Sunday, December 10, 2006

Bab I : Pendahuluan

Belum ada bahan untuk melanjutkan kisah Sang Arsitek:). Tapi juga, sebenarnya sedang mencoba untuk menegur diri sendiri secara halus : Kapan selesai TA-nya? Kapan sidang? Kapan wisuda? Terus kapan-kapan yang lainnya lagi. Alkisah, bab 1 TA saya sudah selesai entah beberapa bulan yang lalu. Sudah disetujui oleh dosen pembimbing dengan beberapa perbaikan. Bahkan saya sampai lupa, dulu menulis apa di bab 1 tersebut. Entah kenapa sampai sekarang TA yang seharusnya 'cuma' 6 bab itu tak kunjung selesai juga. Mulai dari sulitnya mencari literatur yang pas, menemukan dosen yang ahli di bidang ini tapi -sayangnya- saya tidak bisa mendapat banyak dari beliau, pembangunan software yang semoga saja bisa cepat selesai sampai dosen pembimbing saya yang entah kapan akan muncul kembali dari cutinya.

Berbicara mengenai Bab 1 : pendahuluan, sehebat atau seremeh apapun penelitian yang dilakukan pasti memerlukan bab ini. Entah benar-benar menjadi pijakan pokok dalam penelitian atau sekedar pembenaran berbau ilmiah dilakukannya penelitian tersebut. Tapi tetap saja mau tak mau bab itu tidak bisa dihilangkan.

Saya banyak belajar tentang ini beberapa hari terakhir. Ceritanya, sekarang sedang ada rekruitmen untuk asisten baru lab. Salah satu tahapannya adalah calon asisten diminta untuk membuat karya tulis. Dengan melihat presentasi karya tulis mereka (calon asisten), setidaknya saya bisa membayangkan bagaimana alur berpikir mereka hingga terbentuk sebuah karya tulis. Rata-rata lemah pada latar belakang, meskipun tidak semuanya. Sebenarnya tidak fair juga. Menghadapi asisten penguji yang beberapa sedang mengambil TA serta beberapa yang sedang mengambil mata kuliah Komunikasi Profesional. Sebuah mata kuliah yang sengaja dirancang untuk membekali mahasiswa dalam hal penelitian dan bagaimana mengkomunikasikannya. Dan calon asisten belum mendapatkan hal tersebut. Tapi bukan disitu letak permasalahannya.

Permasalahan terletak saat mereka tidak bisa memberikan penjelasan : kenapa mereka melakukan penelitian tersebut atau kenapa hal tersebut layak untuk dijadikan bahan penelitian. Sebenarnya dengan memberikan alasan : karena saya ingin, -menurut saya- telah bisa dijadikan alasan untuk melakukan sesuatu. Tapi alasan tersebut akan terlihat sangat tidak ilmiah sekali untuk sebuah produk ilimiah berupa karya tulis atau penelitian. Beberapa bulan yang lalu saya memperoleh kesempatan berbincang dengan seorang psikolog anak. Menurut beliau : orang Indonesia sangat lemah dalam hal reasoning -kenapa ia melakukan sesuatu. Menurut beliau lagi, bahwa sejak kecil anak-anak tidak dibiasakan untuk mengambil peran dalam menentukan suatu perilaku, membebaskan anak untuk mengambil keputusan serta tidak memberikan alasan-alasan logis kenapa suatu hal itu boleh dilakukan sementara yang lain tidak. Anak-anak, tambah beliau, seringkali kali hanya diajari : what next. Setelah ini seharusnya begini begitu, kalau ada masalah ini solusinya begitu. Jarang sekali diajari : kenapa harus begitu. Jadi sampai disini, masalah lemahnya reasoning bisa jadi disebabkan karena kurangnya ajaran atau tuntunan tentang hal itu.

Saya merupakan salah satu produk pendidikan Indonesia. Begitu juga hampir semua anak Indonesia. Dari TK sampai sekarang, tuntunan mengenai pentingnya 'kenapa' (reasoning) saya rasakan sangat minim.. Kita dijejali dengan berbagai pengetahuan tanpa tahu kenapa harus mempelajari hal tersebut. Alasan yang diberikan juga biasanya normatif : karena ilmu ini itu bermanfaat, bermanfaat di kemudian hari dan bla bla lainnya. Anak didik bagaikan patung yang dipahat seindah mungkin oleh seniman. Patung itu indah tetapi tidak berjiwa. Bukankan pendidikan seharusnya juga membentuk karakter, bukan sekedar membangun kompetensi. Bukankah seharusnya pendidikan mengajarkan kita cara berpikir yang runtun, meski berpikir acak juga sangat penting dan seringkali dipergunakan juga. Bukankah kreativitas juga bermula dari kumpulan pengetahuan yang berserak di kepala, kemudian dihimpun dan dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan. Kesadaran akan pentingnya reasoning sebagai salah satu alur berpikir seringkali baru disadari ketika telah beranjak dewasa. Bukankan akan lebih baik jika dimulai dari dini. Meskipun tentu saja dengan cara penyampaian yang lain jika hal yang sama diberikan pada orang dewasa. Bukankah akan jauh lebih baik jika kemampuan untuk selalu menggunakan pijakan dalam berpikir, berkata dan berbuat, menjadi bagian dari karakter seorang manusia.

Wallahu a'lam.

2 comments:

ian said...

Dan Kompentensi tidak akan tercapai tanpa Karakter.
Makanya, Pendidikan Indonesia menggunakan istilah Proses Belajar Mengajar (PBM), jadi ya kegiatannya mengajar apa yang perlu diajarkan...Dan harus dipahami bahwa mendidik berbeda dari mengajar. Belajar bisa dilakukan sendiri seperti, belajar masak, belajar komputer, dan bahkan belajar materi- materi kuliah. Tanpa masuk kelas pun sebenarnya seorang mahasiswa bisa menguasai materi sebuah kelas.

Tapi, pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada "pelaku" dan "pengontrol". lagi pula tidak ada kata yang enak didengar untuk menggambarkan pendidikan yang dilakukan sendiri. Dididik (jelas butuh yang mendidik), didikan (hasil pendidikan), mendidik (apalagi ini...), Didik (yang ini nama orang...). Dan bahasa mencerminkan budaya. Berarti sebenarnya bangsa Indonesia sudah paham bahwa pendidikan membutuhkan komunikasi 2 arah, tidak seperti pengajaran.

Istilahmu "patung indah tapi tanpa jiwa" bisa menggambarkan hal ini. Hilangnya esensi komunikasi 2 arah bisa sangat fatal. Bahkan ada ungkapan diantara para pendidik: What is the sign that the learning process is successful? It is when a student is able to refute his teacher's opinion. Sudah lazim kah hal ini di Indonesia? Itu juga kalau gurunya punya opini sendiri yang terlepas dari apa yang dikatakan buku teks =)

Kembali ke learning process, hal ini akan bisa dipahami mengapa yang dipakai adalah kata learning, bukan studying. Karena seperti kita ketahui bahwa studying bisa dilakukan sendiri, tanpa perlu seorang guru. Guru di sini adalah sebagai sumber pengetahuan, bukan seseorang yang berprofesi sebagai pendidik (atau biasa disebut pengajar). Maka tak jarang banyak orang yang mengatakan, "Buku adalah guruku>" , bukannya "Buku adalah pendidikku". karena buku tidak bisa memantau apa yang kita serap dan pahami dari proses belajar kita.

Tampaknya fenomena ini yang terjadi di dunia pendidikan (atau lebih tepatnya pengajaran) Indonesia. Seperti yang ditulis di blog, tidak ada proses untuk mencari tahu mengapa kita harus belajar ini dan itu, yang ada hanya apa yang harus kita pelajari.
Filosofi pemerintah tampaknya kurang berhasil dipahami atau mencapai sasaran. Saat pemerintah mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun, selama 9 tahun itulah yang disebut Pendidikan Dasar. Selepas itu disebut Pendidikan Lanjutan. Nah yang kurang dipahami di sini adalah esensi Pendidikan Dasar-nya. yang ada hanya Pengajaran Dasar. Seharusnya kalau memang Wajar 9 Tahun menjadi Pendidikan Dasar, itu sudah bisa menjadi pondasi yang solid untuk melanjutkan pendidikan ke depannya.

Kok malah jadi kaya' blog entry ya, An? Apa aku tulis di blog aja ya hehe...

aulia ardiansyah said...

Komentar yang panjang. Sepakat Ian. Meskipun aku jg blum banyak ngerti tentang PENDIDIKAN dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Sering denger dan ngobrol dg temen2, beberapa punya cita2 bikin sekolah. Mungkin karena merasa gak puas dengan kondisi pendidikan Indonesia sekarang dan pingin membuat sistem pendidikan yang dirasa baik dan memanusiakan manusia. Makanya aku juga pingin belajar banyak tentang pendidikan. Biar minimal tahu tentang gimana kira2 model pendidikan yang bagus. Syukur2 bisa bikin sekolah juga :)