Thursday, October 12, 2006

Mudik

Konon katanya, tradisi mudik hanya ada di Indonesia dan tidak di belahan bumi yang lain. Tradisi yang berawal dari semacam keharusan dan kebutuhan akan silaturahmi bersama sanak saudara di Hari Raya.

Tahun ini, insya Allah akan menjadi mudik saya kali ke tujuh. Semoga menjadi mudik yang menyenangkan :).

Mudik pertama, waktu itu masih kelas 1 SMA. Sekolah di luar kota, di sebuah tempat antah berantah. Seingat saya waktu itu libur puasa dan lebaran lumayan panjang. Jadi mudik pun dilakukan jauh-jauh hari sebelum Hari Raya. Karena setelah liburan akan ada ulangan umum catur wulan 2, maka tas ransel saya penuh dengan buku-buku pelajaran. Tapi apa hendak di kata, liburan pun diisi tanpa sedikit pun menyentuh buku-buku itu. Karena berkumpul dengan keluarga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bercengkerama atau sekedar bermain-main. Maklum waktu itu masih kecil. Karena mudik pertama kali, tentu saja ada pengalaman baru yang dirasakan. Mulai dari mencari tiket jauh-jauh hari sebelum berangkat, pembagian tempat duduk dengan teman-teman lain yang mudik pula (waktu itu ada 4 orang yang arah mudiknya sama) sampai pengalaman duduk minimal 10 jam sebelum akhirnya sampai di kampung halaman. Yang dilakukan selama ada di kampung halaman? Biasa saja. Membantu ibu menyiapkan kue-kue lebaran dan berjalan-jalan dengan teman-teman yang saya tinggal di kampung halaman.

Mudik kedua, waktu itu sudah ada di kelas 3. Kelas 3 masih di catur wulan pertama. Tak seperti mudik pertama, kali ini tanpa membawa bekal buku pelajaran sama sekali. Berkat pengalaman belajar 1 tahun lebih, ulangan umum tidak perlu dipersiapkan jauh-jauh hari. Cukup menyediakan otak yang sanggup begadang, secangkir kopi, dan kaki yang sewaktu-waktu siap untuk diajak melangkah ke kamar sebelah sekedar basa basi atau menanyakan hal-hal yang tidak mengerti. Memang bukan cara belajar yang baik. Waktu SMA itu, saya memang tinggal di asrama. Prosedur mudik masih sama dengan mudik pertama. Beli tiket jauh-jauh hari, kemudian tinggal menyiapkan fisik untuk menempuh perjalanan panjang. Yang dilakukan di kampung halaman? Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Membantu ibu membuat kue kering, kacang asin atau jajanan lain khas lebaran.

Mudik ketiga. Saya sudah menjadi mahasiswa ITB. Saat mudik adalah saat-saat yang saya tunggu setelah berkutat dengan kuliah dan tentu saja ospek yang 'menyehatkan'. Jika mudik 1 dan 2 saya berangkat dari pool bus Cibitung, mudik ke 3 ini saya berangkat dari terminal Cicaheum. Karena sudah mulai terbiasa dengan perjalanan panjang, maka duduk berlama-lama di dalam bus pun sudah menjadi hal yang biasa. Karena baru menjadi mahasiswa ITB, tentu saja yang mendominasi pembicaran selama di kampung halaman adalah tentang kuliah di ITB dan seterusnya. Tapi tetap saja, meskipun sudah menjadi mahasiswa, peran sebagai asisten masak + tester pembuatan kue-kue lebaran tetap saja berlanjut. Ada yang aneh ketika mudik waktu itu. Saat saya banyak bercerita tentang kuliah di ITB, teman-teman seangkatan saya masih duduk di kelas 3 SMA. Hiks.

Mudik keempat. Saya ada di tingkat 2, semester 3. Setelah sempat trauma dengan praktikum di Lab Logam yang sampai memakan waktu tarawih, saat mudik adalah saat-saat yang membahagiakan. Benar-benar sangat membahagiakan. Sama seperti mudik ketiga, saya berangkat dari Cicaheum dan kalau tidak salah waktu itu mudik sendirian. Cerita selama liburan lebaran di kampung halaman, saya sudah lupa.

Mudik kelima. Tentu saja sudah ada di tingkat 3 Teknik Industri ITB dengan Praktikum Perancangan Teknik Industri sebagai tema besarnya. Saat akan berangkat menempuh perjalanan, menerima sebuah kabar meninggalnya seseorang akibat kecelakaan. Semoga amal beliau diterima di sisi Nya. Waktu itu kalau tidak salah mudik bareng Mas Trian. Mas Trian yang memaksa kru bus untuk mematikan tv karena video klip yang ditampilkan kurang 'sopan'. Ndengerin suara aja cukup lah mas, gak usah pake gambar. Hehe. Lumayan lah, ada teman mengobrol sepanjang perjalanan, ada teman yang mengingatkan untuk jangan lupa tilawah meski di perjalanan, ada teman yang sama-sama makan pisang sebagai makanan sahur :).

Mudik keenam. Saya meninggalkan Mas Trian di Bandung untuk menyelesaikan template pabrik tugas Perancangan Tata Letak Pabrik. Waktu mudik sangat dekat sekali dengan lebaran, karena hari terakhir kuliah masih harus menjadi asisten sebuah praktikum. Mudik kali itu terasa lucu. Kisah selengkapnya ada di sini.

Mudik ke tujuh. Belum saya jalani. Insya Allah pulang beberapa hari lagi, setelah kemarin akhirnya mendapatkan tiket pulang juga. Kenapa sih tiket kendaraan sekitar Hari Raya selalu naik. Ngabisin duit aja :(. Dan waktu mudik kali ini pun sangat dekat dengan Lebaran, karena (lagi-lagi) masih menjadi asisten di 'sebuah praktikum' itu.

Mudik menjadi salah satu jalan kita untuk bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang dalam keseharian jauh dengan kita. Memang tak hanya dengan mudik kita bersilaturahmi. Tapi paling tidak dengan mudik, kita bisa lebih lepas menumpahkan kerinduan kepada keluarga kita terutama ayah ibu kita. Buat yang akan mudik, selamat mudik. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga:). Buat yang tidak mudik karena masih ada sesuatu yang menahan dia untuk tetap tinggal, semoga segala urusannya dimudahkan. Buat yang tidak mudik karena memang keluarganya ada di kota yang sama bahkan tinggal seatap, nikmati saja kebersamaan bersama keluarga.

1 comment:

Anonymous said...

wah aan mudik...., kayanya bakal kamu dulu yg mudik an. pesen : sambel pecel :)

kebiasaan tidur sepanjang perjalanan masih an? :D