Saat ditanya apa yang dilakukan selama liburan di kampung halaman, pasti akan saya jawab : makan, tidur, nonton TV dan sedikit jalan-jalan. Karena selama liburan lebaran kemarin, cuaca di Madiun sangat panas, maka aktivitas terakhir hampir tidak terlaksana. Hanya sesekali jalan-jalan itupun karena harus harus berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar Eyang. Praktis saja tanpa jalan-jalan, aktivitas yang dominan menjadi : makan, tidur dan nonton TV. Terutama menonton TV.
Karena selama tinggal di Bandung jarang sekali menonton TV, maka seperti mendapatkan kesempatan langka, saya pun menjadi penonton setia televisi apapun acaranya. Karena hampir seharian dijejali berbagai suguhan informasi dan hiburan dari layar kaca maka iseng-iseng saya menjadi pengamat pertelevisian. Paling tidak itulah persepsi saya tentang pertelevisian Indonesia sekarang.
Teringat perkataan seorang dosen beberapa semester yang lalu. Jika kita ingin melihat mental sebuah bangsa dan kemana bangsa itu akan bergerak, maka lihatlah pertelevisiannya. Tentu saja disini saya tidak akan menarik hubungan antara tayangan televisi dengan kemana bangsa ini akan bergerak. Saya akan memberikan komentar tentang tayangan-tayangannya saja.
Terlihat adanya persaingan antara stasiun-stasiun TV swasta. Tentu saja TVRI dan TV lokal harus dipertimbangkan juga, tetapi saya rasa mereka berada di rel persaingan yang berbeda. Masing-masing TV berusaha menonjolkan tayangan-tayangan mereka yang be-rating bagus. Ada dua stasiun TV yang berlomba untuk menampilkan film-film luar negeri yang bagus hampir setiap hari. Satu di antaranya memutar 2 buah film setiap harinya di 'bioskop' mereka. Mereka juga menggembar-gemborkan film-film yang belum pernah ditayangkan di TV manapun. Ada sebuah TV yang mempromosikan sepaket kuis (terdiri dari 3 kuis) dengan hadiah total 24 milyar per minggu dengan mbak Dian Sastro sebagai salah satu pembawa acaranya. Ada yang memberikan acara infotainment 3 kali sehari dengan ditambah embel-embel : pagi, siang dan sore investigasi. Dan itupun diikuti oleh stasiun lain dengan menambah frekuensi harian acara infotainment. Sepertinya acara infotainment masih akan menjadi acara unggulan dalam beberapa tahun ke depan atau bahkan mungkin selamanya? Tentu saja berita selebriti yang sedang 'panas' waktu liburan kemarin adalah tentang sebuah band kenamaan dari kota kembang.
Setiap stasiun TV pasti memutar sinetron. Apakah itu sinetron remaja, Islami, misteri, komedi(?), anak(?) dan lain sebagainya. Ketika dulu sering nonton TV bareng ibu, saya pun sering berantem gara-gara jenis tayangan yang satu ini. Bagaimana tidak, sinetron yang ditonton ceritanya tidak bermutu (menurut saya) ditambah dengan panjang sinetron yang sepertinya tidak akan habis diputar 7 turunan. Kalau anda mengenal Smallville season 6 maka jika anda hidup sejaman dengan saya maka anda tentu mengenal juga Tersanjung 6. Sinetron sekarang? Saya pikir tidak jauh berbeda dengan dahulu. Sepertinya sekarang sedang musim sinetron bertema religi dan remaja. Tapi ada yang menarik setelah adanya tayangan-tayangan sejenis sinetron macam Bajaj Bajuri. Mungkin lebih tepat disebut dengan komedi situasi. Lihat saja OB (Office Boy) di RCTI atau Keluarga Senyum di TV7. Kedua tayangan tersebut patut ditonton, karena selain ringan menghibur tentu saja ada pelajaran yang bisa diambil, terutama dari Keluarga Senyum. Selain itu ada juga tayangan semacam sinetron yang cukup unik juga. Jika menonton sinetron konvensional kita seperti membaca sebuah novel atau cerita bersambung, maka tayangan ini seperti sebuah cerpen yang dapat kita baca tuntas dalam sekali waktu. Karena seperti cerpen, sinetron jenis ini biasanya mengangkat tema yang unik (bukan tema klise) dan sangat dekat dengan keseharian. Karena sekali selesai dalam satu tayangan maka tidak ada keterikatan untuk menonton episode selanjutnya.
Saya tidak akan membahas tayangan yang lainnya. Sudah jamak, jika di setiap stasiun televisi terdapat tayangan kriminal (investigasi), berita, olahraga, musik, reality show, masak-memasak dan kuliner serta acara lain yang saya tidak tahu bagaimana menyebutnya. Dan setiap stasiun televisi mencoba untuk menjadi unik dan menarik pemirsanya dengan tayangan-tayangan andalannya. Mungkin televisi kita memang bisa membuat acara-acara yang sesuai dengan keinginan pemirsanya. Sehingga tayangan-tayangan yang ada merupakan cerminan dari kesukaan masyarakat. Tetapi ada kemungkinan juga apapun yang ditayangkan oleh televisi akan disukai oleh masyarakat. Apa-apa yang disuguhkan oleh televisi akan menjadi hal-hal yang disukai oleh pemirsanya. Entah mana yang lebih tepat.
Mungkin benar jika kita bisa melihat karakter bangsa lewat tayangan televisi. Tapi mungkin benar juga tayangan-tayangan televisi sekarang terutama yang bersifat fiksi (misal sinetron dan sejenisnya) merupakan penggambaran berlebihan dari realitas masyarakat. Menonton TV sekali waktu bisa menjadi hiburan tetapi juga bisa meracuni pikiran. Asal tidak berlebihan dan bisa memilih tayangan dengan bijak, sepertinya tidak akan menjadi masalah.
Saturday, November 11, 2006
Thursday, October 19, 2006
Bunga
Gambar ini saya ambil ketika saya ada di sebuah kantor pemerintah daerah Pandeglang. Waktu itu siang dan sangat panas sekali. Setelah selesai sholat di mushola kantor itu, saya melihat bunga ini (terus terang saya tidak tahu ini bunga apa ;). Bunga itu tumbuh di tanah pingiran lapangan buku tangkis, di antara rerumputan yang tidak teratur. Mungkin saja memang jarang dirapikan. Sepintas mungkin akan jarang yang memperhatikan bunga ini karena ia memang tidak eye catching. Bandingkan dengan serumpun bunga mawar dengan warna merah menyala yang sangat menggoda mata. Ia sangat terlihat. Tapi siang itu, bunga ini sangat indah. Tak terlihat tapi tetap saja indah.
Friday, October 13, 2006
Ayahku
Garis wajahnya keras tapi ia tampan. Garis wajah itulah yang kumiliki sekarang. Ia duduk di kursi meja makan, menyeruput kopi kental nan panas. Udara pagi menyusur lewat jendela yang ada di sampingnya, melambaikan rambutnya yang beberapa telah mulai memutih.
Ia menatap ke arahku ketika aku berteriak, menyemburat ke arahnya.
"Ayah..."
"Ibu kan sudah bilang. Kalau besok pagi sekolah, peralatannya harus disiapkan. Jangan pagi-pagi begini baru sibuk mencari peralatan yang tidak ada."
Ayah menjadi benteng pelarianku ketika aku mendapat marah dari ibu. Pembawaannya sangat tenang meskipun sekali waktu amarahnya bisa meledak sangat hebat. Aku pernah melihatnya mematahkan sebuah meja kayu ketika bertengkar dengan ibu.
"Beristirahatlah, sayang. Engkau terlalu lelah bekerja, " kata ibuku suatu waktu ke Ayah.
Ia menggendong adik kecilku sambil melayani pukulan-pukulan raketku. Ia sanggup mengembalikan setiap shuttlecock yang terarah ke daerahnya meskipun satu tangannya menggendong adik kecilku. Ia sangat mahir bermain bulu tangkis. Aku dibuatnya jungkir balik, mengembalikan setiap pukulannya.
Ialah yang pertama kali mengajariku bersisir sendiri. Ialah yang sering berbelanja kopi, gula dan tentu saja minyak rambut. Minyak rambut yang dipakai untuk merapikan rambutku.
Aku sering mendengarnya membaca Qur'an di ruang tamu.
"Ayah hanya bisa membaca Qur'an, tapi tak bisa menulisnya," katanya sembari tersenyum.
Ia membaca sebuah Qur'an yang tulisannya tercetak di atas kertas yang coklat dengan huruf-huruf yang sangat berdempetan. Ketika aku membaca Qur'an itu, aku merasa sangat kesulitan. Tapi ayahku membacanya dengan sangat lancar.
Ialah yang setiap catur wulan membawakan sebuah piagam penghargaan dari kantornya. Piagam karena aku mendapatkan rangking berapapun. Dan piagam itu masih tertumpuk rapi hingga sekarang.
Ia beberapa kali menunjukkan bekas jahitan di perut bagian kirinya. Luka bekas operasi.
Suatu hari aku melihatnya kesakitan dan setelah itu ia pergi.
****
Pernah ada yang bertanya, "Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai?"
"Apa kau pernah kehilangan sebuah benda?"
"Iya pernah."
"Jauh lebih sakit daripada itu."
Aku tidak ingat kapan ia meninggal. Yang jelas aku merindukannya. Merindukan secangkir kopi yang tiap pagi ia minum, dekapannya, suaranya membaca Qur'an, lelucon-leluconnya, piagam yang ia bawa setiap cawu dan semua hal tentang dirinya. Jika ia masih ada sekarang, aku ingin bercerita tentang banyak hal kepadanya. Ayahku.
-Jangan pernah menyiakan setiap detik yang dianugerahkan Allah kepada kita untuk berbakti kepada orang tua-
Ia menatap ke arahku ketika aku berteriak, menyemburat ke arahnya.
"Ayah..."
"Ibu kan sudah bilang. Kalau besok pagi sekolah, peralatannya harus disiapkan. Jangan pagi-pagi begini baru sibuk mencari peralatan yang tidak ada."
Ayah menjadi benteng pelarianku ketika aku mendapat marah dari ibu. Pembawaannya sangat tenang meskipun sekali waktu amarahnya bisa meledak sangat hebat. Aku pernah melihatnya mematahkan sebuah meja kayu ketika bertengkar dengan ibu.
"Beristirahatlah, sayang. Engkau terlalu lelah bekerja, " kata ibuku suatu waktu ke Ayah.
Ia menggendong adik kecilku sambil melayani pukulan-pukulan raketku. Ia sanggup mengembalikan setiap shuttlecock yang terarah ke daerahnya meskipun satu tangannya menggendong adik kecilku. Ia sangat mahir bermain bulu tangkis. Aku dibuatnya jungkir balik, mengembalikan setiap pukulannya.
Ialah yang pertama kali mengajariku bersisir sendiri. Ialah yang sering berbelanja kopi, gula dan tentu saja minyak rambut. Minyak rambut yang dipakai untuk merapikan rambutku.
Aku sering mendengarnya membaca Qur'an di ruang tamu.
"Ayah hanya bisa membaca Qur'an, tapi tak bisa menulisnya," katanya sembari tersenyum.
Ia membaca sebuah Qur'an yang tulisannya tercetak di atas kertas yang coklat dengan huruf-huruf yang sangat berdempetan. Ketika aku membaca Qur'an itu, aku merasa sangat kesulitan. Tapi ayahku membacanya dengan sangat lancar.
Ialah yang setiap catur wulan membawakan sebuah piagam penghargaan dari kantornya. Piagam karena aku mendapatkan rangking berapapun. Dan piagam itu masih tertumpuk rapi hingga sekarang.
Ia beberapa kali menunjukkan bekas jahitan di perut bagian kirinya. Luka bekas operasi.
Suatu hari aku melihatnya kesakitan dan setelah itu ia pergi.
****
Pernah ada yang bertanya, "Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai?"
"Apa kau pernah kehilangan sebuah benda?"
"Iya pernah."
"Jauh lebih sakit daripada itu."
Aku tidak ingat kapan ia meninggal. Yang jelas aku merindukannya. Merindukan secangkir kopi yang tiap pagi ia minum, dekapannya, suaranya membaca Qur'an, lelucon-leluconnya, piagam yang ia bawa setiap cawu dan semua hal tentang dirinya. Jika ia masih ada sekarang, aku ingin bercerita tentang banyak hal kepadanya. Ayahku.
-Jangan pernah menyiakan setiap detik yang dianugerahkan Allah kepada kita untuk berbakti kepada orang tua-
Thursday, October 12, 2006
Mudik
Konon katanya, tradisi mudik hanya ada di Indonesia dan tidak di belahan bumi yang lain. Tradisi yang berawal dari semacam keharusan dan kebutuhan akan silaturahmi bersama sanak saudara di Hari Raya.
Tahun ini, insya Allah akan menjadi mudik saya kali ke tujuh. Semoga menjadi mudik yang menyenangkan :).
Mudik pertama, waktu itu masih kelas 1 SMA. Sekolah di luar kota, di sebuah tempat antah berantah. Seingat saya waktu itu libur puasa dan lebaran lumayan panjang. Jadi mudik pun dilakukan jauh-jauh hari sebelum Hari Raya. Karena setelah liburan akan ada ulangan umum catur wulan 2, maka tas ransel saya penuh dengan buku-buku pelajaran. Tapi apa hendak di kata, liburan pun diisi tanpa sedikit pun menyentuh buku-buku itu. Karena berkumpul dengan keluarga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bercengkerama atau sekedar bermain-main. Maklum waktu itu masih kecil. Karena mudik pertama kali, tentu saja ada pengalaman baru yang dirasakan. Mulai dari mencari tiket jauh-jauh hari sebelum berangkat, pembagian tempat duduk dengan teman-teman lain yang mudik pula (waktu itu ada 4 orang yang arah mudiknya sama) sampai pengalaman duduk minimal 10 jam sebelum akhirnya sampai di kampung halaman. Yang dilakukan selama ada di kampung halaman? Biasa saja. Membantu ibu menyiapkan kue-kue lebaran dan berjalan-jalan dengan teman-teman yang saya tinggal di kampung halaman.
Mudik kedua, waktu itu sudah ada di kelas 3. Kelas 3 masih di catur wulan pertama. Tak seperti mudik pertama, kali ini tanpa membawa bekal buku pelajaran sama sekali. Berkat pengalaman belajar 1 tahun lebih, ulangan umum tidak perlu dipersiapkan jauh-jauh hari. Cukup menyediakan otak yang sanggup begadang, secangkir kopi, dan kaki yang sewaktu-waktu siap untuk diajak melangkah ke kamar sebelah sekedar basa basi atau menanyakan hal-hal yang tidak mengerti. Memang bukan cara belajar yang baik. Waktu SMA itu, saya memang tinggal di asrama. Prosedur mudik masih sama dengan mudik pertama. Beli tiket jauh-jauh hari, kemudian tinggal menyiapkan fisik untuk menempuh perjalanan panjang. Yang dilakukan di kampung halaman? Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Membantu ibu membuat kue kering, kacang asin atau jajanan lain khas lebaran.
Mudik ketiga. Saya sudah menjadi mahasiswa ITB. Saat mudik adalah saat-saat yang saya tunggu setelah berkutat dengan kuliah dan tentu saja ospek yang 'menyehatkan'. Jika mudik 1 dan 2 saya berangkat dari pool bus Cibitung, mudik ke 3 ini saya berangkat dari terminal Cicaheum. Karena sudah mulai terbiasa dengan perjalanan panjang, maka duduk berlama-lama di dalam bus pun sudah menjadi hal yang biasa. Karena baru menjadi mahasiswa ITB, tentu saja yang mendominasi pembicaran selama di kampung halaman adalah tentang kuliah di ITB dan seterusnya. Tapi tetap saja, meskipun sudah menjadi mahasiswa, peran sebagai asisten masak + tester pembuatan kue-kue lebaran tetap saja berlanjut. Ada yang aneh ketika mudik waktu itu. Saat saya banyak bercerita tentang kuliah di ITB, teman-teman seangkatan saya masih duduk di kelas 3 SMA. Hiks.
Mudik keempat. Saya ada di tingkat 2, semester 3. Setelah sempat trauma dengan praktikum di Lab Logam yang sampai memakan waktu tarawih, saat mudik adalah saat-saat yang membahagiakan. Benar-benar sangat membahagiakan. Sama seperti mudik ketiga, saya berangkat dari Cicaheum dan kalau tidak salah waktu itu mudik sendirian. Cerita selama liburan lebaran di kampung halaman, saya sudah lupa.
Mudik kelima. Tentu saja sudah ada di tingkat 3 Teknik Industri ITB dengan Praktikum Perancangan Teknik Industri sebagai tema besarnya. Saat akan berangkat menempuh perjalanan, menerima sebuah kabar meninggalnya seseorang akibat kecelakaan. Semoga amal beliau diterima di sisi Nya. Waktu itu kalau tidak salah mudik bareng Mas Trian. Mas Trian yang memaksa kru bus untuk mematikan tv karena video klip yang ditampilkan kurang 'sopan'. Ndengerin suara aja cukup lah mas, gak usah pake gambar. Hehe. Lumayan lah, ada teman mengobrol sepanjang perjalanan, ada teman yang mengingatkan untuk jangan lupa tilawah meski di perjalanan, ada teman yang sama-sama makan pisang sebagai makanan sahur :).
Mudik keenam. Saya meninggalkan Mas Trian di Bandung untuk menyelesaikan template pabrik tugas Perancangan Tata Letak Pabrik. Waktu mudik sangat dekat sekali dengan lebaran, karena hari terakhir kuliah masih harus menjadi asisten sebuah praktikum. Mudik kali itu terasa lucu. Kisah selengkapnya ada di sini.
Mudik ke tujuh. Belum saya jalani. Insya Allah pulang beberapa hari lagi, setelah kemarin akhirnya mendapatkan tiket pulang juga. Kenapa sih tiket kendaraan sekitar Hari Raya selalu naik. Ngabisin duit aja :(. Dan waktu mudik kali ini pun sangat dekat dengan Lebaran, karena (lagi-lagi) masih menjadi asisten di 'sebuah praktikum' itu.
Mudik menjadi salah satu jalan kita untuk bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang dalam keseharian jauh dengan kita. Memang tak hanya dengan mudik kita bersilaturahmi. Tapi paling tidak dengan mudik, kita bisa lebih lepas menumpahkan kerinduan kepada keluarga kita terutama ayah ibu kita. Buat yang akan mudik, selamat mudik. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga:). Buat yang tidak mudik karena masih ada sesuatu yang menahan dia untuk tetap tinggal, semoga segala urusannya dimudahkan. Buat yang tidak mudik karena memang keluarganya ada di kota yang sama bahkan tinggal seatap, nikmati saja kebersamaan bersama keluarga.
Tahun ini, insya Allah akan menjadi mudik saya kali ke tujuh. Semoga menjadi mudik yang menyenangkan :).
Mudik pertama, waktu itu masih kelas 1 SMA. Sekolah di luar kota, di sebuah tempat antah berantah. Seingat saya waktu itu libur puasa dan lebaran lumayan panjang. Jadi mudik pun dilakukan jauh-jauh hari sebelum Hari Raya. Karena setelah liburan akan ada ulangan umum catur wulan 2, maka tas ransel saya penuh dengan buku-buku pelajaran. Tapi apa hendak di kata, liburan pun diisi tanpa sedikit pun menyentuh buku-buku itu. Karena berkumpul dengan keluarga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bercengkerama atau sekedar bermain-main. Maklum waktu itu masih kecil. Karena mudik pertama kali, tentu saja ada pengalaman baru yang dirasakan. Mulai dari mencari tiket jauh-jauh hari sebelum berangkat, pembagian tempat duduk dengan teman-teman lain yang mudik pula (waktu itu ada 4 orang yang arah mudiknya sama) sampai pengalaman duduk minimal 10 jam sebelum akhirnya sampai di kampung halaman. Yang dilakukan selama ada di kampung halaman? Biasa saja. Membantu ibu menyiapkan kue-kue lebaran dan berjalan-jalan dengan teman-teman yang saya tinggal di kampung halaman.
Mudik kedua, waktu itu sudah ada di kelas 3. Kelas 3 masih di catur wulan pertama. Tak seperti mudik pertama, kali ini tanpa membawa bekal buku pelajaran sama sekali. Berkat pengalaman belajar 1 tahun lebih, ulangan umum tidak perlu dipersiapkan jauh-jauh hari. Cukup menyediakan otak yang sanggup begadang, secangkir kopi, dan kaki yang sewaktu-waktu siap untuk diajak melangkah ke kamar sebelah sekedar basa basi atau menanyakan hal-hal yang tidak mengerti. Memang bukan cara belajar yang baik. Waktu SMA itu, saya memang tinggal di asrama. Prosedur mudik masih sama dengan mudik pertama. Beli tiket jauh-jauh hari, kemudian tinggal menyiapkan fisik untuk menempuh perjalanan panjang. Yang dilakukan di kampung halaman? Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Membantu ibu membuat kue kering, kacang asin atau jajanan lain khas lebaran.
Mudik ketiga. Saya sudah menjadi mahasiswa ITB. Saat mudik adalah saat-saat yang saya tunggu setelah berkutat dengan kuliah dan tentu saja ospek yang 'menyehatkan'. Jika mudik 1 dan 2 saya berangkat dari pool bus Cibitung, mudik ke 3 ini saya berangkat dari terminal Cicaheum. Karena sudah mulai terbiasa dengan perjalanan panjang, maka duduk berlama-lama di dalam bus pun sudah menjadi hal yang biasa. Karena baru menjadi mahasiswa ITB, tentu saja yang mendominasi pembicaran selama di kampung halaman adalah tentang kuliah di ITB dan seterusnya. Tapi tetap saja, meskipun sudah menjadi mahasiswa, peran sebagai asisten masak + tester pembuatan kue-kue lebaran tetap saja berlanjut. Ada yang aneh ketika mudik waktu itu. Saat saya banyak bercerita tentang kuliah di ITB, teman-teman seangkatan saya masih duduk di kelas 3 SMA. Hiks.
Mudik keempat. Saya ada di tingkat 2, semester 3. Setelah sempat trauma dengan praktikum di Lab Logam yang sampai memakan waktu tarawih, saat mudik adalah saat-saat yang membahagiakan. Benar-benar sangat membahagiakan. Sama seperti mudik ketiga, saya berangkat dari Cicaheum dan kalau tidak salah waktu itu mudik sendirian. Cerita selama liburan lebaran di kampung halaman, saya sudah lupa.
Mudik kelima. Tentu saja sudah ada di tingkat 3 Teknik Industri ITB dengan Praktikum Perancangan Teknik Industri sebagai tema besarnya. Saat akan berangkat menempuh perjalanan, menerima sebuah kabar meninggalnya seseorang akibat kecelakaan. Semoga amal beliau diterima di sisi Nya. Waktu itu kalau tidak salah mudik bareng Mas Trian. Mas Trian yang memaksa kru bus untuk mematikan tv karena video klip yang ditampilkan kurang 'sopan'. Ndengerin suara aja cukup lah mas, gak usah pake gambar. Hehe. Lumayan lah, ada teman mengobrol sepanjang perjalanan, ada teman yang mengingatkan untuk jangan lupa tilawah meski di perjalanan, ada teman yang sama-sama makan pisang sebagai makanan sahur :).
Mudik keenam. Saya meninggalkan Mas Trian di Bandung untuk menyelesaikan template pabrik tugas Perancangan Tata Letak Pabrik. Waktu mudik sangat dekat sekali dengan lebaran, karena hari terakhir kuliah masih harus menjadi asisten sebuah praktikum. Mudik kali itu terasa lucu. Kisah selengkapnya ada di sini.
Mudik ke tujuh. Belum saya jalani. Insya Allah pulang beberapa hari lagi, setelah kemarin akhirnya mendapatkan tiket pulang juga. Kenapa sih tiket kendaraan sekitar Hari Raya selalu naik. Ngabisin duit aja :(. Dan waktu mudik kali ini pun sangat dekat dengan Lebaran, karena (lagi-lagi) masih menjadi asisten di 'sebuah praktikum' itu.
Mudik menjadi salah satu jalan kita untuk bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang dalam keseharian jauh dengan kita. Memang tak hanya dengan mudik kita bersilaturahmi. Tapi paling tidak dengan mudik, kita bisa lebih lepas menumpahkan kerinduan kepada keluarga kita terutama ayah ibu kita. Buat yang akan mudik, selamat mudik. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga:). Buat yang tidak mudik karena masih ada sesuatu yang menahan dia untuk tetap tinggal, semoga segala urusannya dimudahkan. Buat yang tidak mudik karena memang keluarganya ada di kota yang sama bahkan tinggal seatap, nikmati saja kebersamaan bersama keluarga.
Friday, October 06, 2006
Ramadhan hari III
Tumpukan buku ada di sudut ruangan. Mungkin buku tua. Panas, pengap. Ventilasi tidak membiarkan udara berlalu bebas. Semua tersangkut oleh debu yang memenuhi kawat kasa. Aku tidak mendengar suaranya ketika ia tiba-tiba meloncat ke arahku. Sesaat aku melihat kepalan tangannya. Tapi terlalu cepat untuk aku menghindar. Pukulannya mengenai pelipisku.
"Apa maksudmu?"
Ia meloncat lagi ke arahku. Kali ini kilatan cahaya dari sebuah gunting mengenai mataku. Matanya menyala tajam. Gunting mengarah ke leherku. Ia pasti tak hendak membunuhku. Dinginnya baja terasa di leherku. Ia hanya menempelkan gunting itu di leherku.
"Tak bisakah kita bicara dengan baik?"
Ia meloncat kembali ke belakang, meletakkan gunting itu dan kembali ke arahku. Ia mencekikku kali ini. Tapi aku pikir ia tak hendak membunuhku lagi.
"Apa maumu?"
"Aku sedang puasa!"
Ia memukulku sebelum ia berbelok dan lari keluar. Aku terlalu lemah untuk melawan. Ruangan masih panas. Orang-orang hanya menonton aku dihajar oleh orang tolol itu. Ingin rasanya aku mengacungkan jari tengah. Sialan. Tapi aku sedang puasa.
"Jadi bagaimana Pak? Kita harus bagaimana sekarang? Ada cermin Pak? Rasanya pelipisku berdarah. Ada tissu?"
Aku pusing. Tak tahu harus berbuat apa. Orang-orang yang menontonku dihajar tadi terus bicara. Aku tak tahu mereka bicara apa.
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih."
Aku terhuyung di jalan sebelum masuk ke angkot. Ternyata dunia juga diwarnai dengan seorang laki-laki kecil, jelek, jabrik, yang hanya bisa berbicara dengan pukulan, bersenandung dengan kebohongan, yang melihat kekerasan sebagai solusi terbaik dari masalah. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang menghajarku tadi. Tapi ternyata dunia tak seburuk itu. Apa perlu aku ceritakan kalau di angkot itu ada seorang perempuan berlesung pipi berpakaian merah muda, tersenyum padaku, ketika aku memijit-mijit pelipisku yang terlihat memerah di kaca spion supir angkot. Masih indah bukan.
****
"Hayo ayah...Perempuan itu siapa?"
"Lagipula kenapa ayah ada di tempat itu? Kok tidak melawan?"
"Tanya ibumu saja. Pasti ia tahu siapa perempuan itu."
"Ah ayah."
"Ayo sekarang kalian pergi tidur. Besok pagi harus bangun sahur."
"Besok cerita lagi ya Yah."
"Pasti."
"Apa maksudmu?"
Ia meloncat lagi ke arahku. Kali ini kilatan cahaya dari sebuah gunting mengenai mataku. Matanya menyala tajam. Gunting mengarah ke leherku. Ia pasti tak hendak membunuhku. Dinginnya baja terasa di leherku. Ia hanya menempelkan gunting itu di leherku.
"Tak bisakah kita bicara dengan baik?"
Ia meloncat kembali ke belakang, meletakkan gunting itu dan kembali ke arahku. Ia mencekikku kali ini. Tapi aku pikir ia tak hendak membunuhku lagi.
"Apa maumu?"
"Aku sedang puasa!"
Ia memukulku sebelum ia berbelok dan lari keluar. Aku terlalu lemah untuk melawan. Ruangan masih panas. Orang-orang hanya menonton aku dihajar oleh orang tolol itu. Ingin rasanya aku mengacungkan jari tengah. Sialan. Tapi aku sedang puasa.
"Jadi bagaimana Pak? Kita harus bagaimana sekarang? Ada cermin Pak? Rasanya pelipisku berdarah. Ada tissu?"
Aku pusing. Tak tahu harus berbuat apa. Orang-orang yang menontonku dihajar tadi terus bicara. Aku tak tahu mereka bicara apa.
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih."
Aku terhuyung di jalan sebelum masuk ke angkot. Ternyata dunia juga diwarnai dengan seorang laki-laki kecil, jelek, jabrik, yang hanya bisa berbicara dengan pukulan, bersenandung dengan kebohongan, yang melihat kekerasan sebagai solusi terbaik dari masalah. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang menghajarku tadi. Tapi ternyata dunia tak seburuk itu. Apa perlu aku ceritakan kalau di angkot itu ada seorang perempuan berlesung pipi berpakaian merah muda, tersenyum padaku, ketika aku memijit-mijit pelipisku yang terlihat memerah di kaca spion supir angkot. Masih indah bukan.
****
"Hayo ayah...Perempuan itu siapa?"
"Lagipula kenapa ayah ada di tempat itu? Kok tidak melawan?"
"Tanya ibumu saja. Pasti ia tahu siapa perempuan itu."
"Ah ayah."
"Ayo sekarang kalian pergi tidur. Besok pagi harus bangun sahur."
"Besok cerita lagi ya Yah."
"Pasti."
Monday, September 25, 2006
Selamat Berpuasa
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Saya mohon maaf atas semua kekhilafan. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat berpuasa.
Friday, September 15, 2006
Photo of the day

Hajar terus Pak!!! Sikat aja!!! Jangan dikasih ampun!!! Huehehe.
Selamat buat saudaraku Mas Trian yang sudah lulus mendahului saya ;).
Wednesday, September 13, 2006
Besi





Beberapa, mempunyai bakat yang begitu besar hingga tidak perlu bersusah payah untuk menemukannya. Beberapa, harus disiplin dan kerja keras untuk memunculkannya. Yang manakah anda?
Cerita perjalanan
Saya tidak tahu apakah hal ini baik atau buruk.
Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya bepergian ke daerah Jakarta Utara sendirian. Menyusuri bagian utara Jakarta Utara yang menyemburkan bau anyir atau amis (saya juga tidak tahu itu jenis bau apa). Angkot-angkot yang saya tumpangi tak jauh beda dengan angkot-angkot yang biasa saya kendarai di Bandung. Tapi ada beberapa hal aneh ketika saya 'berjalan' di daerah utara Jakarta Utara ini.
Pertama. Orang Jakarta biasanya sangat individualis. Itu stereotip. Entah karena ketatnya persaingan atau memang keturunan. Hal itu bisa dilihat dari sopir-sopir bajaj yang saling tidak mau mengalah sambil menaruh kaki kirinya di 'dashboard' bajaj dengan santainya. Atau teriakan-teriakan kernet yang memekakkan telinga memaksa orang memasuki busnya. Atau bunyi-bunyi klakson dari kendaraan yang terus saja meraung padahal semua orang yang tumpah ruah disitu tahu kalau sedang macet. Tapi di hari saya melakukan perjalanan itu ada hal yang membuat saya sedikit termenung. Ketika saya menanyakan apa yang harus saya kendarai dari daerah Kelapa Gading ke daerah Pluit, orang-orang yang saya tanyai menjawab saya dengan sangat sangat ramah. Begitu juga ketika di bus kota. Kernet akan melambatkan waktu berhenti-jalan bus ketika ada orang yang sudah sepuh hendak naik atau turun. Orang-orang akan rela menyerahkan tempat duduknya ke orang yang sudah sepuh agar orang yang sudah sepuh tersebut lebih nyaman mengendarai kendaraan yang sebenarnya tak lagi layak pakai ini. Jadi tidak hanya seperti yang kita lihat di salah satu iklan rokok yang berjargon 'Buktikan merahmu' saja. Sampai tahap ini, sisi individualis dari orang-orang Jakarta tidak terlihat. Mungkin saya memang sedang tidak bisa melihatnya.
Kedua. Masih berkaitan dengan paragraf di atas. Kenapa banyak orang-orang sepuh yang bepergian sendiri di kota seramai ini. Apakah memang mereka tidak mempunyai keluarga yang paling tidak bisa mengantarkan mereka bepergian memakai kendaraan umum yang jarang nyaman ini. Saya melihatnya sebagai salah satu hal yang tidak biasa. Kenapa tidak biasa, karena dari 2 kota yang saya tinggali (Madiun dan Bandung) kejadian orang sepuh 'berjalan-jalan' sendiri sangat jarang terjadi. Untuk negara dengan tingkat aksesibilitas bagi orang cacat dan lanjut usia sangat rendah seperti Indonesia ini, kejadian tersebut sangat memprihatinkan (minimal buat saya). Jika di negara Eropa sarana publik sangat memperhatikan faktor aksesibilitas untuk orang cacat dan lanjut usia, maka sangat wajar jika orang-orang cacat dan lanjut usia bepergian sendirian. Di samping karena orang-orangnya juga individualistis. Tapi di negara kita, yang sarana publiknya sangat 'sederhana' ini, yang asal ada tanpa memperhatikan penggunanya, yang masyarakatnya katanya kolektif, bagaimana bisa orang-orang lanjut usia dibiarkan bepergian sendirian. Aneh.
Karena sendirian, saya banyak merenung selama bepergian di tatar Sunda Kelapa itu. Hanya sesekali bercakap untuk memastikan saya tidak akan tersesat di kota sebesar ini. Dan dalam perenungan itu saya menemukan hal-hal baik yang ada di sekitar hal yang 'kurang baik'. Dan hal-hal 'kurang baik' yang bergumul dengan hal-hal baik. Sebenarnya saya ingin menuliskan hal lebih banyak lagi. Tapi cukuplah sampai disini cerita perjalanan saya di tatar Sunda Kelapa itu.
Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya bepergian ke daerah Jakarta Utara sendirian. Menyusuri bagian utara Jakarta Utara yang menyemburkan bau anyir atau amis (saya juga tidak tahu itu jenis bau apa). Angkot-angkot yang saya tumpangi tak jauh beda dengan angkot-angkot yang biasa saya kendarai di Bandung. Tapi ada beberapa hal aneh ketika saya 'berjalan' di daerah utara Jakarta Utara ini.
Pertama. Orang Jakarta biasanya sangat individualis. Itu stereotip. Entah karena ketatnya persaingan atau memang keturunan. Hal itu bisa dilihat dari sopir-sopir bajaj yang saling tidak mau mengalah sambil menaruh kaki kirinya di 'dashboard' bajaj dengan santainya. Atau teriakan-teriakan kernet yang memekakkan telinga memaksa orang memasuki busnya. Atau bunyi-bunyi klakson dari kendaraan yang terus saja meraung padahal semua orang yang tumpah ruah disitu tahu kalau sedang macet. Tapi di hari saya melakukan perjalanan itu ada hal yang membuat saya sedikit termenung. Ketika saya menanyakan apa yang harus saya kendarai dari daerah Kelapa Gading ke daerah Pluit, orang-orang yang saya tanyai menjawab saya dengan sangat sangat ramah. Begitu juga ketika di bus kota. Kernet akan melambatkan waktu berhenti-jalan bus ketika ada orang yang sudah sepuh hendak naik atau turun. Orang-orang akan rela menyerahkan tempat duduknya ke orang yang sudah sepuh agar orang yang sudah sepuh tersebut lebih nyaman mengendarai kendaraan yang sebenarnya tak lagi layak pakai ini. Jadi tidak hanya seperti yang kita lihat di salah satu iklan rokok yang berjargon 'Buktikan merahmu' saja. Sampai tahap ini, sisi individualis dari orang-orang Jakarta tidak terlihat. Mungkin saya memang sedang tidak bisa melihatnya.
Kedua. Masih berkaitan dengan paragraf di atas. Kenapa banyak orang-orang sepuh yang bepergian sendiri di kota seramai ini. Apakah memang mereka tidak mempunyai keluarga yang paling tidak bisa mengantarkan mereka bepergian memakai kendaraan umum yang jarang nyaman ini. Saya melihatnya sebagai salah satu hal yang tidak biasa. Kenapa tidak biasa, karena dari 2 kota yang saya tinggali (Madiun dan Bandung) kejadian orang sepuh 'berjalan-jalan' sendiri sangat jarang terjadi. Untuk negara dengan tingkat aksesibilitas bagi orang cacat dan lanjut usia sangat rendah seperti Indonesia ini, kejadian tersebut sangat memprihatinkan (minimal buat saya). Jika di negara Eropa sarana publik sangat memperhatikan faktor aksesibilitas untuk orang cacat dan lanjut usia, maka sangat wajar jika orang-orang cacat dan lanjut usia bepergian sendirian. Di samping karena orang-orangnya juga individualistis. Tapi di negara kita, yang sarana publiknya sangat 'sederhana' ini, yang asal ada tanpa memperhatikan penggunanya, yang masyarakatnya katanya kolektif, bagaimana bisa orang-orang lanjut usia dibiarkan bepergian sendirian. Aneh.
Karena sendirian, saya banyak merenung selama bepergian di tatar Sunda Kelapa itu. Hanya sesekali bercakap untuk memastikan saya tidak akan tersesat di kota sebesar ini. Dan dalam perenungan itu saya menemukan hal-hal baik yang ada di sekitar hal yang 'kurang baik'. Dan hal-hal 'kurang baik' yang bergumul dengan hal-hal baik. Sebenarnya saya ingin menuliskan hal lebih banyak lagi. Tapi cukuplah sampai disini cerita perjalanan saya di tatar Sunda Kelapa itu.
Friday, September 08, 2006
Apresiasi Sastra
Tak mau dicap sebagi sok nyastra memang, hanya ingin memberikan apresiasi pada karya sastra. Pertama kali melihat tulisan kuliah Apresiasi Sastra berikut nilai-nilai akhir peserta kuliah di salah satu sudut gedung di ITB, langsung berpikir " Wah ada juga ya kuliah kayak gini. Boleh juga nih dicoba."
Terus terang bukan karena nilai, walaupun katanya kuliah-kuliah dari Sostek (Sosioteknologi) ITB disebut kejar paket A karena mudah sekali mendapatkan nilai A. Murni karena rasa ingin tahu. Dan juga karena ingin meluaskan pandangan yang selama ini 'cuma' berkutat dengan perkuliahan Teknik Industri. Hanya itu.
Untuk ukuran mata kuliah 1 semester, kuliah ini sangat padat dalam artian banyak sekali bahan yang akan disampaikan. Meskipun tak akan sedalam bahan yang disampaikan kepada mahasiswa jurusan sastra, tapi cukuplah memberikan pengetahuan 'apa itu sastra' dan 'bagaimana menghargainya'.
Dan untuk mahasiswa yang senang berfilsafat, maka kuliah ini sedikit banyak akan cocok dengan jiwanya. Maka 2 kali pertemuan kuliah ini, kepala saya sangat pusing saat dosen membahas tentang Postmodernism dsb. Atau sekedar mengutip kata Aristoteles : Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan. Pfuih.
Dan sebagai informasi saja, mata kuliah ini diadakan setiap hari Rabu jam 1 siang atau setelah kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi. Mata kuliah yang saya rekomendasikan buat teman-teman yang suka menulis. Lumayan rame meski banyak tugas.
Terus terang bukan karena nilai, walaupun katanya kuliah-kuliah dari Sostek (Sosioteknologi) ITB disebut kejar paket A karena mudah sekali mendapatkan nilai A. Murni karena rasa ingin tahu. Dan juga karena ingin meluaskan pandangan yang selama ini 'cuma' berkutat dengan perkuliahan Teknik Industri. Hanya itu.
Untuk ukuran mata kuliah 1 semester, kuliah ini sangat padat dalam artian banyak sekali bahan yang akan disampaikan. Meskipun tak akan sedalam bahan yang disampaikan kepada mahasiswa jurusan sastra, tapi cukuplah memberikan pengetahuan 'apa itu sastra' dan 'bagaimana menghargainya'.
Dan untuk mahasiswa yang senang berfilsafat, maka kuliah ini sedikit banyak akan cocok dengan jiwanya. Maka 2 kali pertemuan kuliah ini, kepala saya sangat pusing saat dosen membahas tentang Postmodernism dsb. Atau sekedar mengutip kata Aristoteles : Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan. Pfuih.
Dan sebagai informasi saja, mata kuliah ini diadakan setiap hari Rabu jam 1 siang atau setelah kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi. Mata kuliah yang saya rekomendasikan buat teman-teman yang suka menulis. Lumayan rame meski banyak tugas.
Subscribe to:
Posts (Atom)