Saturday, August 01, 2009

Pindahan....

Silakan menuju ke Rumah Baru Kami ^^

Tuesday, March 11, 2008

Menikmati Hidup

"Nak, kenapa kamu seperti tergesa-gesa?" tanya Ibu.
"Tidak tergesa-gesa kok Bu. Aku sudah memperhitungkannya. Hanya saja masih banyak hal yang ingin aku capai" jawab sang Anak.
Saat pembicaraan itu selesai sang Anak pun kembali dalam sunyi dan ia berbicara dengan hatinya : "Dengan semua kesegeraan ini, bisakah aku menikmati hidupku?"

Be present

Anda yang sedang membaca tulisan ini hidup sejaman dengan saya. Anda hidup di jaman yang mengharuskan anda untuk bergerak serba cepat. Anda harus berlari mengejar bus, masuk dengan tergesa meski bus sudah penuh sesak agar tak terlambat sampai di kantor. Anda berusaha memangkas waktu agar penyelesaian tugas-tugas anda lebih cepat.

Anda pernah menonton film Click yang menampilkan Adam Sandler sebagai pemeran utamanya? Bagaimana jika anda mempunyai sebuah remote control yang bisa 'mengendalikan' hidup anda? Fast-forward adalah fitur paling menonjol yang ditampilkan dalam film tersebut. Fitur fast-forward memungkinkan pemakainya mempercepat 'bingkai' waktu dan mengabaikan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Jika anda mempunyai remote tersebut, anda bisa memencet tombol fast-forward dan membiarkan bos anda membanjirkan amarahnya, sedangkan anda sendiri tidak merasakan apa-apa.

Menjalani hidup dengan 'tergesa' mungkin tak masalah jika anda bisa menikmati setiap detik yang anda lalui. Tapi akan sangat sayang jika anda melewatkan begitu saja setiap momen yang berlalu di hadapan anda. Anda pasti tak mau kehilangan kenangan indah dengan orang-orang yang anda kasihi. Anda pasti tak mau juga kehilangan obrolan hangat dengan sahabat-sahabat anda.

Banyak orang yang sepakat bahwa 'jangan hidup di masa lalu'. Pengalaman masa lalu sudah sepantasnya dijadikan pelajaran berharga. Cukup diambil hikmahnya, tak usah diingat-ingat lagi hal-hal buruk apalagi yang bisa menyebabkan trauma. Tapi berapa banyak di antara kita yang justru terjebak hidup di masa depan? Tuntutan untuk membuat rencana masa depan seringkali membuat kita memandang jauh ke depan, terlalu jauh kadang. Sangat benar jika kita membuat rencana untuk kehidupan kita mendatang. Bukankah kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh kemampuannya merencana dan melakukan rencananya itu. Tapi jangan lupa bahwa kita (juga) hidup di masa sekarang.

Saya teringat akan sebuah artikel di salah satu media massa Indonesia. Artikel tersebut mengingatkan kita untuk menikmati apa yang sedang kita jalani sekarang. Be present, kata kuncinya. Be present bisa berarti jalani saja hidup saat sekarang. Bukan di masa lalu atau di masa yang akan datang. Be present bisa juga berarti jadilah hadiah dengan kehadiran anda. Jadilah hadiah dengan mendengarkan dengan santun saat orang yang anda kasihi berbicara dengan anda. Jadilah hadiah dengan membuat suasana menjadi ceria saat anda berkumpul dengan sahabat-sahabat anda. Jadilah hadiah dengan mengecup tangan orang tua anda dan berkata bahwa anda menyayanginya. Dan semua hal tersebut seringkali tidak dapat kita lakukan dalam ketergesaan.

Kura-kura

Katanya kura-kura berumur panjang karena berjalan lambat-lambat. Ia mungkin menikmati setiap langkahnya dengan membawa kerudung cangkang yang menyelimuti tubuhnya.

Ada orang yang sangat memuja kelambanan. Mereka seperti tak rela melihat waktu berjalan cepat. Mereka menghisap setiap sari kehidupan serta memeras setiap kesenangan dan kegetiran yang ada di dalamnya. Mereka menikmati betul setiap detik kehidupan yang mereka rasakan.

Ada orang yang memilih hidup mengalir seperti air dan ikut terbang kemanapun angin berhembus. Mereka mungkin menjadi antitesis dari kehidupan yang serba instan dan kering. Orang-orang mungkin menganggap mereka lamban dan tak punya tujuan hidup.

Setiap orang bebas memilih. Termasuk memilih untuk menjalani hidup dengan lamban. Yang jelas kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Hidup kita terlalu pendek untuk mengejar semua impian-impian, itupun kalau ada impian yang harus dikejar. Waktu kita terlampau sempit untuk melayani orang-orang dengan baik hingga kita pantas menjadi orang baik. Dan mungkin saja nafas kita tak cukup panjang untuk menuntaskan misi pribadi kita.

Timbangan

Kebijaksanaan dalam hidup ibarat timbangan dalam perniagaan. Ia yang digunakan untuk menakar kadar kecukupan. Kapan kita harus berani, kapan kita harus menunggu. Kapan kita berlari kencang, kapan kita harus duduk manis mendengarkan suara tetesan air. Dan kapan kapan yang lain.

Kualitas seseorang salah satunya ditentukan oleh kemampuan untuk menyeimbangkan segala sesuatu dalam hidupnya. Mengikuti kencangnya laju hidup sambil terus meresapi setiap yang dialami bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan kualitas jiwa yang mumpuni untuk terus memaknai setiap tindakan tanpa tergerus oleh putaran waktu yang semakin lama semakin kencang. Manusia memang seharusnya terus belajar. Dari dari proses pembelajaran yang ia lakukan, kebijaksanaan yang ada pada dirinya akan semakin matang.

Ada nasehat menarik dari Martin E.P Seligman dalam bukunya Authentic Happines. Untuk meningkatkan level kebahagiaan, paling tidak kita bisa melakukan hal-hal berikut : bersyukur, memaafkan dan meloloskan diri dari tirani determinisme demi meningkatkan emosi positif tentang masa lalu; belajar tentang harapan dan optimisme lewat penentangan demi menambah emosi positif tentang masa depan; dan penghentian habituasi, penerapan peresapan serta kecermatan untuk menambah kenikmatan masa sekarang.

Jadi, selamat menikmati hidup!

Labels:

Saturday, February 16, 2008

Suami takut istri

Sebenarnya bukan hanya suami saja yang saya maksud, tapi juga calon suami. Akhirnya yang bisa terjadi juga adalah calon suami takut calon istri.

Menunggu lama akibat delay pesawat memang sangat menyebalkan. Apalagi sampai 3 jam. Waktu menunggunya pun jauh lebih lama daripada perjalanan yang akan ditempuh. Tapi untungnya ada hal menarik yang didapat selama waktu menunggu tersebut.

Gate 6, bandara Juanda waktu itu cukup penuh dengan calon penumpang. Termasuk saya salah satunya. Prosesi kebutan-kebutan sopir taksi yang saya kendarai tadi tampaknya sangat percuma. Toh akhirnya pesawat yang hendak saya naiki delay cukup lama. Di ruang tunggu itulah saya bertemu dengan 2 orang yang se-almamater dengan saya.

Setelah menanyakan kabar dan keperluan masing-masing, maka kami pun bertukar cerita. 2 orang teman baru saya tersebut ternyata satu program studi dulunya, tetapi berbeda jurusan dengan saya. Mereka pun bertukar informasi tentang teman-teman sejurusan mereka. Si anu pindah kerja di sana, si itu sekarang kerja di sono dst dst. Dan akhirnya salah satu dari mereka pun mengutarakan pendapat : " Kayaknya cowok-cowok ********** (menyebutkan jurusan dan almamaternya) tuh atau mungkin semua cowok ** (menyebutkan almamaternya) tuh gak pernah takut sama kerjaan. Gak pernah takut sama atasan. Tapi takut sama 1 hal : istri atau calon istri ". Pendapat itupun diikuti dengan penyebutan sejumlah nama yang pindah atau berusaha pindah kerja dengan alasan ingin lebih dekat dengan domisili istri atau calon istri.

Untuk para lelaki yang satu almamater dengan saya, setujukah anda dengan pendapat itu ? :)

Thursday, February 14, 2008

Human brain & women stuff

Catatan : dalam tulisan berikut terdapat merek-merek yang sengaja disebut untuk menyederhanakan isi tulisan.

Apa yang anda pikirkan saat seorang kasir yang sedang merekapitulasi barang belanjaan anda berkata : "Pampers-nya gak sekalian, Pak?". Padahal saya tidak sedang membutuhkan popok bayi, belum mempunyai bayi dan tidak sedang berinteraksi dengan bayi.

Semuanya bermula saat saya sedang menunggu pesanan makanan saya disiapkan. Jika anda pernah ke Cilegon dan mampir ke rumah makan Asmawi, nah disitulah saat itu saya berada. Anda bisa memesan berbagai macam jenis sate. Mulai dari sate ayam, kambing, bebek, sapi atau cumi. Tak ketinggalan pula berbagai jenis sop yang sangat menggugah selera. Saya merekomedasikan sop iga sapi yang rasanya 'mak nyus'.

Kembali ke cerita pampers. Di sebelah Asmawi terdapat sebuah swalayan berinisial I. Saat menunggu pesanan makanan tersebut, sebuah pesan singkat dari seorang teman masuk : "An nitip KIRANTI (utk yg pas dtg bln) 1. Tq". Dari pesan singkat tersebut dan iklan di televisi, anda pasti tahu apa itu KIRANTI. Setelah celingak-celinguk beberapa saat mencari produk minuman kesehatan khusus wanita tersebut, saya pun menanyakan dimana produk tersebut berada. Ternyata produk tersebut memang terdiri dari beberapa varian. Pantas saja teman saya tadi memberikan penjelasan tambahan tentang varian mana yang harus dibeli. Saat mengantri pun tiba. Saat sedang berbaris di antrian, sebuah pesan singkat masuk : " An, kirantine 2.tq". Saya pun balik kanan maju jalan, mengambil satu botol lagi dan tentu saja harus memulai lagi antrian dari baris paling belakang.

Sesampainya di depan kasir.
Kasir : "Selamat malam Pak. Ada lagi yang diperlukan?"
Saya : "Sudah semuanya"
Kasir : Memeriksa dan menginput harga belanjaan saya (beberapa makanan kecil & pesanan teman saya tadi). "Pampers-nya gak sekalian, Pak?"
Saya : "Hmm". Berpikir sebentar. "Oh nggak. Ini aja." Sambil senyum-senyum. Pasti yang dimaksud pampers bukanlah popok bayi.
Kasir : Menyebutkan sejumlah uang yang harus saya bayar, memasukkan belanjaan. " Terima kasih. Selamat berbelanja kembali."

Hebatnya otak manusia. Tanpa memberikan informasi yang lengkap, kasir swalayan tersebut tahu barang apa yang kemungkinan saya butuhkan untuk 'menemani' produk minuman kesehatan khusus wanita yang saya beli. Mungkin karena kasir tersebut perempuan. Dan saya pun tahu apa yang dimaksud dengan 'pampers'. Anda tahu kan 'pampers' yang dimaksud oleh kasir swalayan tersebut?

Monday, December 17, 2007

Keterdesakan Artifisial vs Resolusi 2008

Beberapa orang mencantumkan kalimat 'be able to work under pressure' di dalam CV ataupun cover letter yang mereka buat. Dengan begitu, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka dapat bekerja dengan baik meskipun dalam kondisi tertekan. Kenapa? Karena berangkat dari pemahaman bahwa performansi seseorang akan berbeda di saat normal dan di saat tertekan. Ada yang performansinya turun, tetapi ada beberapa orang yang justru 'meledak' di bawah kondisi tertekan.

Anda pernah merasa terdesak? Apa bedanya terdesak dengan tertekan? Secara bahasa, 'terdesak' berkata dasar 'desak' sedangkan 'tertekan' mempunyai asal kata 'tekan'. Jika dalam keadaan nyata, kedua keadaan yang digambarkan oleh kata-kata tersebut, memaksa orang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Pernah merasa sakit perut dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan tempat guna melepaskan semua beban yang ada di perut? Nah itu contoh salah satu kondisi terdesak.

Seorang motivator terkenal pernah menyampaikan bahwa dengan kadar keterdesakan yang cukup, seseorang akan mampu mencapai sesuatu melebihi jika ia ada pada keadaan normal. Untuk mencapai sukses seseorang bisa menciptakan sebuah keterdesakan. Ia menyebutnya dengan keterdesakan artifisial.

Keterdesakan artifisial merupakan sebuah keadaan atau lebih tepatnya sebuah pola pikir yang sengaja dibangun dari dalam diri untuk menghasilkan efek yang (kurang lebih) sama dengan efek yang ditimbulkan oleh desakan dari luar diri. Karena keadaan yang diciptakan adalah sebuah keterdesakan maka efek yang diharapkan muncul adalah gerakan. Karena hanya dengan gerakan semua pencapaian dapat diraih.

Itulah mengapa orang menetapkan target-target yang harus dicapai selama hidupnya. Mengingat sebentar lagi penghujung tahun 2007, biasanya banyak orang yang telah ancang-ancang untuk menyusun resolusi 2008. Resolusi bisa jadi berarti ketetapan hati. Menyiapkan niat untuk melakukan banyak hal agar mendapatkan apa yang diinginkan. Kalender mulai dibuka. Evaluasi tahun berjalan dilakukan. Target-target baru disusun. Langkah pencapaian pun ditetapkan. Maka keadaan mendesak pun (mulai) tercipta.

Saya belum pernah meluangkan waktu secara khusus untuk membuat resolusi tahun baru. Jikapun ada yang ingin dicapai di tahun berikutnya, biasanya hanya berupa keinginan-keinginan yang terbersit, tanpa pernah direkapitulasi. Untuk tahun 2008, ada banyak hal yang ingin dicapai. Tapi yang jelas, saya ingin meningkatkan berat badan sampai berat ideal, mengurangi waktu tidur yang sepertinya sudah terlalu banyak dan menambah bacaan yang lebih 'bergizi'. Jika ditanya alasan, maka jawaban saya sangat sederhana : Saya terdesak untuk menjadi orang baik :D.

Tuesday, November 13, 2007

(Blog) Walking !

*frozen by my personal photographer :)

Wednesday, October 10, 2007

Sang Tukang Pukul Tiang Listrik (STPTL)

Bekerja dengan penuh komitmen dan motivasi akan berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Meskipun motivasi seseorang tidak bisa dilihat secara kasat mata, tetapi keberadaannya bisa ditelisik dari sikap dan perilaku orang saat bekerja. Dan keberadaan motivasi yang tinggi inilah, yang membuat seseorang -yang tak bisa saya sebut namanya karena memang saya tidak tahu yang mana orangnya- dengan sepenuh hati dan segenap jiwa, memukulkan batang yang berbahan logam ke tiang listrik di sepanjang jalan depan rumah tinggal saya.

Ceritanya, saya sekarang tinggal di sebuah rumah kost. Saya mendapat kamar paling depan. Ukurannya lumayan luas dibandingkan dengan kamar-kamar yang lain di rumah kost tersebut. Karena letaknya paling depan, ventilasi kamar saya langsung berhubungan dengan udara luar. Meskipun sedikit percuma, karena udara Cilegon agak panas dan lembab.

Idealnya, sebuah kamar, tempat untuk istirahat, yang paling baik adalah yang paling tenang. Dan kamar yang terletak paling depan dan berdekatan dengan jalan adalah kamar yang paling banyak disinggahi polusi suara dari jalanan. Dan hal ini terkait dengan cerita di awal tulisan saya.

Sekarang-sekarang ini sedang berada dalam bulan Ramadhan. Sedikit banyak jam biologis tubuh berubah. Meski tidur sangat larut malam, saya akan 'sedikit' terbangun menjelang saat-saat sahur. Bangun tidur yang baik katanya yang 'tiba-tiba'. Karena, oksigen akan cepat menjalar ke otak dan membuat kita cepat tersadar. Tapi jikalau bangun tidur dan tersadar oleh sebuah suara dua buah logam yang beradu dengan sangat keras, percayalah, rasanya tidak enak.

Modus operandi yang dilakukan sang tukang pukul tiang listrik (STPTL) ini selalu sama. Dan cerita berikutnya adalah hasil rekaan saya melalui bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh STPTL. Mengapa demikian? Karena saya tidak melihat secara langsung 'kejahatan' yang dilakukan oleh STPTL ini.

Sepanjang jalan depan rumah kost saya, STPTL akan menyeret batang logam di atas jalan aspal. Suaranya cukup untuk pemanasan telinga. Beberapa kaki menjelang tiang listrik di depan kost saya, STPTL akan memantapkan langkahnya, memicingkan matanya dan mencari bagian mana dari tiang listrik yang akan menjadi sasaran pukulnya. Beberapa jengkal dari tiang listrik, STPTL akan menegakkan tubuhnya dan menarik nafas panjang. Batang logam digenggamnya dengan erat. Saatnya tiba. Diayunkannya batang logam itu ke udara dengan mantap. Dipukulkannya batang logam itu ke tiang listrik di depannya dengan sekeras-kerasnya. Senyum puas terlukis di sudut bibirnya. Suara logam beradu yang membahana ke seluruh penjuru kampung membuatnya bangga. Seakan-akan ia adalah penguasa kampung itu. Untung ia tidak mengencingi tiang listrik, sebagai tanda bahwa tiang listrik itu telah masuk ke wilayahnya.

Suara keras hasil aksi pukul STPTL terhadap tiang listrik bukan rekaan. Pagi ini, suara tersebut membuat saya terbangun dengan kondisi setengah sadar. Dalam kondisi setengah sadar pula saya mengambil beberapa lembar uang sambil menggerutu dalam hati. Keluar dari rumah, saya menyusuri jalan di belakang STPTL yang sedang menyeret sebuah batang logam -sepertinya linggis-. Saya tidak sempat memperhatikan tampilan bangun tidur saya. Yang jelas saya masih memakai pakaian lengkap dan potongan rambut saya masih pendek. Beberapa meter di belakang STPTL, saya menangkap siluet tubuhnya dengan pandangan yang masih kriyip-kriyip. Tak jelas seperti apa wajahnya memang. Tapi cukup mengobati rasa keingintahuan saya tentang STPTL. Sepertinya hanya seorang warga yang berbaik hati menjaga keamanan lingkungan dengan melakukan ronda. Di ujung jalan ia masih menyeret linggisnya dan berbelok ke kanan. Saya sendiri, yang sudah mulai waras, sesampainya di ujung jalan, berbelok ke kiri, ke arah rumah makan padang. Keputusan saya untuk mengambil sejumlah uang saat bangun tidur terbukti tepat karena berguna untuk membeli makan sahur.

Meski hati masih menggerutu bin dongkol akibat prosesi bangun tidur yang tidak wajar, syukurlah suasana sahur berjalan dengan enak. Bagi anda yang menonton TV saat bersantap sahur, pasti tahu sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Untuk ukuran sinetron, PPT menawarkan jalan cerita yang unik dan 'berisi', ciri khas tayangan-tayangan hasil besutan Deddy Mizwar. Dan tentu saja pemain-pemain PPT memberikan daya tarik tersendiri. Seperti teman kost saya -yang kebetulan mempunyai kamar di bagian depan dan bernasib sama akibat ulah STPTL- yang tak henti-hentinya mengagumi Zaskia Mecca. Meski mengeluh juga akibat ulah STPTL, teman saya itu akan mengacungkan kedua tangannya seraya berdoa ketika Zaskia Mecca muncul di layar kaca. Dan seseorang di antara penghuni rumah kost itu pun menyeletuk : "Sampai lebaran monyet, lo gak bakalan dapet Zaskia (Mecca)".

Wednesday, August 15, 2007

A Cup of Coffee Never Save Me

Notice : Tulisan di bawah ini adalah murni curhatan saya. Maka dari itu mohon dimaklumi atas kesemrawutan tata bahasa, kesalahan penggunaan kata-kata, ketidakjelasan tema, ketidakruntunan penyampaian dan ketidaknyamanan saat dibaca :).

Sebenarnya saya bukan penggila kopi, meski suatu ketika saya pernah sangat suka dengan minuman yang satu ini. Pahit, sangat harum dan sedikit asam. Meminum kopi dapat memacu kerja jantung, meningkatkan debit aliran darah dan ujung-ujungnya mengusir rasa kantuk. Dan untuk saya yang pernah merasakan bangku kuliah, manfaat ketiga itulah yang saya kejar. Meskipun efek yang saya rasakan tidak begitu signifikan, untuk tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Dengan dosis yang wajar, kafein yang terdapat dalam kopi ternyata memberikan efek yang positif bagi kesehatan tubuh. Tapi karena terdapat efek kecanduan yang ditimbulkan oleh kafein dan karena saya mempunyai tingkat denyut jantung di atas rata-rata, maka saya sebisa mungkin menjauhi minuman enak ini. Ditambah dengan efek samping kopi yang memacu produksi asam lambung maka sempurna sudah alasan untuk menghindari konsumsi kopi.

Tapi apa daya. Rekor tak menyentuh kopi selama kurang lebih 1 bulan, pecah juga. Semua bermula dari paham 'work hard, play hard'. Jangan diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia, akan sangat buruk translasi yang dihasilkan. Intinya bermain-main dengan sangat rajin untuk mengimbangi kerja yang sangat keras. Meski kerja tidak terlalu keras yang penting bermain dengan sangat rajin.

Meminjam istilah 'art for art sake' maka 'work for work sake' pun bukan pemikiran yang saya sepakati. Jika anda bekerja untuk orang lain atau di perusahaan maka anda akan tidak akan heran dengan ilustrasi ini. Anda bangun pagi-pagi kemudian menyiapkan perlengkapan untuk bekerja. Mandi, sarapan dan berangkat ke tempat kerja. Seringkali cahaya matahari belum sempat menyentuh muka bumi, anda sudah berlomba dengan ayam untuk mencari kehidupan. Selama di kantor, praktis anda terikat oleh jam kantor. Anda seringkali pulang lebih malam dari jam pulang ayam ke kandangnya. Sampai rumah, buat anda yang telah berkeluarga, maka keluarga adalah tempat yang tepat untuk berbagi kelelahan. Buat yang belum berkeluarga maka tempat tidur bukan tempat yang buruk juga untuk berbagi kelelahan. Jika anda membawa pulang PR dari tempat kerja, maka anda harus menunda berbagi kelelahan. Dan anda pun tidur agar keesokan harinya bisa bangun pagi dan bekerja kembali.

Tak dapat dipungkiri, bahwa hasil dari kerjalah yang menopang kehidupan anda. Tapi anda juga mempunyai kehidupan lain di samping pekerjaan anda. Anda tentu tak akan mau apabila terpaksa menolak ajakan berlibur dari teman anda yang sudah lama tak bertemu karena anda harus menyelesaikan pekerjaan anda. Dan itu adalah hari minggu. Kecuali memang ada pertimbangan lain yang membuat anda harus bekerja saat hari libur. Idealnya adalah bekerja dengan profesional tanpa meninggalkan kehidupan pribadi anda.

"Work hard, play hard" menawarkan suatu konsep keseimbangan antara bekerja dengan bermain atau bersenang-senang. Kedua-duanya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius. Bukan hanya bekerja saja yang membutuhkan keseriusan tetapi bersenang-senang juga. Tentu saja pengertian bersenang-senang disini akan berbeda untuk masing-masing pribadi. Ada yang mengartikulasikan bersenang-senang dengan tidur, pergi ke tempat wisata, melamun, bernyanyi, membaca buku sampai mengikuti pengajian. Jika bekerja merupakan cara anda untuk mengaktualisasikan diri dan memperoleh pemasukan, maka bermain adalah jalan untuk mengaktualisasikan diri juga tetapi memperbesar pengeluaran. Anda bisa memilih jenis kegiatan bermain atau bersenang-senang sesuai dengan seberapa besar pemasukan, gaya hidup dan yang tak kalah penting : masa depan yang anda cita-citakan.

Bagi saya, berjalan-jalan merupakan satu pilihan untuk bermain. Entah itu berjalan-jalan menggunakan dua kaki sendiri ataupun menumpang kaki-kaki kendaraan. Dan bagi saya perjalanan itu sendiri yang menjadi keseruan tersendiri melebihi keasyikan saat sampai di tempat tujuan. Tentu saja ada konsekuensi dari melakukan perjalanan yaitu keletihan badan.

Alkisah, setelah melakukan perjalanan, saya sampai di kota tempat saya bekerja dini hari menjelang pagi. Kali pertama, saya tiba dini hari karena berangkat dari kota tempat saya berjalan-jalan memang telah cukup larut malam. Kali kedua, saya tiba menjelang pagi karena saya baru terbangun di terminal pelabuhan Merak. Alhasil saya harus menumpang 1 angkutan umum lagi untuk menuju rumah. Dan kedua-duanya ada di hari Senin. Hari dimana banyak orang yang bekerja seperti saya ini sangat menyukainya. Di tempat saya bekerja, hari Senin adalah hari dimana rencana seminggu ke depan dibuat dan dibahas dalam rapat. Tentu bisa dibayangkan : pasokan tidur yang kurang, keletihan badan dipadu dengan pekerjaan yang cukup padat dan harus mengikuti rapat. Hasilnya adalah manusia dengan tiga perempat kantuk mengisi kepalanya.

Senin pertama, saya berhasil melewatinya dengan setengah selamat. Persiapan planning seminggu ke depan selesai dan saya berhasil untuk tetap terjaga sampai rapat selesai. Tapi tetap saja rasa kantuk membombardir tanpa ampun. Senin kedua, saya meminta mas office boy membuatkan secangkir kopi. Kopi hasil racikannya: kopi hitam pekat, sangat manis tapi bukan espresso. Efeknya langsung terasa meski tidak lama. Pekerjaan lebih cepat selesai tapi hasilnya pertahanan saya terhadap kantuk nyaris punah setelah makan siang. Saat rapatpun saya curi-curi istirahat. A cup of coffee couldn't save me that day. Dan naasnya, hari ini adalah hari ketiga saya memulai hari dengan secangkir kopi. Gara-gara tak tahan godaan mas office boy: "Mau dibuatin kopi Pak?".Halah.

Thanks to:

-Semua manusia yang telah bersedia menemaniku (dan mentraktir) jalan-jalan dalam 2 minggu terakhir : sahabat-sahabatku, sopir bus beserta kru termasuk bus kota, sopir angkot terutama angkot dari pelabuhan Merak, sopir dan kru busway, penjual koran, mas-mas penjaga tempat penitipan sepatu, pengelola tempat wisata, penjual es Goyobod dan dodol, penjual gado-gado dekat masjid Bulak Rantai, orang-orang yang baik rela atau tidak telah menjadi obyek foto saya dan menjadikan saya sebagai obyek foto. Orang-orang lain yang tidak berhasil saya ingat, yang telah membantu acara jalan-jalan saya.

-Mas Ajat, sang office boy, penyuplai teh sangat manis, kopi sangat pekat, coca-cola sangat dingin, pengharum ruangan sangat wangi.

Friday, August 10, 2007

Potret Mbah

Ia membuat saya sangat jengkel ketika pertama kali masuk kantor. Intonasi suaranya keras, medekati kasar malah. Postur badannya tidak terlalu tinggi tetapi kekar. Sorot matanya tajam, bahkan mirip orang yang senantiasa melotot sepanjang waktu. Sorot matanya yang tajam itu dibingkai dengan kacamata berlensa oval. Kumisnya tebal. Sangat cocok jika ia memakai baju loreng merah putih, celana tigaperempat dan celurit di balik pinggang. Meski saya tahu setelahnya ia bukan orang Madura, tetapi orang Jawa.

Kami memanggilnya Mbah. Pertama kali saya ada di kantor, saya memanggilnya Pak Sri. Saya tak tahu pasti darimana sebutan Mbah berasal. Mungkin saja karena ia adalah salah satu karyawan sejak perusahaan tempat saya bekerja pertama kali berdiri. Di saat dulu dimana sekitar pabrik masih berupa rawa-rawa, bisa dikatakan Mbah ikut 'mbabat suket' alias memotongi rumput (tentu saja dalam arti kiasan).

Sampai sekarang bicaranya tak begitu enak didengar. Bukan masalah isi bicaranya, tapi masalah penyampaiannya. Tetapi sekali bercerita, kadang bicaranya enak didengar juga.

Suatu sore, sembari menunggu pulang, Mbah bercerita tentang banyak hal. Mulai pengalamannya melihat 'penampakan' saat awal-awal bekerja di perusahaan hingga cerita 'ospek' yang dialaminya dulu. Bagaimana dengan keberaniannya ia berkeliling pabrik saat yang lainnya gentar meski hanya sampai bagian tengah pabrik karena hari telah malam. Bagaimana ia dulu adalah seorang operator mesin pembuat pipa baja hingga menjadi tetua di mesin tersebut. Tentang pengajuan pensiun dini yang Mbah ajukan beberapa tahun silam tetapi ditolak oleh bos-bosnya karena masih sangat dibutuhkan. Tentang prinsip kerjanya yang sangat sederhana : Mau ditempatkan dimana saja saya mau.

Mbah seseorang yang dipercayai oleh banyak orang. Sesuatu yang paling mudah terlihat adalah tentang uang. Mbah mungkin orang di kantor yang paling sering ke bank. Meski sering mengecek rekening pribadi, ia lebih sering melakukan transaksi titipan orang. Entah itu penarikan uang, setor atau hanya cek rekening. Mungkin mbah seperti kasir bank keliling. Meski tentu saja tak ada kasir yang bermuka gahar nan menakutkan:).

Melihatnya bekerja saya teringat Joni dalam film Janji Joni yang diperankan Nicholas Saputra. Tentu saja bukan faktor kemiripan wajah tetapi tampilan kerjanya. Pekerjaan Mbah adalah memastikan tersedianya bahan baku pipa baja sesuai proyek yang ada. Mbah memakai tas selempang besar berisi buku berukuran folio (bukan berisi rol film). Mengenakan pakaian setelan jeans dan sepatu boot. Ia berkendara memakai motor untuk bertemu dengan orang yang bertanggungjawab atas produksi rol baja di perusahaan induk (bukan memastikan rol film sampai tepat waktu). Meskipun menerima laporan berkala tentang produksi bahan baku yang dipesan, mbah tetap mengecek langsung terutama untuk proyek-proyek yang kritis. Ia akan mengejar rol baja sampai ke ujung dunia untuk memastikan tersedianya pasokan bahan baku.

Usianya 51 tahun sekarang. Ia telah bekerja di perusahaan lebih dari 30 tahun. Dan 4 tahun lagi Mbah dijadwalkan pensiun. Baru beberapa waktu yang lalu, beliau dipindahkan ke bagian lain. Dan sekarang masih dalam masa transisi tugas lama ke tugas yang baru. Melihatnya bekerja, seperti melihat sebuah potret perjuangan manusia yang digariskan tak ada yang persis satu sama lain. Dan bukankah kita juga sedang membuat potret untuk dilihat kelak di kemudian hari?

Friday, July 20, 2007

Panggil Aku Aulia (Saja) !

Nama panggilan diciptakan untuk memudahkan orang untuk menyebut nama. Entah itu diberikan oleh orang tua, diri sendiri ataupun orang lain. Anda mungkin pernah mengenal seseorang yang mempunyai hobi membuat nama panggilan yang sepintas seperti seenaknya sendiri. Jadi jangan heran kalau anda mendengar seorang manusia yang dipanggil dengan sebutan 'kroto' (bhs Jawa = semut rangrang kecil), seorang cowok bernama panggilan 'Yuti', nama 'Luqman' menjadi 'Lukboy' dengan analogi Superman yang dulu waktu kecil dipanggil 'Superboy' atau nama panggilan aneh bin ajaib : Tarsonson. Saya tidak akan membahas orang itu.

Nama panggilan saya sejak kecil adalah 'aan'. Entah darimana kata aan itu berasal. Tapi yang jelas itu pemberian orang tua saya. Orang tua saya biasa memanggil dengan nama panggilan 'aan' atau 'dik' atau 'mas' atau 'le'.

Waktu TK, praktis yang ada hanya 'aan'. Nama lengkap saya hanya terpajang indah pada akte kelahiran. Waktu SD saya bisa sedikit berbangga karena nama lengkap saya terpampang di badge nama seragam. Meski nama aan masih tetap saja berlalu-lalang setiap harinya. Waktu SMP, mulai ada satu dua orang yang memaksa memanggil selain nama panggilan resmi. Maka panggilan berbunyi 'al', 'ul' bahkan 'lia' sering terdengar. Saat SMA, 'aan' masih menjadi nama panggilan resmi saya dan hanya guru saya yang memanggil 'aulia'. Waktu kuliah, nama 'aulia' muncul saat dosen membaca absensi kuliah dan tentu saja saat wisuda.

Waktu pertama kali kerja, saya mempunyai niat agar dipanggil dengan nama 'aulia'. Alasannya sangat sederhana : agar tidak ada yang berpikir bahwa Aan dan Aulia itu 2 orang yang berbeda. Maka saya memperkenalkan diri sebagai Aulia. Meski sudah terlanjur menyebut diri sebagai 'aan' kepada teman-teman yang diterima kerja bersamaan, berikutnya saya selalu menyebut nama Aulia saat mengulurkan tangan dan berkenalan dengan orang lain. Lalu hari-hari dengan nama panggilan Aulia dimulai.

Selang beberapa lama, ada beberapa orang kantor yang mulai bertanya : nama panggilanmu siapa sih? Dengan berat hati maka nama 'aan' pun keluar kembali. Maka teman kerja saya memanggil : 'aan' atau 'ul'. Bos saya kadang menyebut 'aan', kadang 'aulia'. Saat rapat nama 'aulia' yang eksis. Bosnya bosnya bosnya bos saya memanggil saya dengan tambahan kata 'pak' menjadi Pak Aulia. Dan terakhir ibu kos saya memanggil dengan sebutan 'nak'. Tentu saja untuk semua anak kost yang tinggal di rumahnya :).