Saturday, May 20, 2006

Risalah Cinta


Berniat pergi ke kampus untuk bertemu dengan seorang dosen. Setelah konfirmasi, ternyata beliau tidak bisa, ada pertemuan katanya. Ya sudah terpaksa mencari tempat pelarian.
Di sebuah toko buku saya menemukan sebuah buku yang sebenarnya sudah terbit dari tahun kemarin. Karena bosan dengan jenis bacaan yang akhir-akhir ini dibaca, maka saya memutuskan untuk membelinya. Semoga isinya bagus, pikir saya (karena masih disegel saat mengambilnya dari rak).
Sebuah kumpulan esay dari mbak Helvy Tiana Rosa. Semua berasal dari kisah nyata meskipun beberapa esay ditulis dengan bumbu fiksi. Menurut saya, bahasanya ringan dan mengalir. Sempat tersenyum dan terharu beberapa kali.
Ternyata masih ada cinta....

Risalah Keindahan

Dan aku masih memandanginya. Senyum yang indah dan lesung pipi berpadu di wajahnya. Sangat cantik, secantik bundanya. Aku menggenggam tangannya yang hangat dan lembut. Kami berjalan beriringan.
"Karena aku ingin melihat senja," katanya saat aku bertanya mengapa ia mengajakku berjalan-jalan.
Sebuah angin sore menyapa lembut wajah kami.
"Karena senja memberikan kedamaian setelah datangnya semangat mentari siang. Karena senja memberikan harapan akan datangnya mentari esok pagi. Karena senja adalah senja," tambahnya.
Aku memperlambat langkahku, mengikuti langkah-langkah kecilnya yang manis.
Mutiara-mutiara air turun dari langit. Hujan gerimis. Kami berteduh. Angin kembali menyapa kami. Aku merapatkan jaket yang membalut badannya. Ia merapikan hijabnya yang sedari tadi mulai kusut dipermainkan angin.
Hujan berhenti. Sebuah pelangi terlukis di langit. Menyerap sisa-sisa cahaya mentari senja dan memuntahkannya ke kanvas langit.
"Itu apa?" tanyanya. Kujawab, pelangi.
"Mulai sekarang aku menyukai pelangi," katanya. Aku bertanya mengapa.
"Apakah selalu ada pelangi?" ia balik bertanya. Aku jawab, kita akan dapat melihat pelangi pada saat yang tepat. Aku bertanya kembali, kenapa ia menyukai pelangi.
"Karena, ia indah. Keindahan yang muncul setelah dinginnya hujan yang membasahi bumi. Hmm indah." Aku kembali menatap wajahnya erat. Cantik.
Kami berjalan menuju taman bunga. Tanah yang basah oleh hujan menyertai langkah kami. Ia berhenti, menekuk lututnya dan berjongkok. Ia mengamati sebuah kepompong. Seekor kupu-kupu yang sedang berjuang keluar dari kepompongnya. Aku kembali melihat wajahnya. Aku selalu kagum dengan kecantikannya saat mengagumi dan memperhatikan sesuatu.
Lalu ia berujar, kenapa ia begitu memperhatikan kepompong dan kupu-kupu itu.
"Karena, ia indah. Keindahan yang muncul setelah perjuangan melawan kesepian. Keindahan yang harus dibayar dengan kesendirian. Dan keindahan yang harus dibayar dengan meninggalkan rumah hangatnya agar bisa melihat dunia luar dengan lebih jelas."
Dan proses metamorfosa telah mencapai puncaknya. Sebuah kupu-kupu yang indah terbang, menorehkan tulisan-tulisan tak terlihat di kertas udara. Sebuah keindahan muncul.
Kami pun berjalan kembali. Ia memasukkan tangan kecilnya ke tas selempang yang sedari tadi ada di bahunya. Seperti mencari sesuatu. Sebuah bunga mawar putih yang indah telah ada di genggamannya. Ia mengarahkan bunga itu ke arahku. Seperti hendak mengatakan sesuatu, aku mendekatinya.
"Selamat milad ayah." Sebuah senyum berpadu dengan lesung pipi tercipta di wajah mungilnya. Aku tertegun.
"Terima kasih Iena kecil, " begitu aku memanggilnya. Dan aku masih tertegun. Dan keindahan itu tercipta di atas keindahan. Iena kecilku, secantik dan secerdas bundanya.

-untuk semua orang yang lahir di bulan Mei ^ ^-

Saturday, May 06, 2006

Aku Bercerita

Stasiun Lempuyangan. Aku melihatnya turun dari kereta, bertas punggung dan menenteng sebuah jaket biru. Aku mengamatinya dari kejauhan. Anggaplah aku tidak terlihat. Dia terlihat sangat kelelahan, mungkin dari tempat yang cukup jauh. Aku akan bercerita tentang dia mulai sekarang. Anggaplah aku tahu semuanya.

Dia berjalan menuju musholla stasiun, mungkin untuk sholat Shubuh. Ternyata benar. Setelah itu dia tertidur di serambi musholla, sebelum dibangunkan oleh penjaga musholla.
"Mas, mas, bangun. Mau dipel."
"Oh ya mas."
Pemuda itu merapikan tas punggungnya dan bergegas pergi. Tampaknya masih sangat capek, tapi biarlah, mungkin ia harus mengejar sesuatu.

Keluar dari stasiun Lempuyangan, pemuda itu menuju sebuah warung.
"Nasi rames, wonten Bu?"
"Oh wonten Dik. Mangga pinarak. Saking pundi tho?"
"Saking Bandung, Bu."
Selesai sarapan, pemuda itu duduk di depan warung, menunggu matahari bersinar lebih terang.
"Eh Ron, lo dimana? SMS gue nyampe kan?"
"Sorry2, pulsa gue abis."
"Ya udah, ntar kita ketemuan dimana?"
"Lo maunya dimana?"
"Gak tahu Jogja sih sebenernya. Di Malioboro aja deh. Gue abis ini mau kesana."
"Oke2. Tapi gue ada ujian pagi ini. Baru kluar mungkin jam setengah 12 an. Gak papa?"
"Nyante aja. Gue juga mo jalan-jalan dulu. Sorry ya jadi ngrepotin."

Matahari meninggi. Pemuda itu beranjak. Dengan berbekal peta, ia menyusuri jalan-jalan Jogja menuju Malioboro.

Malioboro masih sepi pagi itu. Hanya ada beberapa toko yang sudah memulai hidupnya. Ia memilih untuk duduk di bangku di bawah pohon. Rindangnya daun pohon itu cukup menaunginya dari terpaan sinar matahari. Dia membuka sebuah buku dan membacanya.

Dia menunggu dan menunggu. Ditutupnya buku itu dan dia beranjak, berjalan. Menyusuri sepanjang jalan Malioboro dan mengamati berbagai hal yang ada di sepanjang jalan itu. Berkali-kali,
"Becak Mas. Nyari oleh-oleh bakpia atau ke Dagadu, langsung dianterin."
"Mboten pak. Sampun."
Langkahnya berbelok ke Masjid Malioboro ketika matahari mencapai puncaknya. Sapuan air wudhu cukup membantu melawan hawa Jogja yang sedang panas.
"Lo dimana?Gue mo nganterin jaket." Sebuah SMS masuk.
"Gw lagi di masjid Malioboro.Mo sholat."
"Ya udah tunggu disana. Gue kesana."

12.53. Di bawah pohon, di depan Masjid Malioboro. Orang yang ditunggunya belum datang. Tetes-tetes air jatuh dari langit, menandakan akan segera turun hujan. Sebuah motor berbelok dan parkir di depannya.
"Sori ya. Nunggu lama?"
"Nyante aja."
"Ke mesjid yuk. Ujan deres ni."
Mereka berdua bergegas menuju salah satu serambi Masjid Malioboro.
"Lo beneran cuma mo ngambil jaket."
"He eh."
"Aneh. Kenapa lo jauh-jauh kesini cuma buat ngambil jaket?"
"Karena gue ngerasa gue yang ninggalin. Kemaren gue ngelihat jaket ini di jok tengah mobil lo sebelum turun. Gak tahu kenapa waktu itu gue gak bisa ngomong trus gue pikir itu jaket lo. Ya udah gue diem aja. Eh baru nyadar pas nyampe Bandung."
"Oh gitu tho. Rencananya gue mo maketin ni jaket kalo emang butuh cepet. Kmaren juga dah ngomong ke nyokap mo balik ke Bandung buat balikin jaket ini. Eh lo-nya dateng kesini. Ya udah gak jadi."
"Jadi rencana lo gagal, hehe."
Merekapun berbincang-bincang.
"Jam setengah 2 gue ada presentasi. Jadi bentar lagi gue cabut. Rencananya abis ini lo mau kemana?"
"Mo ke Kota Gedhe kayaknya. Nunggu ujannya reda."

"Gue cabut dulu ya."
"Thanks banget Ron."
"Ya. Sama-sama. Kapan-kapan main lagi kesini ya."
"Sip."

Hujan mereda. Meninggalkan genangan-genangan air di sudut-sudut jalan. Matahari kembali terik.

It is not only about a jacket. It's about his life. Let his life flows till the time when he comes with his dreams.

Dan sekarang aku telah selesai bercerita tentang ia.

--Untuk perjalanan sehari ke Jogja. Buat yang punya jaket, aku nggak bermaksud jahat kok ^ ^. Buat Ian, kemarin blum perlu navigator:p. Kapan-kapan kita ke Jogja, tunjukkin tempat beli perak yang bagus & murah ^_^ skalian dibeliin kalo bisa hehehe--

Friday, April 14, 2006

Irish Coffee

Pagi yang cerah. Sapaan alam yang lembut. Aku duduk di bangku taman ini menunggu munculnya hangat mentari yang masih enggan memanas. Padahal 1 jam yang lalu.
"Waduh, jam 7. Kok nggak ada yang bangunin sih!!!"
Aku berburu dengan nyawaku yang baru saja terkumpul. Tidur setelah Shubuh memang sangat enak tapi tentu saja melenakan.
"Hoe, pada kemana klean. Kok gak ada yang bangunin sih," teriakku.
Sepi, batinku, pasti semua sudah berangkat kuliah. Aku menuju kamar mandi dengan seperangkat alat mandiku. Dasar anak-anak.
Dan sekarang, aku duduk di bangku taman ini. Setelah tersadar, beberapa saat setelah masuk ke angkot, jikalau hari ini kuliah libur. Beruntungnya aku mendapatkan tempat pelarian yang indah untuk menutupi kebodohanku di awal hari ini.
Taman yang indah. Menikmati ketenangan yang semakin jarang kudapatkan di keseharianku. Dalam ketenangan ini aku bisa mendengarkan kicauan burung.
"Permisi, Dik."
"Silahkan, Pak."
Seorang Bapak duduk di sebelahku. Kemudian membuka koran yang dibawanya lalu masuk ke dunia kata-kata yang tercipta antara ia dan surat kabarnya.
Seorang gadis kecil duduk di bangku taman. Bangku taman yang terletak beberapa langkah di depan bangku tamanku. Gadis kecil itu lucu, mungkin berumur 4 tahun, tapi aku rasa 5 tahun. Maaf aku tidak pandai menebak umur. Ia bermain dengan boneka beruangnya.
Seorang perempuan menghampiri gadis kecil itu.
"Iena, kemana aja? Kakak kan bingung nyariin," perempuan yang kira-kira sebaya denganku itu tersenyum meski guratan cemas sedikit tergambar di wajahnya.
"Iena kan pingin jalan-jalan. Abis Pogel gak bisa diajak diem sih."
"Oo, Pogel to yang ngajak Iena jalan-jalan," perempuan itu mencubit kecil boneka beruang yang digendong gadis kecil itu.
Kakak beradik itu bermain di bangku taman itu.
Perempuan itu manis juga ya, batinku. Aku tidak biasa berbohong dengan perasaanku, aku jujur, perempuan itu manis menurutku.
Aku mengeluarkan buku skets dari tasku. Benda yang mungkin aneh untuk mahasiswa Teknik Industri, yang tidak pernah berkutat dengan skets apapun kecuali mungkin gambar teknik, itupun biasanya membutuhkan bantuan seperangkat komputer. Tinggal berikutnya, pensil. Ah pasti ketinggalan. Kok yang ada 2B. Masih terlalu lunak untuk menggambar sketsa. Tapi tak apalah. Aku tidak ingin kehilangan momen ini.
Momen keanggunan seorang perempuan menemani gadis kecil yang bermain boneka beruang berlatarbelakang taman indah di pagi hari. Mengagumkan bukan. Oiya, biarkan aku dengan definisi kecantikan, keanggunan yang kusematkan pada perempuan itu. Setiap orang boleh berwacana tentang kecantikan, tetapi aku punya pendapat sendiri tentang kecantikan.
Goresan-goresan pensilku, mengabadikan momen mengagumkan itu di atas kertas. Kelucuan gadis kecil itu sempat terhapus oleh usapan penghapusku sebelum kususun kembali dengan goresan pensil. Hmm masih mengagumkan.
Satu goresan kecil dan sketsaku selesai. Aku kembali memandangi kursi taman yang ada di depanku itu. Dua sosok itu telah hilang.
"Dik, saya pergi dulu ya," Bapak yang sedari tadi duduk di sampingku itu beranjak pergi.
"O, silahkan pak."
Dua sosok itu telah hilang seiring dengan keabadian yang tergores di dalam buku skets ini. Apakah mereka hanya bayanganku saja ataukah mereka memang nyata. Senyata sketsa yang tertoreh di atas kertas ini, juga tergambar jelas di benakku. Ataukah mereka hanya rekaanku saja. Aku pun tak tahu. Tapi aku berterima kasih kepada mereka atas sejumput momen yang mengagumkan.
Akupun beranjak dari bangku taman ini. Ah keindahan yang melenakan.

Seni Kepengecutan

Seni kepengecutan dituliskan dengan tinta ketakutan di atas lembaran pembenaran. Aku sudah bosan dengan omong kosong semacam ini. Rangkaian kata yang sengaja disusun agar orang lain yang melihatnya merasa terpana, terkagum, merasakan sesuatu hal yang filosofis, mendalam. Aku bosan dengan terus berlari, menghindar dari setiap masalah yang ada. Karena apa? Takut? Bukankah takut hanya ada di kepala? Bukankah menghindari masalah tidak akan menyelesaikannya? Berhentilah berkata-kata dan mulailah bergerak.

Seni kepengecutan membutuhkan energi untuk menumpahkannya ke atas kehidupan. Mengapa tidak kau gunakan saja energi itu untuk menghadapi hidup dengan berani. Mengapa kau habiskan energimu untuk mengelak dari setiap tanggung jawab yang ada di bahumu? Padahal selalu ada tanggung jawab yang terbang dan hinggap di bahumu. DEWASALAH!!!

Seni kepengecutan berawal dari terlalu besarnya pertimbangan yang tidak disokong oleh keberanian untuk mengambil keputusan. Kau pasti mengerti, pertimbangan yang matang harus diimbangi dengan keberanian untuk mengeksekusi setiap keputusan yang telah diambil. Jangan seperti orang yang hanya bergumul dengan pemikiran tanpa pernah bergerak atau seperti bonek yang [mungkin] tak pernah berpikir tapi keberaniannya patut diacungi jempol.

Arrrrghhh... Aku bosan....

Thursday, April 06, 2006

Just wanna be a different person

Ass..Ka,NT knpa?Koq bs ky gt?Ga papa koq,pmandangan br.Haha..[cut]
SMS dari salah seorang sahabat.
Asw.Ga ada apa2.Just wanna b a different person hehe.[cut]
Balasan SMS

--menikmati gaya hidup tanpa rambut dan kacamata minus baru--

Sunday, March 26, 2006

Serius + santai


Ingin berada dalam suasana yang serius sekaligus santai. Tapi lebih tepatnya sesuatu yang santai dikerjakan dengan serius. Coba lakukan penelitian tentang kursi malas alias kursi untuk bersantai.

--Satu bagian kehidupan di masa-masa akhir kuliahku ^-^

Saturday, March 25, 2006


aku ingin melihatmu tersenyum
membagi semua keceriaan yang kau punya

aku tak ingin melihatmu bersedih
karena aku hanya ingin melihatmu tersenyum

Bunga untuk Bunda


17 Maret

"Di, makan dulu yuk. Gue dah laper ni."
"Mo makan dimana?"
"Dimana aja lah. Pokoknya yang kenyang. Kelaperan ni gue, ngikutin elo muter-muter seharian."
Skuter hitam nan lucu itu membelok pelan di persimpangan jalan dan berhenti di depan sebuah warung soto ayam.
"Mas, soto ayam 2, gak pake vetsin. Cepetan ya mas dah laper banget ni. Oiya sekalian es jeruk 1."
"Emang kamu laper banget ya, pake pesen 2 porsi. Saya juga mas, tapi satu mangkok aja, trus minumnya es teh manis aja."
Lalu lalang kendaraan di depan warung soto itu cukup padat seiring jam pulang kantor.
"Bukannya ulang tahun nyokap elo masih lusa? Kok dah grasak-grusuk nyari hadiahnya sekarang si?"
"Aku nggak mau aja kayak tahun kemarin. Dah niat buat ngasih kado buat bundaku, tapi nggak dapet gara2 baru nyari sehari sebelumnya."
"Emang bedanya ama yang sekarang apa? Elo bukannya ngedadak juga nyarinya?"
"Ya sih. Tapi paling nggak kan 2 hari sebelumnya, nggak kayak kemarin yang cuma punya waktu sehari, itupun nggak ketemu."
"Bukannya sekarang juga belum ketemu?"
"Ya sih. Tapi kan masih ada besok."
2 orang perempuan mungil berseragam SMA masuk ke warung dan mengambil duduk di sebelah dua pemuda ini.
"Untung ya Rin. Nenekku paling suka bunga yang ini. Soalnya sekarang lagi susah-susahnya nyari bunga yang kayak gini lho."
Adi yang di mulutnya masih penuh dengan nasi soto menoleh ke arah dua gadis itu. Melihat sebuah kantong plastik yang berisi bunga wamar berwarna putih. Seketika itu otaknya mengirim sinyal ke mulut untuk segera berkata.
"Mbwak, dwapet bwunganya dwari mnwana? Hargwanya brapwa? Mwaswih adwa gwak?"
Kedua perempuan itu tertegun.
"Mas ngomong apa sih?"
Dan seketika itu juga otak mengirimkan sinyal ke mulut, lidah dan kerongkongan untuk segera menelan makanan yang memenuhi mulut.
"Maksud aku, mbak beli taneman mawar itu dimana?"
"Yang ini mas?" perempuan itu menunjuk ke arah kantong berisi tanaman.
"Ya mawar putih itu."
"Ini belinya di tukang bunga dekat stadion sana," perempuan itu berkata sambil menunjuk ke arah luar warung.
"O yang deket SMA 1 itu?"
"Ya mas."
"Masih buka nggak sekarang?"
"Tadi sih masih. Coba aja kesana. Tadi sih bapaknya bilang buka sampe setengah lima."
Melirik sedikit jam tangannya, Adi segera bereaksi.
"Ri, cepetan makannya. Kita berburu lagi."
Adi dan Ari segera menuju skuter hitam nan lucu dan segera menggebernya ke arah Stadion Wilis.
Sampai di tukang bunga.
"Beneran nggak ada lagi ya pak?"
"Bener nak. Tadi yang ada bunganya terakhir dibeli sama anak SMA. Kalo mau tinggal yang cuma tanemannya doank."
"Yah, beneran nggak ada lagi ya pak".
Semburat cahaya kuning menerpa sisi bangunan stadion bola yang baru rampung dibangun itu.
"Dah yuk Ri. Pulang aja. Besok lagi aja."
Skuter hitam nan lucu itu segera dipacunya kembali menyusuri jalanan kota.

18 Maret

"Bi, Nah, Bunda ada di rumah?"
"Nggak ada mas. Lagi arisan. Mau titip pesen?"
"Nggak usah deh Bi. Jangan bilang-bilang kalau aku telpon ya."
"Lho kenapa mas?"
"Pokoknya nggak usah aja, Bi. Ntar aku kasih tahu deh pokoknya."
"Oke deh mas."
Adi memasukkan sebuah senter besar ke tas kecilnya lalu meluncur menuju skuternya. Beberapa detik kemudian ia telah menunggangi skuter hitamnya nan lucunya itu.
Tretetetetetretetetet......beberapa detik kemudian suara mesin skuter tersebut menghilang. Sengaja dimatikan beberapa meter sebelum depan rumahnya dan memanfaatkan gaya gravitasi akibat jalan menurun yang menghantarkan skuternya sampai tepat di depan rumah dengan hening. Diparkirnya skuter di bawah pohon jambu depan rumah.
"Bi, bunda belum pulang kan?"
"Belum mas. Jadinya mas mau ngapain? Tadi kan belum cerita."
"Sini deh, Bi, " perempuan yang sudah cukup sepuh itu mendekat dan Adi membisikkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian. "Beres deh Mas. Pokoknya Bibi yang tanggung jawab kalau sewaktu-waktu Ibu pulang."
Adi segera mengeluarkan senter dari dalam tasnya dan menghambur ke halaman belakang. Sinar bulan purnama tak cukup menerangi gelapnya halaman belakang itu. Senter yang nyalanya redup nian karena baterai yang hampir habis itupun tak mampu berbuat banyak menolong penglihatannya. Alhasil ia harus membuka matanya lebar-lebar untuk memperjelas pandangannya.
Beberapa meter melangkah. "Mana ya??"
Beberapa meter berikutnya. "Dukkk. Aduh.." Kepala Adi terantuk pot gantung.
Sedangkan di dalam rumah. "Bi, daging yang tadi pagi sudah dimasukin ke kulkas kan?". Suara Bunda terdengar cukup keras meskipun dari dalam rumah.
Waduh, Bunda dah dateng, batin Adi.
Setelah berpuluh-puluh meter berkeliling di halaman belakang rumah dengan bantuan secuplik cahaya senter, akhirnya Adi menyerah.
"Kok nggak ada ya? Tadi ada tapi nggak ada." Adi menggaruk-garuk kepala dan bingung sendiri.
Adi benar-benar menyerah. Dengan jalan mengendap-ngendap ala maling, berputar lewat samping rumah akhirnya sampai ke tempat skuternya. Pfuihhh. Akhirnya berhasil menyelinap keluar dari halaman belakang tanpa ketahuan Bunda. Segera menuntun skuternya beberapa meter dan langsung tancap gas pulang ke kostan. Kost yang menampung kehidupan mandiri Adi. Adi yang memilih untuk nge-kost daripada tinggal dengan orang tuanya karena alasan ingin mandiri dan terutama jarak rumah-kampus yang sangat jauh.
"Waduh, gagal deh rencana 2." Adi mencoret kertas yang bertuliskan 'PLAN 2 --> aMbil aja pot bunga Bunda yang bunganya ada+mekar, tinggal diganti potnya dikasih ke Bunda-->beres [agak curang sih hehe;p].
Rencana apa lagi ya, batin Adi.
'Rencana 2 gagal,ada saran lain gak????", Adi mengirim SMS ke Ari.
Semenit hening, 5 menit belum dibalas, 15 menit Adi mulai jungkir balik gak jelas di tempat tidur. Menit ke 16 sebuah SMS masuk.
'Sori jek, baru bls.Mikirna susah tau.Lo dtg aj ke Ayu,dy kn punya byk bunga...'
Heeee, Adi terpana melihat solusi yang ditawarkan temannya itu. Berpuluh-puluh kata bercampur aduk di otaknya begitu melihat satu nama AYU. Hee cewek yang satu itu. Mantanku yang satu itu. Yang dulu belain nyusul kuliah disini biar sering ketemu. Ya sih punya banyak bunga en kalo gak salah juga punya mawar putih. Tapi gimana ya. Masa dah lama gak ketemu, dateng-dateng minta bunga. Kan gak enak@#$%^@@(&. Otak Adi setengah konslet.
'G punya usul laen ap', sebuah SMS meluncur.
'Gw g punya usul lg.Tu aj mikirna 1/2mati.Klo g brani bsok gw tmenin dh.Lgian bsok kn dh hrs ad bt nyokap lo'.
Adi dalam posisi berfikir. Mengingat, menimbang dan akhirnya memutuskan, besok ke rumah Ayu. Titik.
'G usah dtemenin.Bsok aq bs ksn sndiri.Thx'. Satu message meluncur.

19 Maret

Pagi yang cerah menemani Adi mengendarai skuter hitam nan lucu. Berhenti di depan pagar berwarna hijau, rumah Ayu. Sekali menarik napas panjang, berusaha meredakan ketegangan. Memasuki pekarangan yang penuh bunga, Adi sampai di depan pintu. Ting tong, bel pintu berbunyi. Seorang anak kecil membuka pintu.
"Pagi, Na...," Adi tersenyum ke anak kecil itu.
"Eh mas Adi."
"Mbak Ayu-nya ada?"
"Ada mas."
"Siapa Na yang datang?" seorang bapak muncul menuju ruang tamu. "Eh Adi."
"Ya, Om. Ayu-nya ada?"
"Ada tuh di belakang. Sebentar ya." Bapak dan anak itu masuk kembali ke dalam.
Adi duduk sendiri di ruang tamu itu. Masih seperti yang dulu. Harum wangi melati memenuhi ruang tamu ini. Sebuah boneka sapi lucu ada di sudut ruangan. Adi memandang ke langit-langit ruang itu.
Seorang perempuan telah ada di ruang tamu itu tanpa disadari Adi.
"Adi," perempuan itu memecah keheningan.
"Eh, Ayu." Tanpa bisa dikendalikan, Adi tiba-tiba menyerocos berkata.
"Sori, aku dateng. Aku cuma mau minta tolong. Aku nggak bakal ganggu kamu lagi setelah ini. Cuma sekali ini aja. Habis itu aku bakalan ngejauhin kamu lagi."
"Kamu ngomong apa sih?"
Untuk beberapa saat mereka berdua berbicara. Cukup lama.
"Sebenernya aku juga ngerasain itu," kata Ayu. "Sejak kita mutusin buat jadi sahabatan aja, aku ngerasa kita gak lagi sahabatan. Kita kayak lagi musuhan."
Adi terdiam dan mengangguk.
"Kamu tahu kan, " Ayu meneruskan," setahun terakhir kita cuma SMS 2 kali, itupun pas ulang tahunku sama ulang tahunmu. Itu namanya bukan sahabatan."
Hening sejenak.
"Okelah, dulu mungkin kita sempat marahan. Tapi itu kan dah lama banget. Kita dulu mutusin buat sahabatan kan, bukan musuhan. Jadi anggep aja kita baru ketemu trus kenalan trus jadi temen. That's all. Gimana?"
"Sepakat," kata Adi. Mereka berdua tersenyum.
Setelah berpanjang lebar, memperbaiki persahabatan mereka.....
"Jadi kamu mau ngehadiain mawar putih ke Bunda kamu?"
"Ya."
"Dan kamu kesini gara-gara di semua tempat gak ada?"
"Hehehe, iya sih.."
Mereka berdua keluar ke halaman depan.
"Aku pilihin mawar yang paling cantik buat bundamu." Beberapa saat kemudian, Ayu memegang pot berisi bunga mawar putih yang anggun merekah. "Pegang bentar ya," Ayu melangkah masuk rumah.
Ayu yang telah berganti pakaian menemui Adi yang masih memegang pot bunga. "Ayo pergi."
"Kemana?" Adi tertegun.
"Ya ke rumahmu."
"Ha..." Adi masih tertegun.
"Aku pingin ngasih selamat ke bundamu sekalian nganterin bunga yang cantik ini. Boleh kan?" Ayu tersenyum.
"Ya... boleh sih," Adi menggaruk-garuk kepala.
****
"Bunda ini bunga dari sahabatku......"

Bandung, 25 Maret 2006. Untuk Ibuku yang berulang tahun 19 Maret kemarin

Thursday, March 09, 2006

Panggung [Part 1]

Lagi suka dengan istilah 'panggung' setelah membaca beberapa halaman sebuah buku bagaimana menciptakan sebuah tokoh fiktif. Meskipun belum selesai membaca, tapi cukup mendapat gambaran tentang bagaimana cara pembaca berpikir tentang suatu tokoh dan bagaimana juga pembaca menyimpulkan suatu tokoh dari berbagai aktifitas yang terkait dengan tokoh tersebut. Kurang lebih seperti membaca sebuah buku psikologi bagaimana cara menilai kepribadian orang.

Kembali ke masalah panggung dan buku tadi. Saat menulis (lebih khusus saat membuat fiksi), seseorang bisa menjadi pelaku sekaligus sutradara. Penulis bisa menjadi orang yang terlibat di cerita tersebut atau juga berdiri berjarak dengan mengendalikan cerita yang dia buat. Saat berdiri di atas panggung ia bisa berbicara apa saja yang dia pikir ataupun menjadi sutradara yang hanya duduk di kursi sutradara sambil memegang skrip cerita. Nah semacam tersadar setelah membaca buku Stephen King on Writing, seseorang menulis cerita berdasarkan sebagian karakter yang dia punya. Jadi benar kalau kita bisa menebak pikiran orang dari cerita yang dia buat apalagi dari tulisan serius. Coba baca Little Prince (karangan sapa ya, pokoknya orang Prancis lah, susah nyebut namanya ^-^) kemudian bandingkan dengan kehidupan nyatanya. Mirip-mirip meski pakai simbol.

Nah kembali ke panggung lagi. (Kalau anda membaca tulisan di atas akan sedikit banyak tidak nyambung dengan tulisan selanjutnya, biasa penyakit kemana-mana dulu, gak bisa fokus...).

Apakah anda pandai 'membuat' panggung. Atau kalau istilah di atas, anda lebih banyak menjadi sutradara dalam suatu cerita daripada menjadi pelaku. Atau anda sering menjadi pelaku yang dapat mempengaruhi dramawan lain. Saya perjelas, apakah anda sering menjadikan orang lain perantara untuk mencapai tujuan anda atau sering mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu untuk kepentingan anda. Atau lebih jelas lagi anda termasuk orang yang manipulatif. Hati-hati anda bisa tergolong seorang psikopat (Ini menurut sebuah tulisan lho...) Lebih lengkapnya mungkin akan ditulis di lain kesempatan karena keterbatasan kondisi fisik saat menulis ini. Tunggu saja.

--Setelah kuliah beruntun 3 jam yang isinya hanya mendengarkan...-