Saturday, December 16, 2006

Media

Don't wanna be an American idiot.
Don't want a nation under the NEW media.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind f**k America

Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Well maybe I'm the faggot AMERICA
I'm not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue.

Don't wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It's calling out to idiot America.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alien nation.
Where Everything isn't meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We're not the ones who're meant to follow.
For that's enough to argue

American Idiot by Green Day


Berawal dari keisengan membuka sebuah website televisi. Di situs itu terpampang pengumuman rekruitmen karyawan baru yang bertitel Broadcaster Development Program (BDP). Selidik punya selidik ada kalimat di situs itu : Kami informasikan kepada anda, untuk rekruitmen tetap dibuka sampai dengan tanggal 15 December 2006. Ha, itu berarti 15 menit yang lalu. Mungkin memang belum saatnya :).

Stasiun TV dan media pada umumnya, memberikan saya ketertarikan tersendiri. Apa alasannya, mungkin biar saya simpan sendiri:). Yang jelas, media seperti halnya ladang bisnis lainnya merupakan salah satu impian orang untuk bekerja atau berkarir. Pun saya, meski media bukan satu-satunya.

Seperti sudah sifatnya, media selalu dekat dengan kekuasaan. Media yang saya maksud disini adalah media yang hidupnya berkesinambungan dan mapan. Dulu ketika Departemen Penerangan -almarhum ayah saya kerja di departemen ini- masih ada, segala berita disaring oleh Departemen ini. Hingga tiap berita yang menyangkut pemerintah adalah berita yang 'baik'. Bukan hanya berita di TV tapi juga di koran dan majalah. Intinya media waktu itu dikuasai oleh pemerintah.

Meminjam kata-kata Noam Chomsky:
In a totalitarian state, it doesn't matter what people think, since the government can control people by force using a bludgeon. But when you can't control people by force, you have to control what people think, and the standard way to do this is via propaganda (manufacture of consent, creation of necessary illusions), marginalizing the general public or reducing them to apathy of some fashion.

Dari pernyataan Chomsky tersebut, jelas bahwa media adalah salah satu alat kekuasaan. Menilik kembali ke negeri kita tercinta, Indonesia. Jelas sekarang Departeman Penerangan sudah tidak ada, yang ada hanya Komisi Penyiaran. Itupun tugasnya bukan mengarahkan media tapi hanya mengawasi. Sampai disini mungkin media bukan lagi menjadi alat kekuasaan pemerintah kita. Tapi mungkin saja media masih menjadi alat kekuasaan Negara, hanya kita -terutama saya- tidak merasakannya. Meski demikian, kembali ke sifat media. Ia adalah alat kekuasaan. Siapa yang berkuasa dan menguasainya, itu yang sering tidak diketahui.

Saya tidak akan membahas jaringan konspirasi global atau dunia. Lagipula saya tidak punya cukup pengetahuan tentang itu ;). Saya akan coba bahas dari yang saya ketahui. Media baik cetak maupun elektronik membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk tetap hidup. Saya pernah mendapat sebuah data -tapi lupa darimana asalnya dan kapan- tentang biaya operasional sebuah stasiun TV. Katanya, setiap harinya menghabiskan tak kurang dari 1 M untuk biaya operasional. Secara logika, untuk tetap hidup, pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran, minimal sama. Untuk itu pastinya, pemasukan yang berasal entah berasal dari iklan atau sumber lainnya, tak kalah besar dari biaya operasionalnya. Sampai disini, kita melihat media sebagai salah satu bisnis, tak ubahnya dengan perusahaan-perusahaan profit lainnya. Dan mungkin itu adalah sejatinya media.

Karena membutuhkan dana yang tak sedikit untuk tetap hidup, maka media akan dekat dengan sang empunya sumber dana (logis kan??). Dan karena ia bergantung dengan sang empunya dana, maka sang empunya dana ini bisa mengendalikan media (logis lagi kan??). Karena itu media tergantung dengan yang menguasainya. Jika yang menguasai pemerintah yang 'buruk', maka media akan digunakan untuk menutupi keburukan dan membalikkan pikiran masyarakat, hingga memandang sesuatu yang 'buruk' menjadi sesuatu yang baik dan bahkan mendukungnya. Jika sang penguasa adalah pemilik modal yang tamak, maka media tak ubahnya menjadi sapi perah untuk memenuhi pundi-pundi emasnya. Tak peduli seburuk apapun kualitas berita dan tontonan yang disajikan, asalkan itu laku tak jadi masalah. Jika penguasa media adalah seorang yang 'jahat' maka ia akan menyebarkan pikiran-pikiran jahatnya. Begitu juga sebaliknya. Jika yang menguasai media adalah orang yang baik, maka ia akan menyebarkan kebaikannya. Jadi tinggal siapa yang kuat.

Jadi jika anda adalah orang yang baik, maka anda juga harus menjadi orang yang kuat --kayak gak nyambung:D

Wallahu a'lam.

No comments: