan sangat jelas, seterang mentari yang kini telah beranjak. Ia cerdas. Untuk wanita, kecerdasan adalah kecantikan tambahan [2]. Dan ia masih saja cerdas.
Bimbang tak lagi menggerumuti diri. Tak ada lagi penantian yang tak jelas. Membuatku bertanya tentang semua ini. Aku tak sempat berhenti mengaguminya. Hanya waktu yang akan menguliti semua bisu waktu yang mengalir. Kami berjalan, meninggalkan halte dan abang penjual gorengan dan segala dingin yang tertinggal di sana. Tak hendak kami kemana-mana, hanya ingin mengantarkan anak kecil itu ke pangkuan orang tuanya, setelah kami bersinggah ke rumah Tuhan : Sholat Maghrib.
Lampu-lampu jalan pasti menyiram kepala kami. Memayungi setiap langkah kami yang entah sampai kapan masih tetap berdiri di atas bumi. Semoga Tuhan menghendaki.
[1] Kata -kata dari puisi karangan Sapardi Djoko Damono: Aku ingin
[2] Kata-kata diambil dari novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer
Sunday, December 24, 2006
Musikalisasi Puisi
Udara Bandung yang dingin ditambah hujan gerimis yang mengguyur tubuh, ditambah dengan suasana otak tertekan akibat banyaknya yang harus dikerjakan ditambah di rumah sepi seorang diri serta paduan mie instan plus secangkir kopi pekat, menghasilkan reaksi yang aneh. Otak saya konslet. Lagi-lagi mengerjakan sesuatu yang aneh. Anehnya lagi, hal itu terjadi ketika saya sedang gemar-gemarnya mengerjakan TA ;p. Ketika kerumunan angka di layar komputer membuat kepala saya pening, saya mencoba untuk beristirahat dan mengambil gitar kesayangan saya. Dan alhasil, malam itu saya melakukan Musikalisasi Puisi. Hahahaha.
Ambil gitar, duduk di lantai di atas karpet, genjrang-genjreng, coretan-coretan TA di sebelah kiriku dan kumpulan puisinya Sapardi Djoko Damono di sebelah kananku. Ternyata yang sebelah kanan lebih menarik perhatian. Sedikit kilas balik sebentar. Saya sempat bertemu dengan seseorang yang mempunyai grup musikalisasi puisi dan rencananya pada tahun baru nanti akan mengisi di sebuah acara sunatan masal. Mungkin karena berinteraksi dengan beliau inilah saya jadi pingin mencoba apa itu musikalisasi puisi. Dan malam itulah saya mengadakan pertunjukan musikalisasi puisi sendiri di kamar kontrakan sendiri tanpa penonton:D. Dan karena kebetulan ada 2 puisi yang paling saya suka dari Sapardi Djoko Damono : Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni, maka kedua puisi itulah yang saya jadikan bahan musikalisasi puisi. Dan hasilnya sangat tidak mengecewakan. Tiap bait kata yang ada di puisi masuk ke dalam nada yang saya nyanyikan (meski tentu saja sedikit fals) dengan sangat indah:). Akhir pertunjukan, saya berteriak-teriak histeris sendiri dan tanpa tepuk tangan tentunya. Pfuih, lumayan untuk ukuran pemula, hehehe.
Begitu mulai bosan di dalam kamar kontrakan, saya pindah ke ruang tengah, yang waktu itu belum menjadi garasi motor karena penghuni lain yang membawa motor belum pulang. Duduk di atas meja, genjrang genjreng lagi. Mencoba memainkan kord-kord gitar yang saya kenal. Tiba pada suatu genjrengan : "Lha, ini kan lagu yang saya ciptain dulu pas SMA, huahaha.". Jadi ceritanya, dulu pas SMA saya tinggal di asrama. Tinggal sekamar dengan seorang teman, laki-laki tentunya. Pada suatu hari, teman saya mendapatkan sebuah surat dari temannya. Dan temannya teman saya itu menyertakan sebuah puisi di suratnya. Dan puisi itu dibacakan oleh teman saya di dalam kamar. Komentar saya (dalam hati) : Puisi terbaik yang pernah saya dengar. Maklum waktu itu masih belum kenal pak Goenawan Mohamad, om Taufik Ismail ataupun eyang Sapardi Djoko Damono. Jadilah puisi itu menjadi kajian sastra bagi kami sekamar yang masih cupu itu. Baca sana, baca sini itu puisi, akhirnya terbit sebuah ide : Bagaimana kalau dibuat lagu. Sepertinya bagus. Akhirnya bermodal sebuah gitar, puisi itu kami gubah menjadi sebuah lagu. Hasilnya: Lumayan. Lagu itu bertahan selama berminggu-minggu sebagai pemuncak lagu favorit di kamar asrama saya dan terus dinyanyikan terutama di kamar mandi. Tapi sayang, sekarang saya tak ingat sedikitpun puisinya, hanya sedikit iramanya saja. Kalau tidak salah puisi itu berisi tentang cinta dan perjuangan (alah!). Dan ketika malam saya melakukan pertunjukan musikalisasi puisi di kamar kontrakan sendiri itulah, saya tersadar bahwa saya pernah melakukan sebuah musikalisasi puisi sebelumnya. Huehehe. Bravo, bravo. Hebatnya ;p.
Ternyata saat otak sedang ruwet sekalipun, masih ada jalan untuk bersenang-senang sendiri. Murah meriah, apalagi kalau sedang sendiri sedangkan di luar malam telah larut dan hujan tak jua reda. Cobalah melakukan hal-hal aneh yang menyenangkan. Siapa tahu bisa menghubungkan pikiran kita ke kenangan-kenangan indah masa lalu. Please try this at home:).
Ambil gitar, duduk di lantai di atas karpet, genjrang-genjreng, coretan-coretan TA di sebelah kiriku dan kumpulan puisinya Sapardi Djoko Damono di sebelah kananku. Ternyata yang sebelah kanan lebih menarik perhatian. Sedikit kilas balik sebentar. Saya sempat bertemu dengan seseorang yang mempunyai grup musikalisasi puisi dan rencananya pada tahun baru nanti akan mengisi di sebuah acara sunatan masal. Mungkin karena berinteraksi dengan beliau inilah saya jadi pingin mencoba apa itu musikalisasi puisi. Dan malam itulah saya mengadakan pertunjukan musikalisasi puisi sendiri di kamar kontrakan sendiri tanpa penonton:D. Dan karena kebetulan ada 2 puisi yang paling saya suka dari Sapardi Djoko Damono : Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni, maka kedua puisi itulah yang saya jadikan bahan musikalisasi puisi. Dan hasilnya sangat tidak mengecewakan. Tiap bait kata yang ada di puisi masuk ke dalam nada yang saya nyanyikan (meski tentu saja sedikit fals) dengan sangat indah:). Akhir pertunjukan, saya berteriak-teriak histeris sendiri dan tanpa tepuk tangan tentunya. Pfuih, lumayan untuk ukuran pemula, hehehe.
Begitu mulai bosan di dalam kamar kontrakan, saya pindah ke ruang tengah, yang waktu itu belum menjadi garasi motor karena penghuni lain yang membawa motor belum pulang. Duduk di atas meja, genjrang genjreng lagi. Mencoba memainkan kord-kord gitar yang saya kenal. Tiba pada suatu genjrengan : "Lha, ini kan lagu yang saya ciptain dulu pas SMA, huahaha.". Jadi ceritanya, dulu pas SMA saya tinggal di asrama. Tinggal sekamar dengan seorang teman, laki-laki tentunya. Pada suatu hari, teman saya mendapatkan sebuah surat dari temannya. Dan temannya teman saya itu menyertakan sebuah puisi di suratnya. Dan puisi itu dibacakan oleh teman saya di dalam kamar. Komentar saya (dalam hati) : Puisi terbaik yang pernah saya dengar. Maklum waktu itu masih belum kenal pak Goenawan Mohamad, om Taufik Ismail ataupun eyang Sapardi Djoko Damono. Jadilah puisi itu menjadi kajian sastra bagi kami sekamar yang masih cupu itu. Baca sana, baca sini itu puisi, akhirnya terbit sebuah ide : Bagaimana kalau dibuat lagu. Sepertinya bagus. Akhirnya bermodal sebuah gitar, puisi itu kami gubah menjadi sebuah lagu. Hasilnya: Lumayan. Lagu itu bertahan selama berminggu-minggu sebagai pemuncak lagu favorit di kamar asrama saya dan terus dinyanyikan terutama di kamar mandi. Tapi sayang, sekarang saya tak ingat sedikitpun puisinya, hanya sedikit iramanya saja. Kalau tidak salah puisi itu berisi tentang cinta dan perjuangan (alah!). Dan ketika malam saya melakukan pertunjukan musikalisasi puisi di kamar kontrakan sendiri itulah, saya tersadar bahwa saya pernah melakukan sebuah musikalisasi puisi sebelumnya. Huehehe. Bravo, bravo. Hebatnya ;p.
Ternyata saat otak sedang ruwet sekalipun, masih ada jalan untuk bersenang-senang sendiri. Murah meriah, apalagi kalau sedang sendiri sedangkan di luar malam telah larut dan hujan tak jua reda. Cobalah melakukan hal-hal aneh yang menyenangkan. Siapa tahu bisa menghubungkan pikiran kita ke kenangan-kenangan indah masa lalu. Please try this at home:).
Saturday, December 16, 2006
Media
Don't wanna be an American idiot.
Don't want a nation under the NEW media.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind f**k America
Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Well maybe I'm the faggot AMERICA
I'm not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It's calling out to idiot America.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue
American Idiot by Green Day
Berawal dari keisengan membuka sebuah website televisi. Di situs itu terpampang pengumuman rekruitmen karyawan baru yang bertitel Broadcaster Development Program (BDP). Selidik punya selidik ada kalimat di situs itu : Kami informasikan kepada anda, untuk rekruitmen tetap dibuka sampai dengan tanggal 15 December 2006. Ha, itu berarti 15 menit yang lalu. Mungkin memang belum saatnya :).
Stasiun TV dan media pada umumnya, memberikan saya ketertarikan tersendiri. Apa alasannya, mungkin biar saya simpan sendiri:). Yang jelas, media seperti halnya ladang bisnis lainnya merupakan salah satu impian orang untuk bekerja atau berkarir. Pun saya, meski media bukan satu-satunya.
Seperti sudah sifatnya, media selalu dekat dengan kekuasaan. Media yang saya maksud disini adalah media yang hidupnya berkesinambungan dan mapan. Dulu ketika Departemen Penerangan -almarhum ayah saya kerja di departemen ini- masih ada, segala berita disaring oleh Departemen ini. Hingga tiap berita yang menyangkut pemerintah adalah berita yang 'baik'. Bukan hanya berita di TV tapi juga di koran dan majalah. Intinya media waktu itu dikuasai oleh pemerintah.
Meminjam kata-kata Noam Chomsky:
In a totalitarian state, it doesn't matter what people think, since the government can control people by force using a bludgeon. But when you can't control people by force, you have to control what people think, and the standard way to do this is via propaganda (manufacture of consent, creation of necessary illusions), marginalizing the general public or reducing them to apathy of some fashion.
Dari pernyataan Chomsky tersebut, jelas bahwa media adalah salah satu alat kekuasaan. Menilik kembali ke negeri kita tercinta, Indonesia. Jelas sekarang Departeman Penerangan sudah tidak ada, yang ada hanya Komisi Penyiaran. Itupun tugasnya bukan mengarahkan media tapi hanya mengawasi. Sampai disini mungkin media bukan lagi menjadi alat kekuasaan pemerintah kita. Tapi mungkin saja media masih menjadi alat kekuasaan Negara, hanya kita -terutama saya- tidak merasakannya. Meski demikian, kembali ke sifat media. Ia adalah alat kekuasaan. Siapa yang berkuasa dan menguasainya, itu yang sering tidak diketahui.
Saya tidak akan membahas jaringan konspirasi global atau dunia. Lagipula saya tidak punya cukup pengetahuan tentang itu ;). Saya akan coba bahas dari yang saya ketahui. Media baik cetak maupun elektronik membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk tetap hidup. Saya pernah mendapat sebuah data -tapi lupa darimana asalnya dan kapan- tentang biaya operasional sebuah stasiun TV. Katanya, setiap harinya menghabiskan tak kurang dari 1 M untuk biaya operasional. Secara logika, untuk tetap hidup, pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran, minimal sama. Untuk itu pastinya, pemasukan yang berasal entah berasal dari iklan atau sumber lainnya, tak kalah besar dari biaya operasionalnya. Sampai disini, kita melihat media sebagai salah satu bisnis, tak ubahnya dengan perusahaan-perusahaan profit lainnya. Dan mungkin itu adalah sejatinya media.
Karena membutuhkan dana yang tak sedikit untuk tetap hidup, maka media akan dekat dengan sang empunya sumber dana (logis kan??). Dan karena ia bergantung dengan sang empunya dana, maka sang empunya dana ini bisa mengendalikan media (logis lagi kan??). Karena itu media tergantung dengan yang menguasainya. Jika yang menguasai pemerintah yang 'buruk', maka media akan digunakan untuk menutupi keburukan dan membalikkan pikiran masyarakat, hingga memandang sesuatu yang 'buruk' menjadi sesuatu yang baik dan bahkan mendukungnya. Jika sang penguasa adalah pemilik modal yang tamak, maka media tak ubahnya menjadi sapi perah untuk memenuhi pundi-pundi emasnya. Tak peduli seburuk apapun kualitas berita dan tontonan yang disajikan, asalkan itu laku tak jadi masalah. Jika penguasa media adalah seorang yang 'jahat' maka ia akan menyebarkan pikiran-pikiran jahatnya. Begitu juga sebaliknya. Jika yang menguasai media adalah orang yang baik, maka ia akan menyebarkan kebaikannya. Jadi tinggal siapa yang kuat.
Jadi jika anda adalah orang yang baik, maka anda juga harus menjadi orang yang kuat --kayak gak nyambung:D
Wallahu a'lam.
Don't want a nation under the NEW media.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind f**k America
Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Well maybe I'm the faggot AMERICA
I'm not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.
Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It's calling out to idiot America.
Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue
American Idiot by Green Day
Berawal dari keisengan membuka sebuah website televisi. Di situs itu terpampang pengumuman rekruitmen karyawan baru yang bertitel Broadcaster Development Program (BDP). Selidik punya selidik ada kalimat di situs itu : Kami informasikan kepada anda, untuk rekruitmen tetap dibuka sampai dengan tanggal 15 December 2006. Ha, itu berarti 15 menit yang lalu. Mungkin memang belum saatnya :).
Stasiun TV dan media pada umumnya, memberikan saya ketertarikan tersendiri. Apa alasannya, mungkin biar saya simpan sendiri:). Yang jelas, media seperti halnya ladang bisnis lainnya merupakan salah satu impian orang untuk bekerja atau berkarir. Pun saya, meski media bukan satu-satunya.
Seperti sudah sifatnya, media selalu dekat dengan kekuasaan. Media yang saya maksud disini adalah media yang hidupnya berkesinambungan dan mapan. Dulu ketika Departemen Penerangan -almarhum ayah saya kerja di departemen ini- masih ada, segala berita disaring oleh Departemen ini. Hingga tiap berita yang menyangkut pemerintah adalah berita yang 'baik'. Bukan hanya berita di TV tapi juga di koran dan majalah. Intinya media waktu itu dikuasai oleh pemerintah.
Meminjam kata-kata Noam Chomsky:
In a totalitarian state, it doesn't matter what people think, since the government can control people by force using a bludgeon. But when you can't control people by force, you have to control what people think, and the standard way to do this is via propaganda (manufacture of consent, creation of necessary illusions), marginalizing the general public or reducing them to apathy of some fashion.
Dari pernyataan Chomsky tersebut, jelas bahwa media adalah salah satu alat kekuasaan. Menilik kembali ke negeri kita tercinta, Indonesia. Jelas sekarang Departeman Penerangan sudah tidak ada, yang ada hanya Komisi Penyiaran. Itupun tugasnya bukan mengarahkan media tapi hanya mengawasi. Sampai disini mungkin media bukan lagi menjadi alat kekuasaan pemerintah kita. Tapi mungkin saja media masih menjadi alat kekuasaan Negara, hanya kita -terutama saya- tidak merasakannya. Meski demikian, kembali ke sifat media. Ia adalah alat kekuasaan. Siapa yang berkuasa dan menguasainya, itu yang sering tidak diketahui.
Saya tidak akan membahas jaringan konspirasi global atau dunia. Lagipula saya tidak punya cukup pengetahuan tentang itu ;). Saya akan coba bahas dari yang saya ketahui. Media baik cetak maupun elektronik membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk tetap hidup. Saya pernah mendapat sebuah data -tapi lupa darimana asalnya dan kapan- tentang biaya operasional sebuah stasiun TV. Katanya, setiap harinya menghabiskan tak kurang dari 1 M untuk biaya operasional. Secara logika, untuk tetap hidup, pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran, minimal sama. Untuk itu pastinya, pemasukan yang berasal entah berasal dari iklan atau sumber lainnya, tak kalah besar dari biaya operasionalnya. Sampai disini, kita melihat media sebagai salah satu bisnis, tak ubahnya dengan perusahaan-perusahaan profit lainnya. Dan mungkin itu adalah sejatinya media.
Karena membutuhkan dana yang tak sedikit untuk tetap hidup, maka media akan dekat dengan sang empunya sumber dana (logis kan??). Dan karena ia bergantung dengan sang empunya dana, maka sang empunya dana ini bisa mengendalikan media (logis lagi kan??). Karena itu media tergantung dengan yang menguasainya. Jika yang menguasai pemerintah yang 'buruk', maka media akan digunakan untuk menutupi keburukan dan membalikkan pikiran masyarakat, hingga memandang sesuatu yang 'buruk' menjadi sesuatu yang baik dan bahkan mendukungnya. Jika sang penguasa adalah pemilik modal yang tamak, maka media tak ubahnya menjadi sapi perah untuk memenuhi pundi-pundi emasnya. Tak peduli seburuk apapun kualitas berita dan tontonan yang disajikan, asalkan itu laku tak jadi masalah. Jika penguasa media adalah seorang yang 'jahat' maka ia akan menyebarkan pikiran-pikiran jahatnya. Begitu juga sebaliknya. Jika yang menguasai media adalah orang yang baik, maka ia akan menyebarkan kebaikannya. Jadi tinggal siapa yang kuat.
Jadi jika anda adalah orang yang baik, maka anda juga harus menjadi orang yang kuat --kayak gak nyambung:D
Wallahu a'lam.
Tuesday, December 12, 2006
Bangsaku, bangsaku
Paling enak meringkuk di bawah selimut, apalagi di bawah udara Bandung yang dingin. Tapi jikalau meringkuk karena kepala berat dan berputar-putar maka keenakannya akan jauh berkurang. Ditambah mendengarkan siaran radio yang materinya cukup berat untuk ukuran siaran pagi. Menurut survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga tentang persepsi masyarakat tentang lembaga terkorup menghasilkan 3 lembaga yang cukup familiar dengan kita. Ketiga lembaga itu antara lain -saya tidak ingat urutan pastinya- : DPR, Kejaksaan dan Kepolisian. Kontan saja, kepala saya ikut memikirkannya dan ujung-ujungnya tambah pusing. Pingin mematikan radio sayang, ada wacana bagus untuk tambahan pengetahuan. Tidak dimatikan, informasi-informasi yang keluar dari mulut radio itu berjejalan masuk lewat kuping dan ikut memenuhi otak. Alhasil, saya biarkan ia -radio saya- berkoar-koar yang ujung-ujungnya membuat saya tidak bisa terlelap.
Jika anda sedang bersantai di pagi hari, coba dengarkan acara Risalah Pagi di MQ FM. Lumayan bisa menambah cakrawala berpikir kita. Seringkali materi yang diperbincangkan bagus dan tentu saja terkini. Seperti tadi pagi, membicarakan tentang persepsi masyarakat tentang lembaga terkorup.
Karena acaranya dikemas dalam bentuk perbincangan, tentu saja ada narasumber dan pirsawan yang urun memberikan pendapatnya. Ada yang mengatakan, bahwa beberapa oknum wartawan yang suka memeras pejabat. Ada juga pejabat yang sengaja membuat proyek-proyek tambahan untuk menghabiskan dana. Dengan dalih, dana yang ada harus habis dan apabila tidak dihabiskan maka tahun depan tidak akan mendapatkan kucuran dana yang serupa. Dan beberapa informasi lain yang tidak dapat saya tangkap dengan jelas.
Tentang proyek-proyek yang diadakan untuk menghabiskan dana ini, saya punya sedikit pengalaman menarik. Bersinggungan secara langsung -atau tidak langsung??- dengan proyek-proyek semacam ini. Salah satunya proyek yang diset sebagai proyek akhir tahun sehingga penggarapannya terkesan terburu-buru. Sebelum tutup buku, dalihnya. Apapun yang terjadi proyek ini harus jalan. Satu proyek yang lain terkesan juga 'lucu'. Saya yang notabene telah tutup kontrak dengan proyek ini, tiba-tiba diminta menghitung ulang kelayakannya. Sebelum sempat menanyakan alasannya, saya diberi jawabannya : karena nilai investasinya terlalu kecil serta dana yang tersedia jauh lebih besar. Alhasil, nilai investasi yang awalnya 400an juta membengkak -atau dibengkakkan?- menjadi 3 milyar kurang 13 juta. Saya awalnya kaget. Tapi karena hasilnya layak juga, apa boleh buat.
Perasaan terkagum-kagum, risih, bingung, marah dan perasaaan-perasaan tak jelas lainnya bercampur baur. Kenapa dana yang ada harus dihabiskan? Kenapa jikalau memang tidak terpakai dikembalikan saja ke negara buat tahun depan? Kenapa mesti mengeluarkan investasi yang besar untuk obyek yang sebenarnya tidak memerlukannya? Dan kenapa-kenapa lainnya sampai pusing sendiri. Dengan semangat berpikir baik : mungkin dengan menghabiskan dana dan investasi lebih besar maka pembangunan yang dilakukan akan lebih baik. ??. Ah memang pikiranku belum sampai.
Ingin rasanya tidur meringkuk di bawah selimut dan terbangun saat bangsa ini telah menjadi bangsa yang mulia. Ah tapi tak mungkin. Sementara ini hanya bisa menggumam : bangsaku, bangsaku.
Wallahu a'lam.
Jika anda sedang bersantai di pagi hari, coba dengarkan acara Risalah Pagi di MQ FM. Lumayan bisa menambah cakrawala berpikir kita. Seringkali materi yang diperbincangkan bagus dan tentu saja terkini. Seperti tadi pagi, membicarakan tentang persepsi masyarakat tentang lembaga terkorup.
Karena acaranya dikemas dalam bentuk perbincangan, tentu saja ada narasumber dan pirsawan yang urun memberikan pendapatnya. Ada yang mengatakan, bahwa beberapa oknum wartawan yang suka memeras pejabat. Ada juga pejabat yang sengaja membuat proyek-proyek tambahan untuk menghabiskan dana. Dengan dalih, dana yang ada harus habis dan apabila tidak dihabiskan maka tahun depan tidak akan mendapatkan kucuran dana yang serupa. Dan beberapa informasi lain yang tidak dapat saya tangkap dengan jelas.
Tentang proyek-proyek yang diadakan untuk menghabiskan dana ini, saya punya sedikit pengalaman menarik. Bersinggungan secara langsung -atau tidak langsung??- dengan proyek-proyek semacam ini. Salah satunya proyek yang diset sebagai proyek akhir tahun sehingga penggarapannya terkesan terburu-buru. Sebelum tutup buku, dalihnya. Apapun yang terjadi proyek ini harus jalan. Satu proyek yang lain terkesan juga 'lucu'. Saya yang notabene telah tutup kontrak dengan proyek ini, tiba-tiba diminta menghitung ulang kelayakannya. Sebelum sempat menanyakan alasannya, saya diberi jawabannya : karena nilai investasinya terlalu kecil serta dana yang tersedia jauh lebih besar. Alhasil, nilai investasi yang awalnya 400an juta membengkak -atau dibengkakkan?- menjadi 3 milyar kurang 13 juta. Saya awalnya kaget. Tapi karena hasilnya layak juga, apa boleh buat.
Perasaan terkagum-kagum, risih, bingung, marah dan perasaaan-perasaan tak jelas lainnya bercampur baur. Kenapa dana yang ada harus dihabiskan? Kenapa jikalau memang tidak terpakai dikembalikan saja ke negara buat tahun depan? Kenapa mesti mengeluarkan investasi yang besar untuk obyek yang sebenarnya tidak memerlukannya? Dan kenapa-kenapa lainnya sampai pusing sendiri. Dengan semangat berpikir baik : mungkin dengan menghabiskan dana dan investasi lebih besar maka pembangunan yang dilakukan akan lebih baik. ??. Ah memang pikiranku belum sampai.
Ingin rasanya tidur meringkuk di bawah selimut dan terbangun saat bangsa ini telah menjadi bangsa yang mulia. Ah tapi tak mungkin. Sementara ini hanya bisa menggumam : bangsaku, bangsaku.
Wallahu a'lam.
Sunday, December 10, 2006
Bab I : Pendahuluan
Belum ada bahan untuk melanjutkan kisah Sang Arsitek:). Tapi juga, sebenarnya sedang mencoba untuk menegur diri sendiri secara halus : Kapan selesai TA-nya? Kapan sidang? Kapan wisuda? Terus kapan-kapan yang lainnya lagi. Alkisah, bab 1 TA saya sudah selesai entah beberapa bulan yang lalu. Sudah disetujui oleh dosen pembimbing dengan beberapa perbaikan. Bahkan saya sampai lupa, dulu menulis apa di bab 1 tersebut. Entah kenapa sampai sekarang TA yang seharusnya 'cuma' 6 bab itu tak kunjung selesai juga. Mulai dari sulitnya mencari literatur yang pas, menemukan dosen yang ahli di bidang ini tapi -sayangnya- saya tidak bisa mendapat banyak dari beliau, pembangunan software yang semoga saja bisa cepat selesai sampai dosen pembimbing saya yang entah kapan akan muncul kembali dari cutinya.
Berbicara mengenai Bab 1 : pendahuluan, sehebat atau seremeh apapun penelitian yang dilakukan pasti memerlukan bab ini. Entah benar-benar menjadi pijakan pokok dalam penelitian atau sekedar pembenaran berbau ilmiah dilakukannya penelitian tersebut. Tapi tetap saja mau tak mau bab itu tidak bisa dihilangkan.
Saya banyak belajar tentang ini beberapa hari terakhir. Ceritanya, sekarang sedang ada rekruitmen untuk asisten baru lab. Salah satu tahapannya adalah calon asisten diminta untuk membuat karya tulis. Dengan melihat presentasi karya tulis mereka (calon asisten), setidaknya saya bisa membayangkan bagaimana alur berpikir mereka hingga terbentuk sebuah karya tulis. Rata-rata lemah pada latar belakang, meskipun tidak semuanya. Sebenarnya tidak fair juga. Menghadapi asisten penguji yang beberapa sedang mengambil TA serta beberapa yang sedang mengambil mata kuliah Komunikasi Profesional. Sebuah mata kuliah yang sengaja dirancang untuk membekali mahasiswa dalam hal penelitian dan bagaimana mengkomunikasikannya. Dan calon asisten belum mendapatkan hal tersebut. Tapi bukan disitu letak permasalahannya.
Permasalahan terletak saat mereka tidak bisa memberikan penjelasan : kenapa mereka melakukan penelitian tersebut atau kenapa hal tersebut layak untuk dijadikan bahan penelitian. Sebenarnya dengan memberikan alasan : karena saya ingin, -menurut saya- telah bisa dijadikan alasan untuk melakukan sesuatu. Tapi alasan tersebut akan terlihat sangat tidak ilmiah sekali untuk sebuah produk ilimiah berupa karya tulis atau penelitian. Beberapa bulan yang lalu saya memperoleh kesempatan berbincang dengan seorang psikolog anak. Menurut beliau : orang Indonesia sangat lemah dalam hal reasoning -kenapa ia melakukan sesuatu. Menurut beliau lagi, bahwa sejak kecil anak-anak tidak dibiasakan untuk mengambil peran dalam menentukan suatu perilaku, membebaskan anak untuk mengambil keputusan serta tidak memberikan alasan-alasan logis kenapa suatu hal itu boleh dilakukan sementara yang lain tidak. Anak-anak, tambah beliau, seringkali kali hanya diajari : what next. Setelah ini seharusnya begini begitu, kalau ada masalah ini solusinya begitu. Jarang sekali diajari : kenapa harus begitu. Jadi sampai disini, masalah lemahnya reasoning bisa jadi disebabkan karena kurangnya ajaran atau tuntunan tentang hal itu.
Saya merupakan salah satu produk pendidikan Indonesia. Begitu juga hampir semua anak Indonesia. Dari TK sampai sekarang, tuntunan mengenai pentingnya 'kenapa' (reasoning) saya rasakan sangat minim.. Kita dijejali dengan berbagai pengetahuan tanpa tahu kenapa harus mempelajari hal tersebut. Alasan yang diberikan juga biasanya normatif : karena ilmu ini itu bermanfaat, bermanfaat di kemudian hari dan bla bla lainnya. Anak didik bagaikan patung yang dipahat seindah mungkin oleh seniman. Patung itu indah tetapi tidak berjiwa. Bukankan pendidikan seharusnya juga membentuk karakter, bukan sekedar membangun kompetensi. Bukankah seharusnya pendidikan mengajarkan kita cara berpikir yang runtun, meski berpikir acak juga sangat penting dan seringkali dipergunakan juga. Bukankah kreativitas juga bermula dari kumpulan pengetahuan yang berserak di kepala, kemudian dihimpun dan dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan. Kesadaran akan pentingnya reasoning sebagai salah satu alur berpikir seringkali baru disadari ketika telah beranjak dewasa. Bukankan akan lebih baik jika dimulai dari dini. Meskipun tentu saja dengan cara penyampaian yang lain jika hal yang sama diberikan pada orang dewasa. Bukankah akan jauh lebih baik jika kemampuan untuk selalu menggunakan pijakan dalam berpikir, berkata dan berbuat, menjadi bagian dari karakter seorang manusia.
Wallahu a'lam.
Wednesday, November 29, 2006
Sang Arsitek [2]
Ia telah menungguku di sana. Di satu sudut kafe. Di mejanya terdapat sebuah laptop dan sebuah cangkir. Mungkin teh, mungkin juga kopi, isinya.
"Maaf. Aku harus menunggu hujan hingga agak reda". Aku menjelaskan.
"Ah. Santai saja. Aku punya banyak waktu." Ia tersenyum. Dan aku sedikit lega.
Aroma kopi menyeruak. Dan benar. Ternyata isinya kopi panas. Aku bisa melihat dari kepulan asapnya. Sesaat aku teringat, jikalau kopi adalah kesukaannya. Mungkin terlalu sedikit dari dirinya yang masuk ke rentang perhatianku.
"Kamu mau menunjukkan sesuatu", tanyaku. Aku pun duduk.
"Memang benar." Ia tersenyum, seperti menyimpan sebuah kegembiraan yang belum penuh terlihat
"Sebentar." Sesaat ia kembali sibuk dengan laptopnya. Ia mengajakku ke sini karena ingin menunjukkan sesuatu padaku. Dan aku belum tahu itu. Ia mengarahkan layar laptop ke arahku.
"Ta da...," ia setengah bersorak.
Aku membenahi kacamataku. Mataku menyipit, pipiku terangkat dan sesungging senyum tercipta.
"Ini untukku," tanyaku cepat.
"Yup, benar sekali," jawabnya pun cepat.
"Ini benar untukku," tanyaku lagi, memastikan.
"Memang untukmu. Seperti yang pernah aku janjikan." Ia tersenyum. "Untukmu, sebuah rumah dariku."
Ia menunjukkan setiap detail rancangan rumah yang ia buat. Ia mengatakan rancangan yang ia buat adalah gaya usonia. Aku tak tahu apa itu usonia dan gaya arsitekturnya. Yang aku tahu hanya, desain rumah untukku ini sangat indah. Ia menunjukkan sebuah ruangan yang diisi penuh dengan rak buku.
"Aku tahu, kamu suka membaca," katanya. "Aku buatkan sebuah perpustakaan untukmu.
"Wah, indah sekali."
"Dan satu lagi," ia menahan ucapannya. Ia menunjukkan selembar kertas, bergambar sketsa tangan.
"Apa ini ?" tanyaku.
"Kamu lihat jendela yang ini," katanya sambil menunjuk ke arah layar laptop.
"Ya, aku melihatnya."
"Ini adalah sketsa jendela perpustakaanmu. Aku tahu, kamu suka menulis. Jadi aku membuatkan sebuah jendela khusus untuk menemanimu mengembara, mengukir kata."
Ah, ia tahu begitu banyak tentangku.
"Lalu, kursi kecil yang berkaki tinggi ini," aku menunjuk sebuah kursi. Kursi yang ada di sebelah kursi dimana aku akan duduk dan mengukir kata.
"Ini untuk anakmu."
"Ha," aku bertanya.
"Iya. Untuk anakmu. Siapa tahu anakmu suka membaca seperti kamu dan suka menemanimu seharian menulis di samping jendela itu".
Kami pun tertawa.
Tapi, kapan aku bisa membuat rumah ini. Aku masih kuliah. Uang masih mengalir dari orang tua ke rekeningku. Hasil kerjaku sendiri hanya cukup untuk bermain-main.
"Tapi, kapan aku bisa membuat rumah ini," aku bertanya mengulangi kata hatiku.
"Tenang saja kawan," katanya dalam nada yang meyakinkan. "Aku membuatkan rumah indah untukmu. Tapi ia tidak mahal. Kamu tidak perlu menjual sawah untuk membangun rumah ini."
Haha. Aku tertawa. Antara bahagia dan senang.
"Ok arsitek. Aku akan membangunnya tahun depan."
Hujan merintik, semakin deras. Suara tetes air beradu tanah semakin keras. Pikiranku melayang-layang memikirkan rumah itu. Aku harus bekerja lebih semangat untuk membangun rumah itu. Rumah indah buatan Sang Arsitek.
"Maaf. Aku harus menunggu hujan hingga agak reda". Aku menjelaskan.
"Ah. Santai saja. Aku punya banyak waktu." Ia tersenyum. Dan aku sedikit lega.
Aroma kopi menyeruak. Dan benar. Ternyata isinya kopi panas. Aku bisa melihat dari kepulan asapnya. Sesaat aku teringat, jikalau kopi adalah kesukaannya. Mungkin terlalu sedikit dari dirinya yang masuk ke rentang perhatianku.
"Kamu mau menunjukkan sesuatu", tanyaku. Aku pun duduk.
"Memang benar." Ia tersenyum, seperti menyimpan sebuah kegembiraan yang belum penuh terlihat
"Sebentar." Sesaat ia kembali sibuk dengan laptopnya. Ia mengajakku ke sini karena ingin menunjukkan sesuatu padaku. Dan aku belum tahu itu. Ia mengarahkan layar laptop ke arahku.
"Ta da...," ia setengah bersorak.
Aku membenahi kacamataku. Mataku menyipit, pipiku terangkat dan sesungging senyum tercipta.
"Ini untukku," tanyaku cepat.
"Yup, benar sekali," jawabnya pun cepat.
"Ini benar untukku," tanyaku lagi, memastikan.
"Memang untukmu. Seperti yang pernah aku janjikan." Ia tersenyum. "Untukmu, sebuah rumah dariku."
Ia menunjukkan setiap detail rancangan rumah yang ia buat. Ia mengatakan rancangan yang ia buat adalah gaya usonia. Aku tak tahu apa itu usonia dan gaya arsitekturnya. Yang aku tahu hanya, desain rumah untukku ini sangat indah. Ia menunjukkan sebuah ruangan yang diisi penuh dengan rak buku.
"Aku tahu, kamu suka membaca," katanya. "Aku buatkan sebuah perpustakaan untukmu.
"Wah, indah sekali."
"Dan satu lagi," ia menahan ucapannya. Ia menunjukkan selembar kertas, bergambar sketsa tangan.
"Apa ini ?" tanyaku.
"Kamu lihat jendela yang ini," katanya sambil menunjuk ke arah layar laptop.
"Ya, aku melihatnya."
"Ini adalah sketsa jendela perpustakaanmu. Aku tahu, kamu suka menulis. Jadi aku membuatkan sebuah jendela khusus untuk menemanimu mengembara, mengukir kata."
Ah, ia tahu begitu banyak tentangku.
"Lalu, kursi kecil yang berkaki tinggi ini," aku menunjuk sebuah kursi. Kursi yang ada di sebelah kursi dimana aku akan duduk dan mengukir kata.
"Ini untuk anakmu."
"Ha," aku bertanya.
"Iya. Untuk anakmu. Siapa tahu anakmu suka membaca seperti kamu dan suka menemanimu seharian menulis di samping jendela itu".
Kami pun tertawa.
Tapi, kapan aku bisa membuat rumah ini. Aku masih kuliah. Uang masih mengalir dari orang tua ke rekeningku. Hasil kerjaku sendiri hanya cukup untuk bermain-main.
"Tapi, kapan aku bisa membuat rumah ini," aku bertanya mengulangi kata hatiku.
"Tenang saja kawan," katanya dalam nada yang meyakinkan. "Aku membuatkan rumah indah untukmu. Tapi ia tidak mahal. Kamu tidak perlu menjual sawah untuk membangun rumah ini."
Haha. Aku tertawa. Antara bahagia dan senang.
"Ok arsitek. Aku akan membangunnya tahun depan."
Hujan merintik, semakin deras. Suara tetes air beradu tanah semakin keras. Pikiranku melayang-layang memikirkan rumah itu. Aku harus bekerja lebih semangat untuk membangun rumah itu. Rumah indah buatan Sang Arsitek.
Monday, November 27, 2006
Sang Arsitek
Yang pasti badannya tidak terlalu tinggi. Berjalan pendek-pendek dan pasti. Menebarkan senyum keriangan di setiap lambaian tubuhnya. Tas ransel dipadu dengan tabung gambar. Jeans belel dipadu dengan kaus putih yang santai. Rambutnya ikal panjang hanya diikat dengan sebuah tali rambut merah muda. Dan tak ketinggalan kaca mata yang berpadu manis dengan lesung pipinya.
Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu anak teknik yang layak mendapat sebutan engineer sejati. Mungkin sama-sama menghasilkan konsep. Tapi yang ia hasilkan adalah benda konkret. Sebuah bangunan indah atau sekedar harmoni tiang-tiang pancang, sanggup ia torehkan dengan jemari kecilnya. Sedangkan aku. Yah aku rasa aku cukup bangga dengan konsep yang kadang tak teraktualisasi di lapangan. Aku rasa kami banyak berbeda meski tak sedikit juga kesamaan yang kami miliki.
Bagiku sebuah tangga adalah produk yang harus dikritisi. Hingga tangga harus sebisa mungkin tidak membuat letih penggunanya. Baginya tangga adalah sebuah karya seni. Tiap anak tangga yang menyusunnya bagaikan sebuah deretan nada yang menciptakan komposisi yang elok. Kami sering berdebat tentang hal itu. Bukan pertikaian yang sengit memang. Tapi perdebatan yang indah. Dan aku merindukan perdebatan itu.
Aku berjalan di sampingnya. Sebuah lembayung senja menaungi kami. Kami berbicara dalam diam. Lebih tepatnya aku yang lebih banyak membisu. Satu kata yang akan terus tercatat di otakku hingga kini.
"Aku akan membuatkan sebuah rumah untukmu".
Dan ia benar-benar membuatkan sebuah rumah untukku.
Bagaimanapun juga, aku tak akan mampu menatapnya lagi. Bagiku hanya ada masa lalu dengannya dan masa depan dengan semua bangunan yang menaungiku kini. Hingga kini aku tak tahu banyak tentang arsitektur, tentang minatnya. Yang aku tahu hanya aku menyukainya dan arsitekturnya. Tak lebih dari itu. Aku hanya tahu bahwa atap yang ada di atas kepalaku sekarang adalah atap terindah yang pernah ia buat. Dan khusus untukku. Dan jendela yang ada di sampingku adalah jendela tercantik yang ia gambar sendiri sebelum memesankannya khusus ke tukang kayu. Jendela inilah yang mengantarkan cahaya matari ke atas tiap lembar-lembar kertas. Lembar-lembar kertas dimana aku menuliskan kisahku , kisah bangunan ini. Dan kisah sang arsitek.
Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu anak teknik yang layak mendapat sebutan engineer sejati. Mungkin sama-sama menghasilkan konsep. Tapi yang ia hasilkan adalah benda konkret. Sebuah bangunan indah atau sekedar harmoni tiang-tiang pancang, sanggup ia torehkan dengan jemari kecilnya. Sedangkan aku. Yah aku rasa aku cukup bangga dengan konsep yang kadang tak teraktualisasi di lapangan. Aku rasa kami banyak berbeda meski tak sedikit juga kesamaan yang kami miliki.
Bagiku sebuah tangga adalah produk yang harus dikritisi. Hingga tangga harus sebisa mungkin tidak membuat letih penggunanya. Baginya tangga adalah sebuah karya seni. Tiap anak tangga yang menyusunnya bagaikan sebuah deretan nada yang menciptakan komposisi yang elok. Kami sering berdebat tentang hal itu. Bukan pertikaian yang sengit memang. Tapi perdebatan yang indah. Dan aku merindukan perdebatan itu.
Aku berjalan di sampingnya. Sebuah lembayung senja menaungi kami. Kami berbicara dalam diam. Lebih tepatnya aku yang lebih banyak membisu. Satu kata yang akan terus tercatat di otakku hingga kini.
"Aku akan membuatkan sebuah rumah untukmu".
Dan ia benar-benar membuatkan sebuah rumah untukku.
Bagaimanapun juga, aku tak akan mampu menatapnya lagi. Bagiku hanya ada masa lalu dengannya dan masa depan dengan semua bangunan yang menaungiku kini. Hingga kini aku tak tahu banyak tentang arsitektur, tentang minatnya. Yang aku tahu hanya aku menyukainya dan arsitekturnya. Tak lebih dari itu. Aku hanya tahu bahwa atap yang ada di atas kepalaku sekarang adalah atap terindah yang pernah ia buat. Dan khusus untukku. Dan jendela yang ada di sampingku adalah jendela tercantik yang ia gambar sendiri sebelum memesankannya khusus ke tukang kayu. Jendela inilah yang mengantarkan cahaya matari ke atas tiap lembar-lembar kertas. Lembar-lembar kertas dimana aku menuliskan kisahku , kisah bangunan ini. Dan kisah sang arsitek.
Sunday, November 26, 2006
Kamis Senja
Koridor masjid. Duduk melingkar. Senja menyaput langit. Kata-katanya tenang tapi bertenaga.
"Kami diminta untuk mewakili sastrawan dari Indonesia".
Kata-katanya meluncur bersahaja menceritakan pengalamannya. Ia dan delegasi dari Indonesia dengan santai minum air putih sementara yang lain makan babi dan minum alkohol. Maklum. Hanya ia dan temannya serta perwakilan dari India yang tidak makan babi dan minum arak.
"Kami heran dengan kalian. Semalam kalian mabuk berat. Pagi ini kalian bisa datang ke pertemuan tepat waktu." Tanyanya suatu kali kepada perwakilan negara lain.
"Itulah kami." Versi halus dari perkataan, kami profesional. Semalam kami memang mabuk, tapi pagi ini kami harus bekerja.
Ia merakit kata untuk mendeskripsikan negara yang ia kunjungi. Korea sangat rapi. Hampir tak ada sampah yang bercecer. Bandingkan dengan negara kita. Dia malu, aku malu. Aku tinggal di Bandung dan ia juga berasal dari Bandung. Pasti mafhum jika sampah menjadi sajian harian kotanya.
Pembawaannya tenang dan ia masih berbagi cerita. Bagaimana tema lokalitas masih menjadi isu utama yang diangkat oleh sastrawan masing-masing negara. Bagaimana sastra Asia harus dapat berkembang dan menjadi salah satu pilar peradaban. Bagaimana perjuangan sastrawan-sastrawan Palestina di antara desingan peluru dan debu bom. Bagaimana kita masih belum apa-apa dibandingkan mereka. Bagaimana tenaga yang kita keluarkan belum seluruhnya yang kita punya. Aku hanya bisa menunduk. Aku bukan seorang sastrawan dan ia seorang sastrawan. Rasanya aku ingin memiliki tenaga sebesar sastrawan Palestina itu dan juga sastrawan lainnya. Ia yang menggerakkan tangannya di sela-sela kesulitan yang terus mengguyur buminya. Dan mereka masih terus berkarya.
Ah, memang masih perlu banyak belajar. Tangankupun masih terlalu berat untuk memahat kata-kata dalam pikiran. Jangankan bertenaga, bermakna pun bisa jadi belum.
-Kamis sore, duduk melingkar, bareng Mas Irfan H dan masih banyak yang lain, mengembara.-
"Kami diminta untuk mewakili sastrawan dari Indonesia".
Kata-katanya meluncur bersahaja menceritakan pengalamannya. Ia dan delegasi dari Indonesia dengan santai minum air putih sementara yang lain makan babi dan minum alkohol. Maklum. Hanya ia dan temannya serta perwakilan dari India yang tidak makan babi dan minum arak.
"Kami heran dengan kalian. Semalam kalian mabuk berat. Pagi ini kalian bisa datang ke pertemuan tepat waktu." Tanyanya suatu kali kepada perwakilan negara lain.
"Itulah kami." Versi halus dari perkataan, kami profesional. Semalam kami memang mabuk, tapi pagi ini kami harus bekerja.
Ia merakit kata untuk mendeskripsikan negara yang ia kunjungi. Korea sangat rapi. Hampir tak ada sampah yang bercecer. Bandingkan dengan negara kita. Dia malu, aku malu. Aku tinggal di Bandung dan ia juga berasal dari Bandung. Pasti mafhum jika sampah menjadi sajian harian kotanya.
Pembawaannya tenang dan ia masih berbagi cerita. Bagaimana tema lokalitas masih menjadi isu utama yang diangkat oleh sastrawan masing-masing negara. Bagaimana sastra Asia harus dapat berkembang dan menjadi salah satu pilar peradaban. Bagaimana perjuangan sastrawan-sastrawan Palestina di antara desingan peluru dan debu bom. Bagaimana kita masih belum apa-apa dibandingkan mereka. Bagaimana tenaga yang kita keluarkan belum seluruhnya yang kita punya. Aku hanya bisa menunduk. Aku bukan seorang sastrawan dan ia seorang sastrawan. Rasanya aku ingin memiliki tenaga sebesar sastrawan Palestina itu dan juga sastrawan lainnya. Ia yang menggerakkan tangannya di sela-sela kesulitan yang terus mengguyur buminya. Dan mereka masih terus berkarya.
Ah, memang masih perlu banyak belajar. Tangankupun masih terlalu berat untuk memahat kata-kata dalam pikiran. Jangankan bertenaga, bermakna pun bisa jadi belum.
-Kamis sore, duduk melingkar, bareng Mas Irfan H dan masih banyak yang lain, mengembara.-
Subscribe to:
Posts (Atom)