Friday, May 18, 2007

Berburu Pantai

Entah selera kami yang terlalu tinggi atau tidak ada orang lokal yang mampu menunjukkan pantai yang indah. Alih-alih mencari di Anyer, pagi itu kami mencoba mencari pantai yang indah di daerah Merak. 5 orang kurang kerjaan tapi kelebihan energi (termasuk saya) berangkat dari 'rumah tinggal sementara' menuju Merak.

Setelah perjalanan panjang menggunakan angkutan umum ditambah jalan kaki singkat cerita kami tiba di pantai yang direkomendasikan 'oknum tak berselera'. Tiba di pantai yang dimaksud, pertama kali yang terlintas di pikiran saya : "Ini yang namanya pantai??" seraya garuk-garuk kepala tak gatal. Dengan pasir pantai yang minim, ditambah background kapal tongkang di kejauhan ditambah ramainya pengunjung membuat selera berwisata langsung turun drastis.
Saya bertekad tidak akan mengabadikan gambar saya di pantai ini. Cukup gambar teman-teman saya saja. Saya cukup puas dengan menggoreskan nama saya di atas pasir. Berharap akan ikut hilang disapu ombak laut yang datang hiks.

Setelah cukup 'puas' menikmati 'keindahan' pantai, kamipun bergegas kembali ke kota. Mampir di sebuah rumah makan Sunda untuk mengisi perut lapar kami. Seorang dari kami yang berjenis kelamin perempuan berkata "Lihat sunset di mercusuar yuukk". Halah. Lha wong jalan-jalan yang barusan saja capeknya belum hilang, ini minta jalan-jalan lagi. Ini mungkin salah satu bukti perempuan lebih kuat jalan kaki daripada laki-laki untuk kasus-kasus tertentu seperti belanja atau berwisata. Akhirnya daripada teman perempuan kami ini menangis, terpaksa kami menurutinya.

Sebuah perjalanan panjang ke arah Anyer dimulai. Dan seperti yang saya perkirakan sebelumnya, kami mendapatkan sebuah 'perfect sunset'. Bukan sebuah jingganya sang surya tenggelam dengan suasana romantis tapi benar-benar matahari telah tenggelam dengan sempurna. Maksud hati hendak mengabadikan mercusuar berlatar belakang 'perfect sunset', apa dikata kameraku tak sanggup. Jadilah sebuah penampakan mercusuar.

Dengan lunglaipun kami kembali ke rumah. Menyusuri jalanan yang telah gelap. Lagi-lagi karena kemampuan kameraku yang tak mumpuni mengambil gambar dalam kondisi gelap, hanya gambar lampu jalan memayungi pohon yang menutup cerita perjalanan kami.
Doakan saya ya, agar bisa menemukan pantai yang benar-benar bagus.....^ ^

Sunday, April 29, 2007

4 kota, 7 musim

Saya bukan tipikal orang yang suka jalan-jalan apalagi melancong. Berpergian cukup seperlunya saja. Intinya tipikal orang rumahan. Bisa jadi ini yang membuat kemampuan spasial saya tidak terlalu bagus. Terbukti dengan seringnya saya tersasar entah dimana:). Tapi apa mau dikata, hingga kini saya telah merasakan tinggal di 4 kota.

Saya lahir dan besar di Madiun. Sebuah kota dataran rendah yang ada di Jawa Timur. Hawanya hangat, kehidupannya tidak terlalu ramai. Cocok untuk dijadikan persinggahan di hari tua :). Boleh dikatakan, kota ini menjadi setting masa kecil saya.

Kehidupan saya harus berpindah saat SMA. Tepatnya ke Bekasi. Saya tak tahu banyak tentang kota ini. Tak pernah berjalan-jalan jauh untuk mengenali kota ini. Hanya berputar-putar di sekitar kompleks sekolah yang kebetulan berada di sebuah kawasan industri. Saya tahu Bekasi kota yang ramai, tetapi keramaian itu tidak terlalu saya rasakan. Karena tempat saya bersekolah dan tinggal cukup tenang. Di kota ini, kesepian adalah kata yang jamak muncul meski keseruan hidup terpancar setiap harinya.

Bandung, Parijs van Java, adalah kota ketiga yang saya singgahi. Sebuah kota indah, tempat saya menjadi seorang mahasiswa. Soal kenangan, pasti banyak sekali yang bisa diceritakan. Boleh jadi sebagian besar isi otak saya sekarang adalah tentang kehidupan di Bandung ini. Dan Bandung akan tetap menjadi satu latar belakang kehidupan saya.

Dan sekarang, Cilegon. Sebuah kota di ujung Barat-Utara propinsi Banten. Tentu saja saya belum bisa bercerita banyak tentang kota ini karena baru beberapa kali 'main' ke 'kota' dan hanya sekali jalan-jalan ke Anyer. Yang jelas, udaranya sangat panas dan lembab. Jika sekarang-sekarang ini Bandung sering hujan lebat, di Cilegon cukup hujan rintik-rintik saja. Belum lama ini saya bertanya ke seorang bapak-bapak tentang panasnya kota Cilegon. Dengan santainya ia menjawab : "Oo, ini panasnya baru setengahnya Dik?"

Monday, April 02, 2007

Sisihan

Saya belum menemukan padanan kata 'sisihan' dalam bahasa Indonesia. Sisihan adalah kata dalam bahasa Jawa (setidaknya dipakai di daerah saya, Madiun) dari kata sisih yang berarti sisi. Saksisih artinya satu sisi. Untuk mengungkapkan apa itu arti sisihan, saya akan memakai sedikit ilustrasi. Jika anda masuk ke sebuah ruangan, lalu mencopot sepasang sandal anda. Lalu anda keluar dari ruangan itu dan berniat memakai kembali sepasang sandal anda. Anda adalah orang terakhir yang keluar dari ruangan itu dan anda menemukan bahwa sandal anda tidak sepasang lagi. Bisa jadi sandal kanan anda bersebelahan dengan sandal kiri empunya entah siapa, atau malah dua-duanya sandal sebelah kiri. Itu namanya sisihan. Kalau dua buah sandal tersebut bukan punya anda, itu berarti sepasang sandal anda hilang.

Sisihan bisa berarti lawan dari keserasian. Bisa jadi sangat tidak nyaman mengenakan sepasang sandal yang sisihan. Bisa jadi harus menahan malu jika memakai sandal yang dua-duanya adalah sandal sebelah kiri. "Mas, sandalnya model baru ya?" Bisa jadi lebih baik bertelanjang kaki alias nyeker daripada memakai sandal tapi sisihan. "Nyeker nggak kedinginan mas?" Kecuali jika terpaksa tak ada pilihan lagi melainkan memakai sandal yang sisihan. "Biarin sisihan, yang penting pake sandal".

Menghindari sisihan bukan berarti memakai sepasang benda yang sama persis. Sandal sebelah kiri tentu berbeda dengan sebelah kanan karena telapak kaki kiri berbeda dengan telapak kaki kanan. Kalau anting-anting kuping kanan dan kuping kiri dibuat sama, itu lain soal. Dibuat sama karena lebih bagus. Masalahnya bukan harus identik atau tidak tetapi meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Kalau kata pelajaran PPKN dulu : selaras, serasi, seimbang.

Menghindari sisihan berarti memasangkan satu pasang dengan pasangannya yang lain secara tepat. Bisa dengan satu, bisa dengan beberapa. Jika pada akhirnya anda harus memasangkan diri untuk memenuhi setengah agama, paling tidak jangan membuat diri anda menjadi pasangan yang sisihan :). "Bukan begitu mas?"

Friday, February 16, 2007

Coincidence

coincidence• noun 1 a remarkable concurrence of events or circumstances without apparent causal connection. 2 correspondence in nature or in time of occurrence.

Saat mata saya terlalu letih untuk terbuka karena belum terpejam sejak semalam, saya dipertemukan dengan hari jumat. Kali ini mata saya yang telah berat tak dibiarkan terpejam karena khotbah sang penceramah yang berkobar-kobar. Saya terselamatkan dari tidur saat khotbah jumat.

Saat saya sedang membutuhkan banyak gerak, stamina saya diuji. Bolak-balik dari satu gedung ke gedung lain, naik turun dari satu lantai ke lantai lain. Dua kali hampir basah kuyup kehujanan. Semoga semakin sehat, bukan semakin sakit.

Saat saya terburu-buru pergi ke gedung rektorat, ada angkot yang sedang berhenti. (Ini sudah biasa di gerbang belakang ITB). Sekilas pandang ada yang menarik dari angkot itu. Joknya berwarna merah muda tapi agak gelap bercampur ungu. Di jok itu (jok angkot maksudnya) sudah duduk seorang perempuan berkerudung senada dengan warna jok. Perempuan itu memaki semacam sweater berwarna belang merah muda dan abu-abu muda. Sangat match dengan joknya bukan?! Dan saat saya telah mendapatkan posisi duduk yang enak, angkot itupun melenggang kangkung meninggalkan gerbang belakang.

Angkot berjalan beberapa saat. Berhenti di gerbang belakang SBM ITB. Dua orang perempuan masuk ke angkot. Pasti anak ITB, terlihat dari baju olahraganya. Dan mereka angkatan 2006. Dua perempuan yang duduk di depan saya ini menyapa perempuan berkerudung merah bersweater belang merah muda-abu-abu yang ada di sebelah saya. Mereka ternyata sekelas. Dan tentu saja mereka bertiga mahasiswa angkatan 2006 ITB.

Sepanjang perjalanan menelusuri Taman Sari, suara cakap ketiga perempuan ini tidak bisa tidak masuk ke telinga, tak dapat dihiraukan. Terlalu keras. Standar obrolan anak muda (ITB) : kuliah, gosip, kehidupan baru di Bandung. Salah seorang perempuan yang duduk di depan saya tidak tahu arti kata 'gandeng' (bahasa Sunda) tapi mengerti kata 'sadayana' yang diucapkan seorang pengamen jalanan. Jangankan yang baru 7 bulan di Bandung, saya saja yang sudah lebih dari 4.5 tahun di Bandung, kosakata Sunda saya tidak bertambah secara signifikan.

Mendekati rektorat, suara mereka tetap saja keras. Sepertinya mereka sedang bertukar tanggal lahir. Sayup-sayup saya mendengar perempuan yang berkerudung merah menyebutkan : Mei 1989. Itu artinya, 4 tahun yang lalu saya seumuran dia sekarang atau 4 tahun lagi ia akan setua saya :).

Hidup bisa jadi serangkaian pilihan. Bisa juga kita bertaut dengan kejadian-kejadian yang tak mampu kita kendalikan. Kadang kejadian-kejadian bertaut itu bisa jadi menyenangkan:).

Tuesday, February 13, 2007

Dosen Pembimbing

Ini tentang dosen pembimbing saya. Kata orang, beliau jutek, galak dan seterusnya. Dan dosen pembimbing saya ini kata orang cocok dengan saya, karena saya, kata orang : jutek dan galak pula :). Meski beliau dosen di lab saya, Tugas Akhir inilah yang membuat saya semakin sering bertemu dengan beliau. Alhasil semua pekerjaan beliau yang membutuhkan bantuan baik berkaitan dengan TA maupun tidak, selalu melibatkan saya sebagai asistennya. Kenyataannya pekerjaan yang nomor dua yang lebih banyak saya kerjakan.

Waktu pertama kali mendapat dosen pembimbing beliau, kontrak perjanjian pertama adalah saya tidak bisa lulus lebih cepat dari Maret 2007. Dengan alasan akan melanjutkan S3 ke luar negeri, beliau akan cuti di tengah membimbing saya. Alih-alih melanjutkan S3, beliau dinyatakan hamil dan akhirnya tetap saja harus cuti saat mendekati kelahiran putrinya. Jadwal membimbing saya yang harusnya Februari - Maret diteruskan Agustus dan seterusnya menjadi Februari-Juni diteruskan Januari (2007) dan seterusnya. Alhasil, saat beliau cuti saya harus mengerjakan TA sendiri dengan hanya sesekali saling berbalas email. Mungkin karena sudah percaya dengan saya, mungkin juga karena tidak begitu mengerti dengan apa yang saya kerjakan. Praktis pekerjaan saya selama hampir setahun dibeberkan lengkap saat beliau masuk lagi pada awal bulan Januari 2007, yang notabene tanggal 29 Januari adalah batas terakhir pendaftaran sidang sarjana. Jelas saja waktu yang kurang dari sebulan itu dimanfaatkan dosen pembimbing saya untuk 'memugar' tugas akhir saya. Meski tidak banyak tetap saja membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk memperbaikinya. Satu hal yang membuat saya salut dengan beliau : detail. Mulai dari ejaan, tabel, gambar sampai memperbaiki abstrak bahasa Inggris saya :). Sampai menjelang pengumpulan draft TA pun beliau masih menyempatkan memeriksa lagi. Hasilnya: satu kalimat lagi harus terbuang dari draft TA saya.

Saat sidang, satu hal yang saya takuti adalah meracau. Alhamdulillah, sidang TA dimudahkan, hingga saya tidak bisa meracau lebih dari 1 jam. Persediaan jawaban untuk merespon pertanyaan yang mungkin muncul, praktis tak terpakai. Soal revisi setelah sidang, karena sebelum mengumpulkan draft telah direparasi habis-habisan, saya cukup menambahkan satu paragraf di TA saya. Lumayan juga, tidak harus menge-print semuanya dari awal.

Setelah sidang, kontrak saya dengan beliau belum habis. Sembari menunggu maret, masih ada yang harus dikerjakan. Makasih bu!

-Ternyata capek juga ya ngerjain TA, meski akhirnya happy ending:)

Tuesday, January 02, 2007

Sebuah Cerita : Sekali Waktu di Halte Bus

Rintik tak kunjung berhenti. Tak ada tanda-tanda akan reda. Hujan terus mengguyur. Meninggalkan bau tanah yang sedap. Hujan pun masih tak sempat menyampaikan isyarat kepada awan yang berangsur-angsur dijadikannya tiada [1]. Air menghilangkan jejak-jejak debu di atas tanah, trotoar dan lantai halte bus. Lantai dimana aku berdiri sekarang.

Dingin tak kunjung berhenti. Tak ada tanda-tanda akan sirna. Angin terus berhembus. Meninggalkan semilir yang menusuk tulang. Jaketpun tak sempat menyampaikan kata-kata berhenti kepada angin yang terus membekukannya. Udara mencipratkan air hujan ke tempat duduk, koran bekas dan abang penjual gorengan. Manusia dimana aku terdiam di sebelahnya sekarang.

Matari tak jua tenggelam. Tak ada pertanda hari akan gelap. Cahayanya terus enggan bersinar. Meninggalkan terang yang tak lagi benderang. Katak tak sempat menyampaikan teriakannya kepada lalu lalang kendaraan yang mengaburkan suaranya. Api membakar tembakau dalam lintingan kertas, asap mengalir lewat campuran cengkeh dan masuk ke dada pemuda itu. Pemuda yang membuat aku terbatuk dalam tiap hembusan udaranya.

Ia tak jua datang. Tak ada langkah-langkah kecilnya. Waktu terus berputar girang. Meninggalkanku menunggu yang tak lagi sabar. Koin-koin detik tak sempat bergemerincing di saku-saku otakku yang mulai berkisut. Denting membisu dalam jam tanganku, mengelindan, mengirimkan cahaya bekunya ke mataku, ke syarafku, ke otakku. Ia yang membuat aku menunggu dalam tiap harap yang semakin cemas.

Lupa tak jua sirna. Tak ada kesempatan untuk mengubur. Memori terus menyeruak cepat. Mengingatkanku pada semua tentang ia. Bibir tak sempat mengucapkan namanya kala kaki melangkah meninggalkan perpisahan yang indah. Potongan-potongan masa menyatu, beranyam dan melebur dalam kanvas ingatanku. Kanvas yang meninggalkan begitu banyak warna yang kusam.

Ia tak jua datang. Tak ada pancar warnanya. Keinginan terus mendesak kuat. Membekukanku dalam tiap kata yang tak pernah terucap. Tangan tak sempat berujar ketika semua telah terlambat untuk diubah dengan segenap hati. Hanya Tuhan yang mengingatkan, membimbing dan menuntunku dalam tiap jejak langkahku. Jejak langkah di atas pasir lembut kehidupan.

Bukan ia tapi ia. Dan ia tak jua datang.

Koin-koin waktu telah penuh hingga tak bergemerincing lagi. Ia masih tak jua datang.

Waktu tak jua melambat. Tak ada sela yang dibiarkannya bercecer. Menyapu tiap jiwa tanpa pernah mengucap permisi. Pikiran tak sempat mencerna ketika semua alasan tertumpah ruah untuk menghibur diri yang resah. Hanya hati yang berbisik, ia akan datang, ia akan melangkah, karena ia yang menyuruhmu menunggu disini. Di tempat kau sedang menanti.

Langkahnya tak jua jenjang. Tak ada tanah panjang berlalu di bawah kakinya. Memastikan likunya yang hanya pendek. Kain tak sempat menghalangi tetesan air menimpa badannya langsung. Seorang anak kecil berjalan di sampingnya, menggandeng tangannya dan berjalan cepat-cepat. Tanyaku : siapa gerangan anak kecil itu?

Hujan tak lagi merambati tubuhnya (dan tubuh anak kecil itu). Tak ada sesuatu pun padaku untuk menyambutnya. Aku tak sempat berbuat apapun sebelum atau saat sedang berada di bawah atap ini. Akhirnya tanya tak sempat terhalang dari lidah untuk diteruskan ke bibir. Tentang anak kecil yang berjalan di sampingnya dan menggandeng tangannya tadi. Tanyaku (dengan senyum) : siapa ia?

Sunyi tak lagi terpatri. Tak ada hening lagi antara aku dan halte bus ini. Membuatku mempunyai sesuatu lain untuk menyambutnya. Ia tak sempat duduk untuk menjawab tanyaku. Jawaban keluar dari hatinya, berbinar-binar : Aku menemukannya di jalan saat orang-orang bergegas. Tak ada yang memperhatikannya. Ia terlihat bingung. Dan ternyata benar, ia tersesat, terpisah dari ibunya. Ia terlalu takut untuk bertanya, hingga hanya berdiam diri dan tak ada seorangpun yang melihatnya. Lalu aku mengajaknya. Ingin aku mengantarnya.

Ah ia masih saja baik. Bukankah untuk perempuan, kebaikan adalah kecantikan tambahan.

Ia meneruskan : Lalu karena ia juga tidak ingat jalan pulang, maka aku mengajak serta menemuimu. Ia hanya ingat daerah tempatnya tinggal, tapi tak ingat sedikitpun jalan pulang. Aku sempat bertanya ke beberapa orang. Mereka tahu, tapi terlalu rumit buatku. Dan karena sepertinya ia telah percaya padaku, maka aku ajak serta menemuimu. Kupikir engkau telah tahu kota ini, jadi pasti tak kesulitan untuk menemaniku mengantarnya pulang. Lagipula aku telah berjanji untuk menemuimu kan.

Ia menjelaskan dengan sangat jelas, seterang mentari yang kini telah beranjak. Ia cerdas. Untuk wanita, kecerdasan adalah kecantikan tambahan [2]. Dan ia masih saja cerdas.

Bimbang tak lagi menggerumuti diri. Tak ada lagi penantian yang tak jelas. Membuatku bertanya tentang semua ini. Aku tak sempat berhenti mengaguminya. Hanya waktu yang akan menguliti semua bisu waktu yang mengalir. Kami berjalan, meninggalkan halte dan abang penjual gorengan dan segala dingin yang tertinggal di sana. Tak hendak kami kemana-mana, hanya ingin mengantarkan anak kecil itu ke pangkuan orang tuanya, setelah kami bersinggah ke rumah Tuhan : Sholat Maghrib.

Lampu-lampu jalan pasti menyiram kepala kami. Memayungi setiap langkah kami yang entah sampai kapan masih tetap berdiri di atas bumi. Semoga Tuhan menghendaki.

[1] Kata -kata dari puisi karangan Sapardi Djoko Damono: Aku ingin
[2] Kata-kata diambil dari novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

Sunday, December 24, 2006

Musikalisasi Puisi

Udara Bandung yang dingin ditambah hujan gerimis yang mengguyur tubuh, ditambah dengan suasana otak tertekan akibat banyaknya yang harus dikerjakan ditambah di rumah sepi seorang diri serta paduan mie instan plus secangkir kopi pekat, menghasilkan reaksi yang aneh. Otak saya konslet. Lagi-lagi mengerjakan sesuatu yang aneh. Anehnya lagi, hal itu terjadi ketika saya sedang gemar-gemarnya mengerjakan TA ;p. Ketika kerumunan angka di layar komputer membuat kepala saya pening, saya mencoba untuk beristirahat dan mengambil gitar kesayangan saya. Dan alhasil, malam itu saya melakukan Musikalisasi Puisi. Hahahaha.

Ambil gitar, duduk di lantai di atas karpet, genjrang-genjreng, coretan-coretan TA di sebelah kiriku dan kumpulan puisinya Sapardi Djoko Damono di sebelah kananku. Ternyata yang sebelah kanan lebih menarik perhatian. Sedikit kilas balik sebentar. Saya sempat bertemu dengan seseorang yang mempunyai grup musikalisasi puisi dan rencananya pada tahun baru nanti akan mengisi di sebuah acara sunatan masal. Mungkin karena berinteraksi dengan beliau inilah saya jadi pingin mencoba apa itu musikalisasi puisi. Dan malam itulah saya mengadakan pertunjukan musikalisasi puisi sendiri di kamar kontrakan sendiri tanpa penonton:D. Dan karena kebetulan ada 2 puisi yang paling saya suka dari Sapardi Djoko Damono : Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni, maka kedua puisi itulah yang saya jadikan bahan musikalisasi puisi. Dan hasilnya sangat tidak mengecewakan. Tiap bait kata yang ada di puisi masuk ke dalam nada yang saya nyanyikan (meski tentu saja sedikit fals) dengan sangat indah:). Akhir pertunjukan, saya berteriak-teriak histeris sendiri dan tanpa tepuk tangan tentunya. Pfuih, lumayan untuk ukuran pemula, hehehe.

Begitu mulai bosan di dalam kamar kontrakan, saya pindah ke ruang tengah, yang waktu itu belum menjadi garasi motor karena penghuni lain yang membawa motor belum pulang. Duduk di atas meja, genjrang genjreng lagi. Mencoba memainkan kord-kord gitar yang saya kenal. Tiba pada suatu genjrengan : "Lha, ini kan lagu yang saya ciptain dulu pas SMA, huahaha.". Jadi ceritanya, dulu pas SMA saya tinggal di asrama. Tinggal sekamar dengan seorang teman, laki-laki tentunya. Pada suatu hari, teman saya mendapatkan sebuah surat dari temannya. Dan temannya teman saya itu menyertakan sebuah puisi di suratnya. Dan puisi itu dibacakan oleh teman saya di dalam kamar. Komentar saya (dalam hati) : Puisi terbaik yang pernah saya dengar. Maklum waktu itu masih belum kenal pak Goenawan Mohamad, om Taufik Ismail ataupun eyang Sapardi Djoko Damono. Jadilah puisi itu menjadi kajian sastra bagi kami sekamar yang masih cupu itu. Baca sana, baca sini itu puisi, akhirnya terbit sebuah ide : Bagaimana kalau dibuat lagu. Sepertinya bagus. Akhirnya bermodal sebuah gitar, puisi itu kami gubah menjadi sebuah lagu. Hasilnya: Lumayan. Lagu itu bertahan selama berminggu-minggu sebagai pemuncak lagu favorit di kamar asrama saya dan terus dinyanyikan terutama di kamar mandi. Tapi sayang, sekarang saya tak ingat sedikitpun puisinya, hanya sedikit iramanya saja. Kalau tidak salah puisi itu berisi tentang cinta dan perjuangan (alah!). Dan ketika malam saya melakukan pertunjukan musikalisasi puisi di kamar kontrakan sendiri itulah, saya tersadar bahwa saya pernah melakukan sebuah musikalisasi puisi sebelumnya. Huehehe. Bravo, bravo. Hebatnya ;p.

Ternyata saat otak sedang ruwet sekalipun, masih ada jalan untuk bersenang-senang sendiri. Murah meriah, apalagi kalau sedang sendiri sedangkan di luar malam telah larut dan hujan tak jua reda. Cobalah melakukan hal-hal aneh yang menyenangkan. Siapa tahu bisa menghubungkan pikiran kita ke kenangan-kenangan indah masa lalu. Please try this at home:).

Saturday, December 16, 2006

Media

Don't wanna be an American idiot.
Don't want a nation under the NEW media.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind f**k America

Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Well maybe I'm the faggot AMERICA
I'm not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It's calling out to idiot America.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue

American Idiot by Green Day


Berawal dari keisengan membuka sebuah website televisi. Di situs itu terpampang pengumuman rekruitmen karyawan baru yang bertitel Broadcaster Development Program (BDP). Selidik punya selidik ada kalimat di situs itu : Kami informasikan kepada anda, untuk rekruitmen tetap dibuka sampai dengan tanggal 15 December 2006. Ha, itu berarti 15 menit yang lalu. Mungkin memang belum saatnya :).

Stasiun TV dan media pada umumnya, memberikan saya ketertarikan tersendiri. Apa alasannya, mungkin biar saya simpan sendiri:). Yang jelas, media seperti halnya ladang bisnis lainnya merupakan salah satu impian orang untuk bekerja atau berkarir. Pun saya, meski media bukan satu-satunya.

Seperti sudah sifatnya, media selalu dekat dengan kekuasaan. Media yang saya maksud disini adalah media yang hidupnya berkesinambungan dan mapan. Dulu ketika Departemen Penerangan -almarhum ayah saya kerja di departemen ini- masih ada, segala berita disaring oleh Departemen ini. Hingga tiap berita yang menyangkut pemerintah adalah berita yang 'baik'. Bukan hanya berita di TV tapi juga di koran dan majalah. Intinya media waktu itu dikuasai oleh pemerintah.

Meminjam kata-kata Noam Chomsky:
In a totalitarian state, it doesn't matter what people think, since the government can control people by force using a bludgeon. But when you can't control people by force, you have to control what people think, and the standard way to do this is via propaganda (manufacture of consent, creation of necessary illusions), marginalizing the general public or reducing them to apathy of some fashion.

Dari pernyataan Chomsky tersebut, jelas bahwa media adalah salah satu alat kekuasaan. Menilik kembali ke negeri kita tercinta, Indonesia. Jelas sekarang Departeman Penerangan sudah tidak ada, yang ada hanya Komisi Penyiaran. Itupun tugasnya bukan mengarahkan media tapi hanya mengawasi. Sampai disini mungkin media bukan lagi menjadi alat kekuasaan pemerintah kita. Tapi mungkin saja media masih menjadi alat kekuasaan Negara, hanya kita -terutama saya- tidak merasakannya. Meski demikian, kembali ke sifat media. Ia adalah alat kekuasaan. Siapa yang berkuasa dan menguasainya, itu yang sering tidak diketahui.

Saya tidak akan membahas jaringan konspirasi global atau dunia. Lagipula saya tidak punya cukup pengetahuan tentang itu ;). Saya akan coba bahas dari yang saya ketahui. Media baik cetak maupun elektronik membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk tetap hidup. Saya pernah mendapat sebuah data -tapi lupa darimana asalnya dan kapan- tentang biaya operasional sebuah stasiun TV. Katanya, setiap harinya menghabiskan tak kurang dari 1 M untuk biaya operasional. Secara logika, untuk tetap hidup, pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran, minimal sama. Untuk itu pastinya, pemasukan yang berasal entah berasal dari iklan atau sumber lainnya, tak kalah besar dari biaya operasionalnya. Sampai disini, kita melihat media sebagai salah satu bisnis, tak ubahnya dengan perusahaan-perusahaan profit lainnya. Dan mungkin itu adalah sejatinya media.

Karena membutuhkan dana yang tak sedikit untuk tetap hidup, maka media akan dekat dengan sang empunya sumber dana (logis kan??). Dan karena ia bergantung dengan sang empunya dana, maka sang empunya dana ini bisa mengendalikan media (logis lagi kan??). Karena itu media tergantung dengan yang menguasainya. Jika yang menguasai pemerintah yang 'buruk', maka media akan digunakan untuk menutupi keburukan dan membalikkan pikiran masyarakat, hingga memandang sesuatu yang 'buruk' menjadi sesuatu yang baik dan bahkan mendukungnya. Jika sang penguasa adalah pemilik modal yang tamak, maka media tak ubahnya menjadi sapi perah untuk memenuhi pundi-pundi emasnya. Tak peduli seburuk apapun kualitas berita dan tontonan yang disajikan, asalkan itu laku tak jadi masalah. Jika penguasa media adalah seorang yang 'jahat' maka ia akan menyebarkan pikiran-pikiran jahatnya. Begitu juga sebaliknya. Jika yang menguasai media adalah orang yang baik, maka ia akan menyebarkan kebaikannya. Jadi tinggal siapa yang kuat.

Jadi jika anda adalah orang yang baik, maka anda juga harus menjadi orang yang kuat --kayak gak nyambung:D

Wallahu a'lam.

Tuesday, December 12, 2006

Bangsaku, bangsaku

Paling enak meringkuk di bawah selimut, apalagi di bawah udara Bandung yang dingin. Tapi jikalau meringkuk karena kepala berat dan berputar-putar maka keenakannya akan jauh berkurang. Ditambah mendengarkan siaran radio yang materinya cukup berat untuk ukuran siaran pagi. Menurut survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga tentang persepsi masyarakat tentang lembaga terkorup menghasilkan 3 lembaga yang cukup familiar dengan kita. Ketiga lembaga itu antara lain -saya tidak ingat urutan pastinya- : DPR, Kejaksaan dan Kepolisian. Kontan saja, kepala saya ikut memikirkannya dan ujung-ujungnya tambah pusing. Pingin mematikan radio sayang, ada wacana bagus untuk tambahan pengetahuan. Tidak dimatikan, informasi-informasi yang keluar dari mulut radio itu berjejalan masuk lewat kuping dan ikut memenuhi otak. Alhasil, saya biarkan ia -radio saya- berkoar-koar yang ujung-ujungnya membuat saya tidak bisa terlelap.

Jika anda sedang bersantai di pagi hari, coba dengarkan acara Risalah Pagi di MQ FM. Lumayan bisa menambah cakrawala berpikir kita. Seringkali materi yang diperbincangkan bagus dan tentu saja terkini. Seperti tadi pagi, membicarakan tentang persepsi masyarakat tentang lembaga terkorup.

Karena acaranya dikemas dalam bentuk perbincangan, tentu saja ada narasumber dan pirsawan yang urun memberikan pendapatnya. Ada yang mengatakan, bahwa beberapa oknum wartawan yang suka memeras pejabat. Ada juga pejabat yang sengaja membuat proyek-proyek tambahan untuk menghabiskan dana. Dengan dalih, dana yang ada harus habis dan apabila tidak dihabiskan maka tahun depan tidak akan mendapatkan kucuran dana yang serupa. Dan beberapa informasi lain yang tidak dapat saya tangkap dengan jelas.

Tentang proyek-proyek yang diadakan untuk menghabiskan dana ini, saya punya sedikit pengalaman menarik. Bersinggungan secara langsung -atau tidak langsung??- dengan proyek-proyek semacam ini. Salah satunya proyek yang diset sebagai proyek akhir tahun sehingga penggarapannya terkesan terburu-buru. Sebelum tutup buku, dalihnya. Apapun yang terjadi proyek ini harus jalan. Satu proyek yang lain terkesan juga 'lucu'. Saya yang notabene telah tutup kontrak dengan proyek ini, tiba-tiba diminta menghitung ulang kelayakannya. Sebelum sempat menanyakan alasannya, saya diberi jawabannya : karena nilai investasinya terlalu kecil serta dana yang tersedia jauh lebih besar. Alhasil, nilai investasi yang awalnya 400an juta membengkak -atau dibengkakkan?- menjadi 3 milyar kurang 13 juta. Saya awalnya kaget. Tapi karena hasilnya layak juga, apa boleh buat.

Perasaan terkagum-kagum, risih, bingung, marah dan perasaaan-perasaan tak jelas lainnya bercampur baur. Kenapa dana yang ada harus dihabiskan? Kenapa jikalau memang tidak terpakai dikembalikan saja ke negara buat tahun depan? Kenapa mesti mengeluarkan investasi yang besar untuk obyek yang sebenarnya tidak memerlukannya? Dan kenapa-kenapa lainnya sampai pusing sendiri. Dengan semangat berpikir baik : mungkin dengan menghabiskan dana dan investasi lebih besar maka pembangunan yang dilakukan akan lebih baik. ??. Ah memang pikiranku belum sampai.

Ingin rasanya tidur meringkuk di bawah selimut dan terbangun saat bangsa ini telah menjadi bangsa yang mulia. Ah tapi tak mungkin. Sementara ini hanya bisa menggumam : bangsaku, bangsaku.

Wallahu a'lam.

Sunday, December 10, 2006

Bab I : Pendahuluan

Belum ada bahan untuk melanjutkan kisah Sang Arsitek:). Tapi juga, sebenarnya sedang mencoba untuk menegur diri sendiri secara halus : Kapan selesai TA-nya? Kapan sidang? Kapan wisuda? Terus kapan-kapan yang lainnya lagi. Alkisah, bab 1 TA saya sudah selesai entah beberapa bulan yang lalu. Sudah disetujui oleh dosen pembimbing dengan beberapa perbaikan. Bahkan saya sampai lupa, dulu menulis apa di bab 1 tersebut. Entah kenapa sampai sekarang TA yang seharusnya 'cuma' 6 bab itu tak kunjung selesai juga. Mulai dari sulitnya mencari literatur yang pas, menemukan dosen yang ahli di bidang ini tapi -sayangnya- saya tidak bisa mendapat banyak dari beliau, pembangunan software yang semoga saja bisa cepat selesai sampai dosen pembimbing saya yang entah kapan akan muncul kembali dari cutinya.

Berbicara mengenai Bab 1 : pendahuluan, sehebat atau seremeh apapun penelitian yang dilakukan pasti memerlukan bab ini. Entah benar-benar menjadi pijakan pokok dalam penelitian atau sekedar pembenaran berbau ilmiah dilakukannya penelitian tersebut. Tapi tetap saja mau tak mau bab itu tidak bisa dihilangkan.

Saya banyak belajar tentang ini beberapa hari terakhir. Ceritanya, sekarang sedang ada rekruitmen untuk asisten baru lab. Salah satu tahapannya adalah calon asisten diminta untuk membuat karya tulis. Dengan melihat presentasi karya tulis mereka (calon asisten), setidaknya saya bisa membayangkan bagaimana alur berpikir mereka hingga terbentuk sebuah karya tulis. Rata-rata lemah pada latar belakang, meskipun tidak semuanya. Sebenarnya tidak fair juga. Menghadapi asisten penguji yang beberapa sedang mengambil TA serta beberapa yang sedang mengambil mata kuliah Komunikasi Profesional. Sebuah mata kuliah yang sengaja dirancang untuk membekali mahasiswa dalam hal penelitian dan bagaimana mengkomunikasikannya. Dan calon asisten belum mendapatkan hal tersebut. Tapi bukan disitu letak permasalahannya.

Permasalahan terletak saat mereka tidak bisa memberikan penjelasan : kenapa mereka melakukan penelitian tersebut atau kenapa hal tersebut layak untuk dijadikan bahan penelitian. Sebenarnya dengan memberikan alasan : karena saya ingin, -menurut saya- telah bisa dijadikan alasan untuk melakukan sesuatu. Tapi alasan tersebut akan terlihat sangat tidak ilmiah sekali untuk sebuah produk ilimiah berupa karya tulis atau penelitian. Beberapa bulan yang lalu saya memperoleh kesempatan berbincang dengan seorang psikolog anak. Menurut beliau : orang Indonesia sangat lemah dalam hal reasoning -kenapa ia melakukan sesuatu. Menurut beliau lagi, bahwa sejak kecil anak-anak tidak dibiasakan untuk mengambil peran dalam menentukan suatu perilaku, membebaskan anak untuk mengambil keputusan serta tidak memberikan alasan-alasan logis kenapa suatu hal itu boleh dilakukan sementara yang lain tidak. Anak-anak, tambah beliau, seringkali kali hanya diajari : what next. Setelah ini seharusnya begini begitu, kalau ada masalah ini solusinya begitu. Jarang sekali diajari : kenapa harus begitu. Jadi sampai disini, masalah lemahnya reasoning bisa jadi disebabkan karena kurangnya ajaran atau tuntunan tentang hal itu.

Saya merupakan salah satu produk pendidikan Indonesia. Begitu juga hampir semua anak Indonesia. Dari TK sampai sekarang, tuntunan mengenai pentingnya 'kenapa' (reasoning) saya rasakan sangat minim.. Kita dijejali dengan berbagai pengetahuan tanpa tahu kenapa harus mempelajari hal tersebut. Alasan yang diberikan juga biasanya normatif : karena ilmu ini itu bermanfaat, bermanfaat di kemudian hari dan bla bla lainnya. Anak didik bagaikan patung yang dipahat seindah mungkin oleh seniman. Patung itu indah tetapi tidak berjiwa. Bukankan pendidikan seharusnya juga membentuk karakter, bukan sekedar membangun kompetensi. Bukankah seharusnya pendidikan mengajarkan kita cara berpikir yang runtun, meski berpikir acak juga sangat penting dan seringkali dipergunakan juga. Bukankah kreativitas juga bermula dari kumpulan pengetahuan yang berserak di kepala, kemudian dihimpun dan dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan. Kesadaran akan pentingnya reasoning sebagai salah satu alur berpikir seringkali baru disadari ketika telah beranjak dewasa. Bukankan akan lebih baik jika dimulai dari dini. Meskipun tentu saja dengan cara penyampaian yang lain jika hal yang sama diberikan pada orang dewasa. Bukankah akan jauh lebih baik jika kemampuan untuk selalu menggunakan pijakan dalam berpikir, berkata dan berbuat, menjadi bagian dari karakter seorang manusia.

Wallahu a'lam.