-Saya sangat menikmati kehidupan malam di Bandung-. Hehehe. Gak jelas. Tapi yang jelas saya menuliskan itu di papan di depan bapak-bapak ibu-ibu yang hampir semuanya manajer HRD. Habisnya ketika saya minta contoh satu kalimat untuk simulasi mereka, malah menyebutkan kalimat itu. Yo wis, karena mereka yang minta, ya saya tulis kalimat itu. Kalau tidak salah kalimat itu hasil celetukan seorang bapak-bapak manajer salah satu perusahaan komunikasi yang cukup besar di Indonesia dan anehnya semuanya langsung mengiyakan. Dan saya berhasil mengerjai mereka hehehe. Saya menyuruh mereka menulis kalimat itu sebanyak 30 kali di kertas dan karena di tengah jalan mereka mengeluh pegel kecapekan nulis makanya simulasi tulis-menulis berhenti ketika mereka berhasil menulis kalimat itu sebanyak 20 buah.
Ceritanya waktu itu lagi simulasi penghitungan waktu baku. Karena sang trainer aslinya lagi ada keperluan, makanya saya menjadi trainer jadi-jadian. Sang trainer aslinya titip pesan, nanti kalau pas simulasi nyari waktu baku cari aja kalimat yang lucu pasti mereka seneng, trus suruh mereka nulis beberapa kali buat nyari waktu siklusnya. Sang trainer asli sih bilangnya cukup 5 atau 10 kali. Karena nanggung saya bulatin aja 30 kali hehe.
Pas bawain simulasinya... Bla bla bla. Waktu siklus ke waktu normal. Waktu normal ke waktu baku. Dst dst. Mereka nanya buanyaakkk banget. Untungnya sedikit-sedikit bisa terjawab. Meskipun harus menggali memori yang sudah mulai menua ini. Apalagi pas nanya rumus-rumus. Pfuih. Akhirnya pas bagian ngitung beban kerja diambil alih kembali oleh sang trainer asli. Dan tugas saya pun selesai. Harusnya simulasi ini dibawain oleh Mbak Liva yang jago banget tentang masalah-masalah seperti ini. Tanya aja tentang TA beliau hehehe.
Kejadian-kejadian selama beberapa hari terakhir ini mengingatkan saya pada sebuah SMS yang dikirimkan teman saya 3 tahun yang lalu. Tulisannya persis seperti ini : Life is like a box of chocolate. U dunno what u gonna get next. Dan kalau saya boleh menambahkan : But we'll always get a sweet one. Dan hari-hari terakhir inilah saya banyak mendapatkan hal-hal aneh. Dari tugas-tugas tambah aneh dari sang bos alias dosen pembimbing yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan TA saya sampai dengan TA saya yang semakin aneh karena dosen pembimbing satunya lagi membuat saya semakin bingung.
Meskipun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, 1 jam lagi bahkan 1 detik lagi, saat kita yakin bahwa kita sedang berjalan di jalan yang tepat dengan tujuan yang benar, tidak ada alasan kita untuk ragu bahwa Allah akan menurunkan yang terbaik buat kita. Asal kita ikhlas menjalaninya. Semoga.
Thursday, July 27, 2006
Wednesday, July 26, 2006
Layang-layang
"Lagi ngapain cah bagus?" sapa perempuan setengah baya itu kepada kami.
"Biasa Budhe. Lagi nungguin layangan," jawabku.
"Budhe duluan ya." Perempuan berkebaya itu berlalu sambil tersenyum.
"Monggo, Budhe," jawabku sembari sedikit menundukkan kepala.
Oiya aku lupa memperkenalkan diri. Sebut saja namaku Joko. Kami bertiga sedang melakukan pekerjaan rutin kami jika liburan sekolah tiba. Maklum di desa yang kecil ini tidak banyak hiburan yang bisa dicari begitu liburan tiba. Kami sedang mengamati layang-layang yang sedang beradu di langit desa kami.
"Eh, kamu lihat ndak layangan itu?" ujar temanku Sugeng sambil menunjuk 2 layang-layang sedang beradu.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Menurutmu yang bakalan menang yang mana?"
"Hmmm. Yang mana ya?" aku berpikir. "Kalau aku sih njagoin yang biru".
"Kayaknya kamu salah deh, Jok" ujar Sugeng memulai komentarnya. "Kamu tahu ndak siapa yang mainin layangan itu?"
"Si Wahyu," jawabku setengah ragu.
"Nah itu."
"Nah kenapa emange?"
"Kalau kamu belum tahu ya, nih sekarang tak kasih tahu," Sugeng kembali memulai komentarnya. Tidak tahu kenapa, muka Sugeng yang hitam kelam itu akan semakin hitam dan lucu ketika penyakit sok tahu akutnya itu kumat.
"Begini, Jok. Seumur hidup si Wahyu itu ngadu layangan dan belum pernah menang."
"Lha emange kenapa kalau belum pernah menang. Kali aja, pas ngadu ini dia menang." Aku tak mau kalah dengan komentar Sugeng.
"Nah itu dia Jok. Kalo bahasanya komentator-komentator bola di tipi. Dia ngono ndak punya mental juara atau tradisi kemenangan. Mau gludak-gluduk kayak apapun ndak bakalan bisa menang."
Halah. Si Sugeng ini ngomong apa tho.
"Tapi paling ndak dia kan tetep terus main layangan tho. Ndak peduli dia bakalan menang atau kalah, dia tetep ngadu," aku melanjutkan perlawananku.
"Iya, tapi dia bakalan tetep kalah tho," ujar Sugeng ngeyel.
"Belum tentu kan. Siapa tahu bisa menang. Daripada kamu yang ndak pernah mainin layangan itu. Lihat tuh, layanganmu sampai kucel ndak karuan gitu. Hehe," ledekku.
"Yo ben. Biarin." Pipi gembil Sugeng semakin tembem ketika ia merengut. Tambah lucu. Memang aneh si Sugeng ini. Seumur hidup membawa layang-layang kucel itu kemana-mana tapi seumur hidup juga belum pernah sekalipun mencoba menerbangkan layang-layang itu.
Siang ini sangat panas. Angin berputar-putar kecil, menerbangkan debu-debu jalan di depan pos kamling tempat kami melakukan pengamatan. Sesekali debu itu menyapa muka kami, menambah tebal lapisan debu yang sedari pagi menempel di muka kami.
"Hoalah. Kok ndak ada layangan yang putus tho. Kita sudah nganggur seharian gini." Akhirnya Heru angkat bicara juga.
"Mungkin, mainnya pada hati-hati Ru. Jadi ndak ada yang putus," jawab Sugeng.
"Lha mosok tho. Segitu banyak yang main layangan tapi ndak ada yang serius ngadunya."
"Kali aja benangnya kuat-kuat Ru. Lha wong kemarin mas Rudi yang tukang bikin senar gelasan itu ngomong sendiri ke aku kok. Kalo benang bikinannya makin lama makin kuat," jawabku.
"Ooo, ngono tho," jawab kedua temanku itu kompak.
"Tapi ndak mungkin Jok," Sugeng memulai argumennya. "Sekuat-kuatnya benang, kalau diadu makin lama ya pasti putus, Ndak mungkin bisa kuat terus."
"Wah, cerdas kamu Geng," jawabku mengiyakan daripada Sugeng meneruskan argumennya yang biasanya jarang pendek.
Tiba-tiba Heru bangkit dari tempat duduknya. Dia menuju ke sebuah pohon kelapa yang ada di samping pos kamling. Masih dengan diam, ia memanjat pohon kelapa sampai setengah pohon. Ia berhenti lalu mendongak ke atas.
"Ngapain tuh si Heru?" tanya Sugeng.
"Biasa. Jeniusnya lagi kumat," kataku sambil mengangkat bahu.
Kami terus memandangi Heru yang masih memeluk pohon kelapa itu dengan erat. Satu menit. Dua menit. Dia masih khusuk memeluk pohon kelapa itu. Ia mendongakkan kepala lagi, lalu pelan-pelan ia turun dari pohon itu dan menghampiri kami.
"Sebentar lagi bakalan ada layangan putus," kata Heru mendekati kami.
"Beneran?" tanya si Sugeng.
"Iya bener. Tuh layangan yang lagi diadu disana. Bentar lagi pasti ada yang kalah," kata Heru sambil menunjuk ke arah lapangan. "Siap-siap lari ke arah timur."
"Eh. Iya-iya," kami masih tercenung dengan penjelasan si Heru. Ia memang paling jago dalam prediksi kapan akan ada layang-layang yang putus dan kemana layang-layang putus itu akan terbang.
Kami memandangi layang-layang yang dimaksud Heru. Lama. Adu layang-layang masih terjadi dan tampaknya belum ada tanda-tanda layang-layang yang akan putus.
"Mana, Ru? Katanya bakal ada layangan yang putus. Tuh layangan ndak ada yang kalah-kalah," tanya Sugeng tidak sabar.
"Sst," Heru menempelkan telunjuk ke bibirnya. "Bentar lagi. Sabar aja. Orang sabar itu disayang Tuhan." Heru kembali diam dan melekatkan pandangannya ke arah layang-layang yang sedang beradu itu.
Tak lama kemudian.
"Hoe, layangannya putus," sorai kerumunan anak-anak yang sedari tadi menyesaki pinggir lapangan. Sesaat kemudian deru lari mereka meninggalkan debu-debu tanah kering.
"Ayo lari," komandoku.
"Lha, kita ndak bawa apa-apa?" tanya Sugeng sambil tergopoh-gopoh.
"Udah, ndak sempet lagi. Nanti layangannya keburu jauh," teriakku sambil berlari.
Kami pun berlari. Menyusul anak-anak lain yang telah lebih dahulu berlari. Aku kira ada sekitar 20 bahkan mungkin 30an anak yang ikut melakukan pengejaran layangan putus ini. Kadang aku pun tidak mengerti apa enaknya melakukan pengejaran layang-layang putus semacam ini. 1 layang-layang diperebutkan belasan bahkan puluhan orang. Tak jarang kaki ini harus menahan pegal tak terkira karena biasanya rute pengejaran sangat jauh ataupun baju kotor nan kumal akibat pergumulan dengan sesama pengejar untuk mendapatkan sebuah layang-layang. Iya, sebuah layang-layang. Layang-layang yang mungkin tidak utuh lagi saat dipegang oleh sang pemenang pengejaran. Mungkin hanya kepuasan yang didapatkan, tak lebih.
"Hoe, Ru. Kamu lari kemana?" tanyaku. Heru yang sedari tadi berlari paling depan di antara kami bertiga, tiba-tiba berbelok meninggalkan rombongan utama pengejaran.
"Bukannya belok kanan ya?" tanyaku sambil mengatur napas.
"Udahlah, ndak usah banyak nanya," timpal Sugeng. "Biasanya Heru selalu benar kalau nebak dimana layangan putus bakalan nyangkut."
Iya, layang-layang yang putus jarang sekali jatuh ke tanah. Layang-layang itu seringkali menyangkut di sesuatu. Bisa pohon, tiang listrik, atap rumah bahkan kawat jemuran. Dan orang yang dapat menebak dimana layang-layang itu akan menyangkut, biasanya ia akan keluar sebagai pemenang.
"Eh, bentar-bentar Ru," ujar Sugeng menghentikan derap lari kami bertiga.
"Ada apa?" tanya Heru.
"Serius ni, mau lewat sini?" kata Sugeng. "Ini kan kebunnya Pak Warto. Biasanya kalau ada orang yang masuk kebunnya, pasti dimarahi."
Tidak bergeming, Heru meneruskan kembali larinya. Dan itu membuat kami berdua terpaksa mengikutinya.
Belum lama kami berlari membelah kebun ini, aku mengenali sesosok wajah yang berdiri di bawah pohon pisang. Waduh. Itu pak Warto. Dengan refleks, kami mengubah lari kami menjadi gerakan jalan yang sangat kalem. Sambil membungkukkan badan, kami lewat di depan pak Warto sembari berkata," Nuwun sewu." Kami hanya bisa cengar-cengir menghadapi tatapan pak Warto yang mengikuti gerak langkah kami. Pfuih, horor.
Setelah cukup jauh meninggalkan pak Warto yang masih di bawah pohon pisang, kamipun berlari kembali.
Rintangan berikutnya adalah sawah.
"Ati-ati. Tanahnya empuk," kataku mengingatkan kedua temanku.
Cburrr. Separuh kaki kanan Sugeng masuk ke lumpur sawah.
"Hahahaha," aku dan Heru tak sanggup menahan tawa.
"Bantuin lah," teriak Sugeng.
Setelah menyelamatkan Sugeng dari lumpur sawah, kami berlari lagi mengikuti jejak layang-layang putus.
Aneh sekali. Anak-anak yang tadi ikut mengejar layang-layang itu seperti menghilang. Sepertinya hanya kami bertiga yang mengejar layang-layang itu.
Layang-layang itu tersangkut di pohon randu.
"Hosh....hosh..." suara nafas kami bertiga.
"Halah, pohon randu ini lagi," kata Sugeng lesu.
Pohon randu ini mempunyai reputasi yang sangat bagus. Dikenal sebagai pohon tertinggi di desa, entah kenapa, pohon ini seperti mempunyai magnet yang menarik layang-layang putus untuk menyangkut di rantingnya. Dan yang lebih aneh lagi, seperti kataku tadi, tidak ada satu pengejarpun yang kesini selain kami.
Mengetahui tidak ada lawan lagi dalam pengejaran ini, kamipun berisitirahat. Duduk beralaskan tanah, bersandar pada pohon randu ini.
"Geng, giliran kamu yang manjat ke atas," kataku pada Sugeng.
"Lho, kenapa aku?"
"Aku sama Heru kan udah kemarin. Jadi sekarang giliran kamu," balasku.
"Wah, ndak bisa gitu," Sugeng mendongak ke atas. "Tinggi banget. Kayaknya layangannya ndak bakalan bisa diambil."
"Belum dicoba kok bilang ndak bisa," timpalku.
"Mendingan aku pulang deh daripada manjat pohon buat ngambil layangan. Pasti ndak bisa," tegas Sugeng.
"Yah orang-orang yang kayak gini nih yang ndak bisa diajak maju," kataku. "Belum dicoba udah nyerah, belum jalan udah mundur duluan. Ndak inget kata pak haji kemarin. Kita itu ndak boleh bilang ndak bisa kalau belum dicoba. Cuma pengecut yang bilang mau mundur bahkan sebelum ia melangkah maju. Kita ndak mau tho dibilang pengecut."
"Iya sih Jok," kata Sugeng pelan. "Tapi aku tuh paling ndak bisa manjat. Jangankan manjat pohon randu. Lha wong manjat pohon jambu depan rumah aja ndak bisa hehehe."
"Ooo, gitu tho. Aku baru tahu. Yo wis, biar aku aja yang manjat."
Aku sudah ada di salah satu cabang pohon randu ini, tempat layang-layang tersangkut. Aku mengambil layang-layang itu dan menjatuhkan ke bawah. Kedua temanku itu telah bersiap di bawah. Sebelum turun, aku menyempatkan diri untuk melihat desaku dari ketinggian ini. Memang indah desaku, apalagi dilihat dari ketinggian.
Suara adzan Ashar khas mas Paimin mengiringiku menikmati keindahan desa dari ketinggian. Dan suara adzan inilah yang menjadi penanda kami bertiga untuk segera mengakhiri pekerjaan rutin liburan kami.
Aku meluncur ke bawah. Kami bertiga pulang. Akhir sebuah pengejaran.
"Hoe pren, jangan lupa. Besok stand by di pos kamling lagi ya."
Madiun, 5 Juli 2006
"Biasa Budhe. Lagi nungguin layangan," jawabku.
"Budhe duluan ya." Perempuan berkebaya itu berlalu sambil tersenyum.
"Monggo, Budhe," jawabku sembari sedikit menundukkan kepala.
Oiya aku lupa memperkenalkan diri. Sebut saja namaku Joko. Kami bertiga sedang melakukan pekerjaan rutin kami jika liburan sekolah tiba. Maklum di desa yang kecil ini tidak banyak hiburan yang bisa dicari begitu liburan tiba. Kami sedang mengamati layang-layang yang sedang beradu di langit desa kami.
"Eh, kamu lihat ndak layangan itu?" ujar temanku Sugeng sambil menunjuk 2 layang-layang sedang beradu.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Menurutmu yang bakalan menang yang mana?"
"Hmmm. Yang mana ya?" aku berpikir. "Kalau aku sih njagoin yang biru".
"Kayaknya kamu salah deh, Jok" ujar Sugeng memulai komentarnya. "Kamu tahu ndak siapa yang mainin layangan itu?"
"Si Wahyu," jawabku setengah ragu.
"Nah itu."
"Nah kenapa emange?"
"Kalau kamu belum tahu ya, nih sekarang tak kasih tahu," Sugeng kembali memulai komentarnya. Tidak tahu kenapa, muka Sugeng yang hitam kelam itu akan semakin hitam dan lucu ketika penyakit sok tahu akutnya itu kumat.
"Begini, Jok. Seumur hidup si Wahyu itu ngadu layangan dan belum pernah menang."
"Lha emange kenapa kalau belum pernah menang. Kali aja, pas ngadu ini dia menang." Aku tak mau kalah dengan komentar Sugeng.
"Nah itu dia Jok. Kalo bahasanya komentator-komentator bola di tipi. Dia ngono ndak punya mental juara atau tradisi kemenangan. Mau gludak-gluduk kayak apapun ndak bakalan bisa menang."
Halah. Si Sugeng ini ngomong apa tho.
"Tapi paling ndak dia kan tetep terus main layangan tho. Ndak peduli dia bakalan menang atau kalah, dia tetep ngadu," aku melanjutkan perlawananku.
"Iya, tapi dia bakalan tetep kalah tho," ujar Sugeng ngeyel.
"Belum tentu kan. Siapa tahu bisa menang. Daripada kamu yang ndak pernah mainin layangan itu. Lihat tuh, layanganmu sampai kucel ndak karuan gitu. Hehe," ledekku.
"Yo ben. Biarin." Pipi gembil Sugeng semakin tembem ketika ia merengut. Tambah lucu. Memang aneh si Sugeng ini. Seumur hidup membawa layang-layang kucel itu kemana-mana tapi seumur hidup juga belum pernah sekalipun mencoba menerbangkan layang-layang itu.
Siang ini sangat panas. Angin berputar-putar kecil, menerbangkan debu-debu jalan di depan pos kamling tempat kami melakukan pengamatan. Sesekali debu itu menyapa muka kami, menambah tebal lapisan debu yang sedari pagi menempel di muka kami.
"Hoalah. Kok ndak ada layangan yang putus tho. Kita sudah nganggur seharian gini." Akhirnya Heru angkat bicara juga.
"Mungkin, mainnya pada hati-hati Ru. Jadi ndak ada yang putus," jawab Sugeng.
"Lha mosok tho. Segitu banyak yang main layangan tapi ndak ada yang serius ngadunya."
"Kali aja benangnya kuat-kuat Ru. Lha wong kemarin mas Rudi yang tukang bikin senar gelasan itu ngomong sendiri ke aku kok. Kalo benang bikinannya makin lama makin kuat," jawabku.
"Ooo, ngono tho," jawab kedua temanku itu kompak.
"Tapi ndak mungkin Jok," Sugeng memulai argumennya. "Sekuat-kuatnya benang, kalau diadu makin lama ya pasti putus, Ndak mungkin bisa kuat terus."
"Wah, cerdas kamu Geng," jawabku mengiyakan daripada Sugeng meneruskan argumennya yang biasanya jarang pendek.
Tiba-tiba Heru bangkit dari tempat duduknya. Dia menuju ke sebuah pohon kelapa yang ada di samping pos kamling. Masih dengan diam, ia memanjat pohon kelapa sampai setengah pohon. Ia berhenti lalu mendongak ke atas.
"Ngapain tuh si Heru?" tanya Sugeng.
"Biasa. Jeniusnya lagi kumat," kataku sambil mengangkat bahu.
Kami terus memandangi Heru yang masih memeluk pohon kelapa itu dengan erat. Satu menit. Dua menit. Dia masih khusuk memeluk pohon kelapa itu. Ia mendongakkan kepala lagi, lalu pelan-pelan ia turun dari pohon itu dan menghampiri kami.
"Sebentar lagi bakalan ada layangan putus," kata Heru mendekati kami.
"Beneran?" tanya si Sugeng.
"Iya bener. Tuh layangan yang lagi diadu disana. Bentar lagi pasti ada yang kalah," kata Heru sambil menunjuk ke arah lapangan. "Siap-siap lari ke arah timur."
"Eh. Iya-iya," kami masih tercenung dengan penjelasan si Heru. Ia memang paling jago dalam prediksi kapan akan ada layang-layang yang putus dan kemana layang-layang putus itu akan terbang.
Kami memandangi layang-layang yang dimaksud Heru. Lama. Adu layang-layang masih terjadi dan tampaknya belum ada tanda-tanda layang-layang yang akan putus.
"Mana, Ru? Katanya bakal ada layangan yang putus. Tuh layangan ndak ada yang kalah-kalah," tanya Sugeng tidak sabar.
"Sst," Heru menempelkan telunjuk ke bibirnya. "Bentar lagi. Sabar aja. Orang sabar itu disayang Tuhan." Heru kembali diam dan melekatkan pandangannya ke arah layang-layang yang sedang beradu itu.
Tak lama kemudian.
"Hoe, layangannya putus," sorai kerumunan anak-anak yang sedari tadi menyesaki pinggir lapangan. Sesaat kemudian deru lari mereka meninggalkan debu-debu tanah kering.
"Ayo lari," komandoku.
"Lha, kita ndak bawa apa-apa?" tanya Sugeng sambil tergopoh-gopoh.
"Udah, ndak sempet lagi. Nanti layangannya keburu jauh," teriakku sambil berlari.
Kami pun berlari. Menyusul anak-anak lain yang telah lebih dahulu berlari. Aku kira ada sekitar 20 bahkan mungkin 30an anak yang ikut melakukan pengejaran layangan putus ini. Kadang aku pun tidak mengerti apa enaknya melakukan pengejaran layang-layang putus semacam ini. 1 layang-layang diperebutkan belasan bahkan puluhan orang. Tak jarang kaki ini harus menahan pegal tak terkira karena biasanya rute pengejaran sangat jauh ataupun baju kotor nan kumal akibat pergumulan dengan sesama pengejar untuk mendapatkan sebuah layang-layang. Iya, sebuah layang-layang. Layang-layang yang mungkin tidak utuh lagi saat dipegang oleh sang pemenang pengejaran. Mungkin hanya kepuasan yang didapatkan, tak lebih.
"Hoe, Ru. Kamu lari kemana?" tanyaku. Heru yang sedari tadi berlari paling depan di antara kami bertiga, tiba-tiba berbelok meninggalkan rombongan utama pengejaran.
"Bukannya belok kanan ya?" tanyaku sambil mengatur napas.
"Udahlah, ndak usah banyak nanya," timpal Sugeng. "Biasanya Heru selalu benar kalau nebak dimana layangan putus bakalan nyangkut."
Iya, layang-layang yang putus jarang sekali jatuh ke tanah. Layang-layang itu seringkali menyangkut di sesuatu. Bisa pohon, tiang listrik, atap rumah bahkan kawat jemuran. Dan orang yang dapat menebak dimana layang-layang itu akan menyangkut, biasanya ia akan keluar sebagai pemenang.
"Eh, bentar-bentar Ru," ujar Sugeng menghentikan derap lari kami bertiga.
"Ada apa?" tanya Heru.
"Serius ni, mau lewat sini?" kata Sugeng. "Ini kan kebunnya Pak Warto. Biasanya kalau ada orang yang masuk kebunnya, pasti dimarahi."
Tidak bergeming, Heru meneruskan kembali larinya. Dan itu membuat kami berdua terpaksa mengikutinya.
Belum lama kami berlari membelah kebun ini, aku mengenali sesosok wajah yang berdiri di bawah pohon pisang. Waduh. Itu pak Warto. Dengan refleks, kami mengubah lari kami menjadi gerakan jalan yang sangat kalem. Sambil membungkukkan badan, kami lewat di depan pak Warto sembari berkata," Nuwun sewu." Kami hanya bisa cengar-cengir menghadapi tatapan pak Warto yang mengikuti gerak langkah kami. Pfuih, horor.
Setelah cukup jauh meninggalkan pak Warto yang masih di bawah pohon pisang, kamipun berlari kembali.
Rintangan berikutnya adalah sawah.
"Ati-ati. Tanahnya empuk," kataku mengingatkan kedua temanku.
Cburrr. Separuh kaki kanan Sugeng masuk ke lumpur sawah.
"Hahahaha," aku dan Heru tak sanggup menahan tawa.
"Bantuin lah," teriak Sugeng.
Setelah menyelamatkan Sugeng dari lumpur sawah, kami berlari lagi mengikuti jejak layang-layang putus.
Aneh sekali. Anak-anak yang tadi ikut mengejar layang-layang itu seperti menghilang. Sepertinya hanya kami bertiga yang mengejar layang-layang itu.
Layang-layang itu tersangkut di pohon randu.
"Hosh....hosh..." suara nafas kami bertiga.
"Halah, pohon randu ini lagi," kata Sugeng lesu.
Pohon randu ini mempunyai reputasi yang sangat bagus. Dikenal sebagai pohon tertinggi di desa, entah kenapa, pohon ini seperti mempunyai magnet yang menarik layang-layang putus untuk menyangkut di rantingnya. Dan yang lebih aneh lagi, seperti kataku tadi, tidak ada satu pengejarpun yang kesini selain kami.
Mengetahui tidak ada lawan lagi dalam pengejaran ini, kamipun berisitirahat. Duduk beralaskan tanah, bersandar pada pohon randu ini.
"Geng, giliran kamu yang manjat ke atas," kataku pada Sugeng.
"Lho, kenapa aku?"
"Aku sama Heru kan udah kemarin. Jadi sekarang giliran kamu," balasku.
"Wah, ndak bisa gitu," Sugeng mendongak ke atas. "Tinggi banget. Kayaknya layangannya ndak bakalan bisa diambil."
"Belum dicoba kok bilang ndak bisa," timpalku.
"Mendingan aku pulang deh daripada manjat pohon buat ngambil layangan. Pasti ndak bisa," tegas Sugeng.
"Yah orang-orang yang kayak gini nih yang ndak bisa diajak maju," kataku. "Belum dicoba udah nyerah, belum jalan udah mundur duluan. Ndak inget kata pak haji kemarin. Kita itu ndak boleh bilang ndak bisa kalau belum dicoba. Cuma pengecut yang bilang mau mundur bahkan sebelum ia melangkah maju. Kita ndak mau tho dibilang pengecut."
"Iya sih Jok," kata Sugeng pelan. "Tapi aku tuh paling ndak bisa manjat. Jangankan manjat pohon randu. Lha wong manjat pohon jambu depan rumah aja ndak bisa hehehe."
"Ooo, gitu tho. Aku baru tahu. Yo wis, biar aku aja yang manjat."
Aku sudah ada di salah satu cabang pohon randu ini, tempat layang-layang tersangkut. Aku mengambil layang-layang itu dan menjatuhkan ke bawah. Kedua temanku itu telah bersiap di bawah. Sebelum turun, aku menyempatkan diri untuk melihat desaku dari ketinggian ini. Memang indah desaku, apalagi dilihat dari ketinggian.
Suara adzan Ashar khas mas Paimin mengiringiku menikmati keindahan desa dari ketinggian. Dan suara adzan inilah yang menjadi penanda kami bertiga untuk segera mengakhiri pekerjaan rutin liburan kami.
Aku meluncur ke bawah. Kami bertiga pulang. Akhir sebuah pengejaran.
"Hoe pren, jangan lupa. Besok stand by di pos kamling lagi ya."
Madiun, 5 Juli 2006
Wednesday, July 19, 2006
Anak Kecil
I am one
I am child
I’m the saint who marches in love
........
(Child - Nidji)
Anak kecil katanya sangat jujur. Anak kecil spontan berekspresi meskipun ekspresinya kadang-kadang menyakiti orang-orang yang ada di sekitarnya. Anak kecil katanya sangat peka. Anak kecil katanya bagai selembar kertas polos yang siap diwarnai. Anak kecil katanya seperti sepon yang menyerap segala sesuatu dengan cepat.
Anak kecil akan menjadi bintang. Saya, kakak saya, sepupu-sepupu saya yang sekarang telah kuliah bahkan bekerja pernah menjadi anak-anak kecil di keluarga besar kakek saya. Dan sekarang anak-anak kecil itu telah digantikan oleh sepupu-sepupu saya yang masih duduk di SD dan keponakan-keponakan saya yang masih kecil-kecil. Merekalah yang menjadi bintang sekarang. Hal itu terasa saat kemarin saya berkumpul dengan keluarga besar kakek. Di saat eyang putri, eyang kakung, pakpuh, bupuh, om dan bulik menanyakan perihal kapan lulus, mau kerja dimana, sudah punya calon apa belum dan sejenisnya, saya harus merelakan diri saya menjadi bahan olokan anak-anak kecil itu bahkan menjadi sasaran pukul setiap saat. Bergantian melayani obrolan antara anak kecil vs sesepuh-sepuh keluarga atau menggendong sepupu kecil saya yang centilnya minta ampun. Dan ajaibnya (itulah keajaiban yang kita dapatkan saat bersama anak kecil) saya melakukannya dengan baik-baik saja.
Itulah anak kecil. Kita bisa belajar banyak hal dari anak kecil meskipun masing-masing kita pernah menjadi anak kecil. Mengapa kita sabar bahkan terkadang sangat sabar menghadapi polah tingkah anak kecil. Mengapa kita bertutur dengan sangat sopan dan terkadang menggunakan bahasa mereka saat berbicara dengan mereka. Mengapa kita mati-matian berbuat apa saja hanya untuk melihat sebulir senyum di bibir mereka ataupun hanya karena tidak tega melihat air mata yang mulai tampak di sudut mata mereka. Mengapa hal-hal itu kadang sulit kita lakukan kepada orang dewasa.
Bandung, 19 Juli 2006
I am child
I’m the saint who marches in love
........
(Child - Nidji)
Anak kecil katanya sangat jujur. Anak kecil spontan berekspresi meskipun ekspresinya kadang-kadang menyakiti orang-orang yang ada di sekitarnya. Anak kecil katanya sangat peka. Anak kecil katanya bagai selembar kertas polos yang siap diwarnai. Anak kecil katanya seperti sepon yang menyerap segala sesuatu dengan cepat.
Anak kecil akan menjadi bintang. Saya, kakak saya, sepupu-sepupu saya yang sekarang telah kuliah bahkan bekerja pernah menjadi anak-anak kecil di keluarga besar kakek saya. Dan sekarang anak-anak kecil itu telah digantikan oleh sepupu-sepupu saya yang masih duduk di SD dan keponakan-keponakan saya yang masih kecil-kecil. Merekalah yang menjadi bintang sekarang. Hal itu terasa saat kemarin saya berkumpul dengan keluarga besar kakek. Di saat eyang putri, eyang kakung, pakpuh, bupuh, om dan bulik menanyakan perihal kapan lulus, mau kerja dimana, sudah punya calon apa belum dan sejenisnya, saya harus merelakan diri saya menjadi bahan olokan anak-anak kecil itu bahkan menjadi sasaran pukul setiap saat. Bergantian melayani obrolan antara anak kecil vs sesepuh-sepuh keluarga atau menggendong sepupu kecil saya yang centilnya minta ampun. Dan ajaibnya (itulah keajaiban yang kita dapatkan saat bersama anak kecil) saya melakukannya dengan baik-baik saja.
Itulah anak kecil. Kita bisa belajar banyak hal dari anak kecil meskipun masing-masing kita pernah menjadi anak kecil. Mengapa kita sabar bahkan terkadang sangat sabar menghadapi polah tingkah anak kecil. Mengapa kita bertutur dengan sangat sopan dan terkadang menggunakan bahasa mereka saat berbicara dengan mereka. Mengapa kita mati-matian berbuat apa saja hanya untuk melihat sebulir senyum di bibir mereka ataupun hanya karena tidak tega melihat air mata yang mulai tampak di sudut mata mereka. Mengapa hal-hal itu kadang sulit kita lakukan kepada orang dewasa.
Bandung, 19 Juli 2006
Tuesday, July 18, 2006
Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Judul : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penyunting : Andityas Prabantoro
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : 294 hlm
Harga : Rp, 32.500,-
Buku yang berjudul asli Bibbi Bokkens Magische Bibliothek (1993) ini merupakan novel karya Jostein Gaarder, penulis berkebangsaan Norwegia. Novel yang konon katanya diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Mizan ini belum pernah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tidak tahu apakah bahasa asli dari novel ini bahasa Jerman atau bukan. Tapi yang jelas bahasa Norwegia masih satu rumpun dengan bahasa Jerman (Wikipedia).
Mungkin berbeda dengan novel karya Gaarder yang lain. Jika novel semacam Sophie World, Orange Girl, The Solitaire Mystery dll menekankan perenungan hidup, maka novel ini lebih bersifat petualangan, pemecahan teka-teki dan sejenisnya. Warna tulisan Gaarder masih terlihat jelas pada novelnya ini meskipun ia bertandem dengan Klaus Hagerup, seorang penulis fiksi remaja dan anak berkebangsaan Norwegia juga. Novel yang cukup pendek (untuk ukuran sebuah novel) ini padat dengan pengetahuan. Jadi meski novelnya tidak begitu tebal tetapi novel ini cukup 'berat'. Meskipun berat tetapi novel ini cukup menghibur.
Anda akan menemukan petualangan dua orang bersaudara, Berit dan Nils Boyum yang tinggal di kota berbeda, Oslo dan Fjaerland - Norwegia. Mereka saling mengirimkan buku surat yang menceritakan pengalaman mereka dengan Bibbi Bokken dan beberapa tokoh lain yang seakan berhubungan untuk mendapatkan buku surat mereka. Dari petualangan yang mereka tuliskan di buku surat sampai kaki mereka benar-benar menginjak perpustakaan ajaib Bibbi Bokken. Cerita yang berbau konspiratif ini tidak mudah untuk ditebak jalan ceritanya (minimal buat saya) bahkan ketika sampai pada lembar-lembar halaman terakhir.
Cerita yang dituturkan Gaarder ini dikemas dalam format yang unik. Terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama bernama Buku Surat dan bagian kedua bernama Perpustakaan. Cerita ini ditulis dalam sudut pandang orang pertama 'Aku'. Tetapi yang unik ada dua 'Aku' dalam cerita ini. 'Aku' milik Berit dan satu lagi milik Nils. Sehingga dibutuhkan konsentrasi yang lebih ketika membaca buku ini.
Anda akan disuguhi keajaiban dunia yang disusun oleh 26 huruf. Anda akan dijejali dengan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan dunia buku. Dan buat anda, para pencinta buku, novel ini sangat cocok untuk dibaca. Anda akan semakin mencintai buku-buku yang anda miliki (dan yang berhasil anda pinjam :p) setelah membaca cerita ini. Percayalah :).
Seperti komentar yang tertera pada sampul buku:
-Buku terbaik mengenai buku dan budaya baca yang ada saat ini-
Bandung, 18 Juli 2006
Wednesday, July 12, 2006
Selamat buat Ian dan Hasna
Aku turun melewati tangga ini. Aku melihat seorang ibu setengah baya, seorang pemuda yang membawa tas belanjaan dan seorang perempuan berjilbab yang menggandeng tangan pemuda itu. Aku pun tersenyum. Itu temanku, ibunya dan tentu saja istrinya. Aku menggaruk-garuk kepala tidak gatal. Iri. Mereka baru menikah sebulan yang lalu. Aku menghampiri mereka. Bersalaman dengan ibunya, temanku itu dan hanya bersalaman jarak jauh dengan istrinya hehe.
Buat Ian dan Hasna, selamat ya. Maaf kemarin ndak bisa datang pas akad. Biasa sok sibuk:D.
Buat Ian dan Hasna, selamat ya. Maaf kemarin ndak bisa datang pas akad. Biasa sok sibuk:D.
Wednesday, June 28, 2006
Ketinggalan Kereta
Ada yang pernah baca tulisan yang bunyinya seperti ini?
"Kalau kau ingin tahu arti 1 tahun, tanyakan kepada murid yang tidak naik kelas...." dst dst
Pokoknya intinya seperti itu.
Dan saya juga punya tulisan sendiri semacam itu.
"Kalau kau ingin tahu arti 10 menit, tanyakan kepada sopir angkot S*dang S*rang C*ringin yang seenak hati ngetem di Balubur, depan Rektorat alias Annex, Unisba, BEC & Gramedia dst dst.
Kalau kau ingin tahu arti 10 menit, tanyakan seberapa besar dendamku ke sopir angkot s****n itu karena membuatku tertinggal kereta api eksekutif"
Tulisan di atas mewakili awal kisah perjalanan aneh saya ke Surabaya. Perjalanan Bandung-Surabaya dengan membawa misi tertentu hanya dilewati dalam 2 malam 1 hari alias bermalam di kendaraan alias pagi sampai Surabaya, sore balik lagi ke Bandung. Perjalanan yang mirip ketika dulu saya ke Jogja dan dengan komentar yang hampir sama juga "Nggak capek tuh?". Saya cuma bisa membatin, "Iya sih capek, tapi gimana lagi."
Diawali dengan ketinggalan kereta eksekutif. Waktu itu mulai panik. Akhirnya naik kereta apa saja asal ke arah timur dan berangkat lebih dari jam 18.45. Pokoknya berangkat malam itu juga, gak peduli. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Surabaya meski telat beberapa jam. Setelah menyelesaikan semua urusan di Surabaya, saya langsung ke stasiun. Karena masih penasaran dengan sebuah kereta eksekutif yang bernama Turangga, maka saya memesan tiket kereta itu untuk balik ke Bandung. Karena tidak ingin ketinggalan kereta lagi, saya stand by di stasiun beberapa jam sebelum keberangkatan. Lagipula saya juga tidak tahu mesti kemana lagi. Berputar-putar di sekitar stasiun mencari sebuah makhluk bernama Kue Lapis tapi tidak ketemu. Ya sudah, akhirnya duduk manis di ruang tunggu sambil menikmati udara panas kota Surabaya.
Yang membuat saya lebih menyesal lagi ketinggalan kereta itu adalah setelah tahu fasilitas yang disediakan oleh kereta yang bernama Turangga itu. Makan malam, kursi empuk^ ^, toilet yang cukup bersih, AC, bantal, selimut dan yang paling penting adalah bebas asap rokok. "Yah hitung2 beramal buat PT. KA yang hampir .....," kata teman saya setelah tahu saya ketinggalan kereta itu. Hehehe. Bener gitu bang Trian :p.
"Kalau kau ingin tahu arti 1 tahun, tanyakan kepada murid yang tidak naik kelas...." dst dst
Pokoknya intinya seperti itu.
Dan saya juga punya tulisan sendiri semacam itu.
"Kalau kau ingin tahu arti 10 menit, tanyakan kepada sopir angkot S*dang S*rang C*ringin yang seenak hati ngetem di Balubur, depan Rektorat alias Annex, Unisba, BEC & Gramedia dst dst.
Kalau kau ingin tahu arti 10 menit, tanyakan seberapa besar dendamku ke sopir angkot s****n itu karena membuatku tertinggal kereta api eksekutif"
Tulisan di atas mewakili awal kisah perjalanan aneh saya ke Surabaya. Perjalanan Bandung-Surabaya dengan membawa misi tertentu hanya dilewati dalam 2 malam 1 hari alias bermalam di kendaraan alias pagi sampai Surabaya, sore balik lagi ke Bandung. Perjalanan yang mirip ketika dulu saya ke Jogja dan dengan komentar yang hampir sama juga "Nggak capek tuh?". Saya cuma bisa membatin, "Iya sih capek, tapi gimana lagi."
Diawali dengan ketinggalan kereta eksekutif. Waktu itu mulai panik. Akhirnya naik kereta apa saja asal ke arah timur dan berangkat lebih dari jam 18.45. Pokoknya berangkat malam itu juga, gak peduli. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Surabaya meski telat beberapa jam. Setelah menyelesaikan semua urusan di Surabaya, saya langsung ke stasiun. Karena masih penasaran dengan sebuah kereta eksekutif yang bernama Turangga, maka saya memesan tiket kereta itu untuk balik ke Bandung. Karena tidak ingin ketinggalan kereta lagi, saya stand by di stasiun beberapa jam sebelum keberangkatan. Lagipula saya juga tidak tahu mesti kemana lagi. Berputar-putar di sekitar stasiun mencari sebuah makhluk bernama Kue Lapis tapi tidak ketemu. Ya sudah, akhirnya duduk manis di ruang tunggu sambil menikmati udara panas kota Surabaya.
Yang membuat saya lebih menyesal lagi ketinggalan kereta itu adalah setelah tahu fasilitas yang disediakan oleh kereta yang bernama Turangga itu. Makan malam, kursi empuk^ ^, toilet yang cukup bersih, AC, bantal, selimut dan yang paling penting adalah bebas asap rokok. "Yah hitung2 beramal buat PT. KA yang hampir .....," kata teman saya setelah tahu saya ketinggalan kereta itu. Hehehe. Bener gitu bang Trian :p.
Tuesday, June 20, 2006
Kupu-kupu

Aku menguyah makanan yang ada di mulutku sambil berjalan kecil.
"Adek. Makannya jangan sambil jalan donk. Kan nggak baik," kata Bundaku.
Aku berhenti sebentar lalu berjalan kembali sambil tetap menguyah makanan yang ada di mulutku.
"Bunda, aku mau lihat kupu-kupu itu," kataku sambil mengarahkan telunjukku ke arah makhluk bersayap itu.
"Boleh," kata Bundaku dengan sangat sabar.
"Bunda. Aku tidak bisa menangkapnya," ujarku setengah sedih.
"Mungkin adek harus mengejarnya."
Aku segera mempercepat langkahku, setengah berlari, mengejar kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu berbalik arah menuju ke bundaku. Aku tetap mengejarnya.
"Tidak bisa, Bunda," teriakku setengah kesal.
"Tanganmu kurang tinggi meraih kupu-kupu itu. Coba kau angkat tanganmu setinggi-tingginya. Sampai kau bisa menyentuh kupu-kupu itu."
Aku masih berlari. Aku berusaha merentangkan tangan sepanjang-panjangnya, berusaha menggapai kupu-kupu itu. Tapi tetap tidak bisa.
"Ah, tidak bisa, Bunda."
"Apa mau Bunda bantu menangkapnya?" bundaku bertanya.
"Ah, nggak usah bunda. Aku ingin menangkapnya sendiri. Kan nggak seru jadinya."
"Ya udah."
Beberapa menit aku mengejarnya. Tapi tetap saja tidak bisa.
"Adek kesini dulu," kata Bundaku.
Aku yang hampir menyerah, menuruti kata-kata bundaku dan untuk sementara menghentikan pengejaran.
"Adek, makannya dihabiskan dulu," ucap Bundaku dengan sangat lembut.
"Nanti kalau makanannya dihabiskan, adek akan cepet gedhe. Adik akan setinggi Bunda dan bisa menangkap kupu-kupu itu."
"Gitu ya Bunda?" tanyaku memastikan.
"Iya."
Lalu Bundaku menyuapkan sesendok makanan ke mulutku. Dan aku tersenyum sambil memandangi kupu-kupu yang terbang lincah mengitari kami.
Contre-jour

Kontras. Beda. Kadang itu yang sering kita butuhkan dalam hidup ini. Pernah mendengar daerah abu-abu? Daerah yang bukan hitam, tapi putihpun bukan. Daerah peleburan antara dua hal yang sebetulnya berbeda. Gradasi warna menyebabkan kita tidak merasakan perbedaan yang jelas antara keduanya. Mata kita terlalu terpana dengan kelembutan halus yang berubah pelan antara hitam dan putih.
Dunia tidak seperti bilangan biner dimana nol dan satu dapat dibedakan dengan sangat jelas. Dunia seperti sebuah palet dimana setiap warna bisa tumpah ruah di atasnya, bercampur dengan warna yang lain dan meninggalkan jejak warna murninya. Warna yang terkadang menjadi sangat indah tetapi sering juga menipu.
Beruntunglah orang-orang yang bisa membedakan berbagai macam warna yang berbaur di kanvas dunia ini. Beruntunglah orang-orang yang mampu memilah satu warna dari jutaan warna yang lain dan mencerap warna yang benar-benar baik baginya dan murni. Beruntunglah orang-orang yang dikelilingi oleh orang-orang yang mampu menyaring dan menyuling setetes tinta menjadi setetes air murni yang menyegarkan. Beruntunglah orang-orang yang mempunyai warna yang tegas dan mampu mewarnai yang lain dengan kemurnian warnanya itu.
Ah, andai dunia ini hanya hitam dan putih. Tapi tidak.....
Tidak semudah itu menciptakan kontras yang kuat antara hitam dan putih, terang dan gelap.
Saturday, June 17, 2006
Cuma butuh istirahat
Mungkin tidak penting, tapi saya hanya mau berbagi ;p.
Kemarin, saya memecahkan sebuah rekor yang nggak penting. Pertama kali ke dokter selama kuliah 4 tahun di ITB dan pertama kali ke dokter sendirian alias nggak ada yang nemenin. Terakhir ke dokter, seingat saya 4 tahun yang lalu dan masih ditemani ibuku tersayang hehehe. Entah kenapa saya sangat malas berhubungan dengan obat, dokter, rumah sakit dan sejenisnya.
Berawal dari rasa penasaran terhadap sakit yang misterius, saya memutuskan untuk cek darah. Pikir saya, sekalian saja cek darah biar ketahuan kalo ada sakit yang aneh-aneh.
"Mbak mo cek darah."
"Cek darah apa mas?"
"Widal gitu? Ada ya mbak?" jawabku sangat tidak yakin sambil ngelihatin mbaknya. Abis mbaknya 'lucu' sih. Haha :D gak penting.
"Sekalian trombositnya?"
"Emm. Ya deh. Biar skalian."
"Emang udah berapa lama ngerasa sakitnya?"
"Ya, sebulanan lah mbak."
"Ha, sebulan." Saya cuma bisa tersenyum.
Pasti bukan mbak ini yang bakalan ngambil sampel darahnya. Eh ternyata salah. Mbak ini juga yang ngambil sampel darah. Akhirnya lengan baju dilipat sampai abis, lengan atas diikat sama karet (persis kayak orang mo ngobat) trus darah diambil pake jarum suntik. Lumayan ngilu dan bekas suntiknya masih ada sampai sekarang.
Nunggu seperempat jam buat tahu hasil tes darahnya.
"Gimana mbak?"
"Trombositnya normal. Tipus juga nggak ada. Tapi ini mungkin yang nyebabin demam, " sambil nunjukin angka di hasil cek darah yang sama sekali saya tidak tahu artinya apa. Alhamdulillah.
"Jadi gimana mbak?"
"Mendingan mas sekarang ke dokter. Nanti dokternya pasti tahu kok ngasih obat apa."
"Oh gitu ya mbak. Ya udah mbak. Makasih."
"Cepet sembuh ya mas."
"Eh ya mbak. Makasih."
Berikutnya ke dokter rekomendasi seorang teman.
"Sakit apa?"
Sedikit blablabla tentang maag dan demam trus nunjukin hasil cek darah.
Singkat kata setelah diperiksa dokternya bilang, cuma butuh istirahat.
"Udah sholat mas?". Waktu itu sedang maghrib.
"Belum dok."
"Ya udah sholat dulu saja. Biar saya ambil obatnya dulu."
Setelah sholat.
"Jadi beneran gak papa ya, dok?" memastikan.
"Iya. Cuma butuh istirahat. Ini obat maagnya diminum 3 kali sehari. Trus obat ini kalo demam saja."
"Terima kasih dok."
"Cepet sembuh ya. Syafakallah," kata dokternya.
Ziiing. Hampir saja mau saya balas dengan ucapan jazakallah (lha wong seharusnya jazakillah) tapi gak jadi. Langsung aja cabut dengan sebelumnya bilang "Makasih banyak Dok". Wah bisa malu nih kalo salah jawab hehe.
Setelah semua kejadian itu saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Mungkin seperti anak kecil yang rewel kalo harus ke dokter tetapi lega setelah tahu kalo dokter itu bukan seperti seorang nenek sihir yang suka makan anak kecil. Hahaha benar-benar gak penting. Paling tidak saya mempunyai perspektif baru tentang obat (yang dikasih dokter), dokter, rumah sakit (dan dokternya) dan hal-hal sejenis (pokoknya yang berhubungan dengan dokter). Btw, emang dokter itu kebanyakan baik dan 'lucu' ya???hehehe.
----------------------------------
Syafakallah : semoga Allah menyembuhkanmu
Jazakallah (untuk perempuan jazakillah) : semoga Allah membalas kebaikanmu
Kemarin, saya memecahkan sebuah rekor yang nggak penting. Pertama kali ke dokter selama kuliah 4 tahun di ITB dan pertama kali ke dokter sendirian alias nggak ada yang nemenin. Terakhir ke dokter, seingat saya 4 tahun yang lalu dan masih ditemani ibuku tersayang hehehe. Entah kenapa saya sangat malas berhubungan dengan obat, dokter, rumah sakit dan sejenisnya.
Berawal dari rasa penasaran terhadap sakit yang misterius, saya memutuskan untuk cek darah. Pikir saya, sekalian saja cek darah biar ketahuan kalo ada sakit yang aneh-aneh.
"Mbak mo cek darah."
"Cek darah apa mas?"
"Widal gitu? Ada ya mbak?" jawabku sangat tidak yakin sambil ngelihatin mbaknya. Abis mbaknya 'lucu' sih. Haha :D gak penting.
"Sekalian trombositnya?"
"Emm. Ya deh. Biar skalian."
"Emang udah berapa lama ngerasa sakitnya?"
"Ya, sebulanan lah mbak."
"Ha, sebulan." Saya cuma bisa tersenyum.
Pasti bukan mbak ini yang bakalan ngambil sampel darahnya. Eh ternyata salah. Mbak ini juga yang ngambil sampel darah. Akhirnya lengan baju dilipat sampai abis, lengan atas diikat sama karet (persis kayak orang mo ngobat) trus darah diambil pake jarum suntik. Lumayan ngilu dan bekas suntiknya masih ada sampai sekarang.
Nunggu seperempat jam buat tahu hasil tes darahnya.
"Gimana mbak?"
"Trombositnya normal. Tipus juga nggak ada. Tapi ini mungkin yang nyebabin demam, " sambil nunjukin angka di hasil cek darah yang sama sekali saya tidak tahu artinya apa. Alhamdulillah.
"Jadi gimana mbak?"
"Mendingan mas sekarang ke dokter. Nanti dokternya pasti tahu kok ngasih obat apa."
"Oh gitu ya mbak. Ya udah mbak. Makasih."
"Cepet sembuh ya mas."
"Eh ya mbak. Makasih."
Berikutnya ke dokter rekomendasi seorang teman.
"Sakit apa?"
Sedikit blablabla tentang maag dan demam trus nunjukin hasil cek darah.
Singkat kata setelah diperiksa dokternya bilang, cuma butuh istirahat.
"Udah sholat mas?". Waktu itu sedang maghrib.
"Belum dok."
"Ya udah sholat dulu saja. Biar saya ambil obatnya dulu."
Setelah sholat.
"Jadi beneran gak papa ya, dok?" memastikan.
"Iya. Cuma butuh istirahat. Ini obat maagnya diminum 3 kali sehari. Trus obat ini kalo demam saja."
"Terima kasih dok."
"Cepet sembuh ya. Syafakallah," kata dokternya.
Ziiing. Hampir saja mau saya balas dengan ucapan jazakallah (lha wong seharusnya jazakillah) tapi gak jadi. Langsung aja cabut dengan sebelumnya bilang "Makasih banyak Dok". Wah bisa malu nih kalo salah jawab hehe.
Setelah semua kejadian itu saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Mungkin seperti anak kecil yang rewel kalo harus ke dokter tetapi lega setelah tahu kalo dokter itu bukan seperti seorang nenek sihir yang suka makan anak kecil. Hahaha benar-benar gak penting. Paling tidak saya mempunyai perspektif baru tentang obat (yang dikasih dokter), dokter, rumah sakit (dan dokternya) dan hal-hal sejenis (pokoknya yang berhubungan dengan dokter). Btw, emang dokter itu kebanyakan baik dan 'lucu' ya???hehehe.
----------------------------------
Syafakallah : semoga Allah menyembuhkanmu
Jazakallah (untuk perempuan jazakillah) : semoga Allah membalas kebaikanmu
Sunday, June 11, 2006
Selaksa Makna Lagi dari Pangeran Kecil
Entah berapa kali membaca buku Little Prince karangan Antoine de Saint Exupery dan setiap membacanya pasti menemukan sesuatu yang baru dari cerita yang ditulisnya itu. Mungkin benar bahwa di dalam cerita itu bertebaran begitu banyak teka-teki yang mungkin tidak bisa langsung dipahami dalam sekali baca. Mungkin itulah yang terjadi pada saya. Saat pertama kali membaca, kesan yang timbul cuma 'ooh, begitu ya ceritanya'. Begitu membaca kali kedua, ketiga, keempat dan seterusnya semakin banyak hal baru yang berhasil ditangkap. Mungkin seperti mendapat jawaban dari teka-teki yang ada. Mungkin juga hanya rasa 'sok tahu' yang muncul dari saya, seorang pembaca yang masih bego.Tetapi melihat latar belakang penulis, saya mulai sedikit banyak mengerti 'makna' di balik cerita yang ia tulis. Di cerita yang menurut seorang teman saya cukup menjelek-jelekkan orang dewasa itu, saya cukup banyak menangkap pesan yang coba ia sampaikan lewat novel ini.
Satu hal yang sangat saya rasakan dan begitu mengena ketika terakhir kali saya baca dan ketika mencoba browsing ke Wikipedia, ternyata Wikipedia merasakan hal yang sama hehehe. Saya mencoba mengutip tulisan tentang Little Prince dari Wikipedia (yang bahasa Inggris lebih ngena soalnya :D) :
"On ne voit bien qu'avec le cœur, l'essentiel est invisible pour les yeux" (You only see rightly with the heart, what matters is invisible to the eyes)
"You become responsible, forever, for what you have tamed"
"It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important".
Tiga kalimat itu diucapkan oleh rubah saat bertemu dengan Pangeran kecil. Tentang maknanya mungkin semua orang akan merasakan hal yang berbeda meskipun mirip.
Aku mungkin sama seperti ribuan rubah yang lain dan mungkin kau seperti ribuan anak kecil yang lain. Tetapi jika kau menjinakkan aku, maka kau akan menjadi unik bagiku. Mungkin seperti itulah yang diucapkan rubah kepada Pangeran Kecil (tentu saja redaksinya tidak persis sama). Satu lagi yang dirasakan Pangeran Kecil. Saat pertama kali melihat ribuan mawar di taman, ia melihat bahwa ribuan mawar itu sama dengan mawarnya yang ada di planet tempat asalnya. Tetapi setelah beberapa lama, ia menyadari bahwa mawar yang ia punyai itu tidak sama dengan mawar lain yang ada di manapun. Intinya, mawar yang ia miliki adalah unik, baginya.
Saat mencoba memasuki kehidupan orang lain lebih dalam, maka bersiap-siaplah untuk terluka lebih dalam juga saat kehilangannya. Paling tidak itulah yang pernah saya rasakan saat kehilangan seseorang yang begitu berarti bagi saya. Tapi saya rasa ada harga yang pantas untuk tiap sesuatu. Begitu juga saat kita mencoba memasuki kehidupan orang lain lebih dalam. Mungkin tidak perlu jauh-jauh berbicara. Mungkin mulai dari keluarga kita masing-masing.
Dulu saya dekat sekali dengan ayah saya (kata ibu saya, dulu pas masih muda, mirip banget dengan saya). Setiap kali mendapat marah dari ibu, selalu lari ke ayah yang notabene sangat sabar. Sangat sabar juga saat menghadapi kemarahan ibu versus kenakalan saya. Yang jelas saya sangat kehilangan beliau ketika beliau tidak lagi merasakan sakit dalam usia yang masih relatif muda. I miss u dad.
Pernah juga menangis karena 'kehilangan' seorang sahabat dekat. Cukup dekat, karena itu sangat sakit.
Tapi saya rasa jangan terlalu memikirkan rasa sakit yang timbul karena perpisahan. Karena perpisahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Anda hanya perlu menyiapkan hati. Nikmati saja saat-saat bersama orang yang anda 'jinakkan' atau bersama orang-orang yang 'menjinakkan' anda (Maaf kalau bahasa yang dipakai terkesan tidak baik, agak sulit mencari terjemahan kata 'tame' yang enak dibaca). Nikmati saja dunia anda yang semakin berwarna dengan dunia orang-orang yang ada di sekitar anda. Cerap setiap keindahan yang bertebaran di sekitar anda dan anda akan semakin indah. Selamat menjinakkan ^ ^.
Subscribe to:
Posts (Atom)